Denpasar City Cineplex sebagai Sarana Hiburan Film di Kota Denpasar dengan Pendekatan Prinsip Arsitektur Tradisional Bali
I PUTU FERDY WIRANA, Ir. Jatmika Adi Suryabrata, M.Sc., Ph.D
2014 | Skripsi | ARSITEKTURFilm merupakan salah satu media hiburan dalam mengusir kebosanan warga kota. Tidak diragukan lagi menonton film adalah alternatif hiburan yang menarik untuk melepas kebosanan dari bekerja rutin yang dilakukan setiap hari oleh warga kota. Film dapat mempengaruhi emosi penonton, sehingga mereka dapat merasa senang, marah, sedih, maupun tertawa terbahak-bahak. Banyak jenis film yang dapat dinikmati oleh para penonton sesuai dengan keadaan emosinya masing-masing. Dari jenis film drama, komedi, action, maupun horror. Semua merupakan media hiburan dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Salah satu sarana memnton film adalah bioskop. Bioskop merupakan salah satu media yang memiliki sarana yang lengkap untuk menonton film baik luar negeri maupun dalam negeri. Bioskop menyajikan film dengan menggunakan layar yang besar seperti layar tancap pada jaman dulu. Bedanya, bioskop telah diakomodasi dengan fasilitas yang nyaman dan canggih untuk para penikmat film. Film yang dipertontonkan di bioskop juga lebih berkualitas dengan visual efek yang canggih. Denpasar yang merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki 788.589 tidak diakomodasi satupun oleh fasilitas menonton film seperti bioskop. Padahal untuk warga Denpasar sendiri, bioskop merupakan salah satu gaya hidup baik bagi anak muda maupun orang dewasa. Oleh karena itulah dibutuhkan adanya bioskop baru di kota Denpasar yang berkualitas, mudah dijangkau dan mampu menampung kebutuhan warga kota Denpasar dalam menonton film. Menurut pakar arsitektur, Putu Rumawan, aplikasi prinsip arsitektur tradisional bali pada bangunan usaha di Denpasar semakin minim. Sehingga mengabaikan gerakan �Ajeg Bali� untuk keselarasan arsitektur di Denpasar. Oleh karena itulah bioskop yang termasuk dalam bangunan fungsi usaha seharusnya menganut prinsip arsitektur tradisional Bali.
Movie is a medium of entertainment for getting rid citezens' boredom. There is no doubt that watching movies is a preferable alternative form of entertainment for the townspeople to get rid boredom accumulated from daily routine work. The movie may affect the audience emotionally, making them feel happy, angry, sad, or laughing out loud. There are many types of movies that can be enjoyed to suit each one's current mood, for example drama, comedy, action, and horror. All of them can satisfy different individual mood or needs. One way to watch movie is by going to the cinema. Cinema is a space equipped with complete utilities to watch movies from foreign country or local. Cinema presents movies by using a large screen earlier times. Nowadays, cinema has been accommodated with comfortable amenities and sophisticated utilities for the audience of the movie. The movie shown in cinemas have high quality and sophisticated visual effects. Denpasar, one of Indonesia's cities, which has a population of 788.589 is not well-accommodated by any facility to watch movies like cinema. Yet to Denpasar's own citizens, cinema is one of most preferred lifestyle for both young people and adults alike. Therefore a new movie theater in the city of Denpasar is needed that is easily accessible and able to accommodate the needs of the citizens of Denpasar in watching movies. According to experts of architecture, Putu Rumawan, the application of traditional Balinese architectural principles in building is getting rarer and rarer, ignoring the movement of "Ajeg Bali" for architectural harmony in Denpasar. That is why a cinema, which is a building for business function, should adhere to the principle of traditional Balinese architecture.
Kata Kunci : Arsitektur, Bioskop, Cineplex, Bali, Denpasar, Arsitektur Tradisional Bali