Sekolah Dasar Inklusi Islam di Plosokuning
MAYA MEIDITTA FRIDAYANTI, Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D.
2014 | Skripsi | ARSITEKTURDifabilitas harusnya bukan menjadi alasan setiap manusia untuk tidak melaksanakan ibadahnya terhadap Tuhan. Sama halnya dengan hak untuk memperoleh pendidikan. Berangkat dari pengalaman saya ketika KKN, salah satu dari murid TPA saya adalah anak autis. Berbeda dengan teman-temannya yang non-difabel, ia selalu mengaji dengan serius dan berusaha mengikuti materi yang diajarkan. Lalu kemudian, muncul satu pertanyaan, kemana teman-teman difabel yang memiliki niat sebesar ini untuk mempelajari agamanya sendiri, padahal fasilitas umum untuk difabel saja di Indonesia masih jarang dan tidak layak? Diantara sekolah umum dan sekolah luar biasa, terdapat sekolah luar inklusi, dimana sekolah tersebut memberikan kesempatan untuk difabel maupun non-difabel saling mengenal dan berinteraksi sejak kecil. Berbeda dengan sekolah luar biasa, sekolah inklusi menawarkan pembelajaran EQ (sosial) sejak dini seperti tenggang rasa, kepekaan untuk saling membantu, menghargai perbedaan untuk kedua pihak. Namun sekolah tersebut tentu tidak lengkap apabila tidak diimbangi dengan poin SQ (kebutuhan beragama) dan IQ (kebutuhan pendidikan) yang diintegrasikan dengan tepat. Ketika ketiga poin ini mampu dipenuhi secara layak, maka pada setiap insan yang dididik akan menjadi persona yang hebat. Plosokuning dipilih sebagai lokasi site karena Plosokuning yang merupakan satu dari empat Pathok Negoro, perwakilan dari kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan, khususnya dalam pendidikan agama Islam. Dengan adanya sekolah dasar inklusi islam di Plosokuning akan membuat branding baru pada kawasan Plosokuning, sebagai pembeda dengan area Pathok Negara lainnya. Diharapkan, Plosokuning pada akhirnya akan dikenal sebagai 'Tempat Pendidikan Agama Islam secara Universal', sehingga Plosokuning akan menjadi opsi ketika teman-teman difabel hendak mempelajari agama Islam lebih dalam. Dengan diangkatnya branding ini, maka kawasan pusaka Plosokuning akan lebih dikenal, tidak tertutup membuka potensi untuk pendatang maupun masyarakat yang tinggal disekitarnya.
Difabilities should not be the reason for each human to not to do their prayers to God. Same things should works on the education rights. It all started from my experiences back then when I did KKN (social working in universities), one of my students in reading Koran class is autism. Doing differently with most of his friends, which are non-difables, he always trying so hard to follow the class diligently. Then, one question came to my mind, where are my difables friends who had this big intentions to learn their own religion, when mostly public facilities for difables in Indonesia is barely shown and worked well? Between regular schools and difables-only schools, there is an inclusive shool, which it is giving chances for both difables and non-difables to know and interact since early ages. Differently done with difables-only school, inclusive school offers EQ (social) learning from the start like tolerances, sensitivity to help each other, appreciating the differences for both sides. But the school would not be complete if it is not filled with SQ (religious needs) and IQ (educational needs) which exactly integrated. When these three points are able to be fulfilled moderately, every single person who's being educated in would be turn into a great persona. Plosokuning is chosen as the site location because Plosokuning is one of the four Pathok Negoro, representative from Yogyakarta city which known as educational city, especially in Islamic educations. With the existence of the primary Islamic inclusive school at Plosokuning would make a new branding to the area, which will make a great differences to the others. It would be expected that Plosokuning would be known as 'The Islamic Educational Places Universally', so Plosokuning will be an option while difables would like to learn Islam deeper. This branding would make heritage area Plosokuning more publicly well known, opening potencies for both newcomers and people who live around.
Kata Kunci : universal design, pendidikan, agama islam, sekolah dasar, Plosokuning