KOMODIFIKASI KESENIAN TRADISIONAL WAYANG KULIT PURWA (STUDI tentang Wayang Dugem Kelompok Wayang Dugem Padhepokan Seni Yati Pesek )
ISMOYO HARTADI, dr suharko
2014 | Skripsi | SosiologiPenelitian skripsi ini dimaksudkan untuk menganalisis bagaimana komodifikasi yang dilakukan oleh kelompok wayang dugem dalam merubah kesenian tradisional wayang kulit purwa menjadi kesenian wayang dugem Unsur unsur apa saja yang dimasukkan kedalam kesenian wayang dugem koma perubahan apa yang terjadi dan bagaimana bentuk dari seni pertunjukan yang telah dikomodifikasi serta bagaimana tanggapan dari pasar terhadap kesenian tersebut Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan hasil penelitian yang dideskripksikan melalui narasi untuk menjawab yang menjadi rumusan masalah penelitian yakni dua Bagaimana Komodifikasi Kesenian Wayang Kulit Purwa yang dilakukan oleh kelompok wayang dugem dan bagaimana Hasil dari Komodifikasi Wayang Kulit Purwa Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori komodifikasi karl marx dan dikolaborasikan dengan strategi seni pertunjukan modern Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut adalah bahwa kesenian wayang kulit purwa tradisional ditarik dari fungsinya sebagai media yang memuat tuntunan koma tatanan dan tontonan bergeser menjadi sebuah tontonan atau hiburan Kelompok wayang dugem memasukkan unsur hubung unsur budaya populer dalam bentuk musik pop dan menambahkan unsur unsur musik asing yakni musik jazz dan musik rock Hal tersebut dilakukan untuk menaikkan harga jual wayang kulit purwa sebagai sebuah komoditas yang di perjual belikan di pasar kemudian kelompok wayang dugem mendapatkan imbalan berupa keuntungan Komodifikasi juga merubah bentuk dari seni pertunjukan wayang dugem menjadi kesenian wayang kulit modern yang berorientasi pada pasar berdasar pada keinginan konsumen Wayang dugem sengaja dimunculkan sebagai bentuk kesenian wayang kontemporer khusus untuk generasi muda golongan ekonomi menengah keatas akan tetapi pada akhirnya kesenian wayang dugem tidak laku dipasaran hal ini disebabkan oleh dari pengermanya datang dari golongan tua koma sementara golongan tua tersebut kurang menyukai bentuk kesenian yang terlampau jauh melenceng dari seni wayang pada umumnya selain itu faktor lainnya adalah titik dua menurunnya kreativitas seniman wayang dugem dan terjebak ke dalam bentuk kesenian membosankan dan tidak diterimanya bentuk kesenian wayang dugem di wilayah yogyakarta
This thesis research is intended to analyze how the commodification carried out by a group of wayang dugem in changing the traditional wayang art wayang arts purwa into dugem. What elements are incorporated into the art of wayang dugem, change what happened and how the forms of the performing arts that have been commodified, and how the response of the market to the art. This research is a descriptive qualitative research, the research results dideskripksikan through the narrative to answer the problem formulation research: how the commodification of art wayang kulit purwa prototype made by a group wayang dugem and how the results of the commodification puppet prototype. Theory is used to analyze the commodification theory karl marx and collaborated with modern performing arts strategy. Results obtained from the research is that the traditional art of wayang kulit purwa withdrawn from its function as a medium which contains guidance, structure and spectacle shifted into a spectacle or entertainment. Dugem wayang group incorporated elements of popular culture in the form of pop music, and adding foreign musical elements namely jazz and rock music. This is done to increase the selling price as a prototype wayang kulit purwa in perjual commodity traded in the market, then the wayang group dugem get rewarded in the form of profits. Commodification also change the shape of the art of puppet show wayang kulit dugem into the modern art market-oriented, based on consumer desires. Wayang dugem deliberately raised as a form of contemporary art of Wayang Dugem specifically for the younger generation of Middle and upper class, but in the end the art of wayang dugem is not sold in the market, it is because of the his fandom comes from the old group, while the elderly are less like art form too strayed far from wayang art in general. In addition, other factors are: the declining creativity dugem wayang artist, and stuck to the boring art form, and the non-acceptance of dugem wayang art form in the region of Yogyakarta.
Kata Kunci : Komodifikasi, Seni Pertunjukan, Wayang Kulit purwa, Wayang Dugem