Laporkan Masalah

PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PEMETAAN ZONA NILAI TANAH KECAMATAN KLATEN SELATAN TAHUN 2013

BETANIA PUTRI A S, Bowo Susilo S.Si, M.T

2014 | Tugas Akhir | D3 PENGINDERAAN JAUH DAN SIG

Kecamatan Klaten Selatan Kabupaten Klaten merupakan daerah kajian dalam penelitian ini. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah memetakan zona nilai tanah berdasarkan pada harga pasar dengan menggunakan data penginderaan jauh berupa citra Quickbird dan sistem informasi geografis serta mengaplikasikan pemetaan zona nilai tanah dengan menggunakan aplikasi Zona Nilai Tanah yang dibuat oleh BPN. Citra Quickbird digunakan untuk penentuan penggunaan tanah yang nantinya akan digunakan sebagai zona dalam perhitungan zona nilai tanah. Peta zona nilai tanah dibuat dengan menyajikan informasi berupa zona-zona yang mewakili nilai tanah tertentu berdasarkan pada harga tanah dipasaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode berbasis sistem informasi geografis: computer assisted mass appraisal (CAMA) yang dilalukan dengan menggabungkan data harga tanah penjualan atau penawaran tanah menjadi titik sampel dan dengan lokasi dimana tanah tersebut terletak, sehingga dapat dikelompokan mana saja harga tanah yang memiliki nilai sama. Metode ini juga memperhitungkan homogenitas dari data sampel harga tanah dimana harga tanah yang memiliki nilai sama atau mendekati nilainya dikelompokan menjadi satu zona. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kecamatan Klaten Selatan zona nilai tanah tahun 2013 terdapat 38 zona dimana 12 zona pertanian dan 26 zona non pertanian. Harga tanah terendah pada zona pertanian terletak di Desa Danguran dengan harga Rp 57.000/m² digunakan sebagai lahan pertanian tanaman pangan dan letaknya yang cukup jauh dengan pusat kota. Sedangkan harga tertinggi berada di Desa Merbung dengan harga Rp 847.000/m² terletak didekat pusat kota dan mempunyai akses jalan yang mudah. Harga zona non pertanian paling rendah berada di Desa Karanglo dengan harga Rp 176.000/m² dengan penggunaan lahan permukiman dan pekarangan. Sedangkan harga tertinggi berada di Desa Tegalyoso dengan harga 1.656.000/m² yang berada di kawasan pemerintahan. Pusat kota akan mempunyai harga tanah yang lebih tinggi dibandingkan kawasan pinggiran kota karena pada pusat kota terdapat fasilitas umum yang lebih lengkap sedangkan pada pinggiran kota masih didominasi lahan persawahan.

Subdistrict Klaten Selatan district of Klaten is an area of study in this research. The purpose of this study is to map the zone of land value based on market prices by using remote sensing data such as Quickbird imagery and geographic information system mapping, and apply the value of the land zones using the application "Zona Nilai Tanah" created by BPN. Quickbird image used for the determination of land use that will be used as a zone in the calculation of land value zone. Maps zone land value created by presenting information in the form of zones that represent a particular land value based on the market price of land. The method used in this research is a method based geographic information systems: computer assisted mass appraisal (CAMA) which is passed by combining land price data into a land sale or supply of sample points and the locations where the land is located, so it can be classified anywhere land prices have the same value. This method also takes into account the homogeneity of the sample data of land prices where the price of land has a value equal or close to the value grouped into one zone. The results showed that the District of Klaten Selatan zone land values in 2013 there were 38 zone, 12 zone where agricultural and non-agricultural zone 26. The lowest land prices in the agricultural zone is located in the village of Danguran at Rp 57,000/m² is used as a food crop farms and the location is quite far to the city center. While the highest price in the village Merbung Rp 847,000/m² is located near the city center and has easy road access. Prices of non-agricultural zones are lowest in the village Karanglo Rp 176,000/m² with land use residential and yard. While the highest price was in the village at a price int the village Tegalyoso Rp 1.656.000/m² which is in the area of governance. The town center will have higher land prices than the surrounding suburbs because the city center there is a more complete public facilities on the outskirts of the city while still dominated by paddy fields.

Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografi, Standar deviasi, Zona Nilai Tanah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.