Laporkan Masalah

Dampak Kebijakan Bea Keluar Pada Tahun 2010 Terhadap Ekspor Biji Kakao Dan Daya Saing Biji Kakao Dan Produk Olahannya

Risetio C. Dwiputra, Prof. Tri Widodo, M.Ec.Dev., Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Indonesia sebagai produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia masih belum menikmati nilai tambah tinggi karena sebagian besar bahan mentah tersebut masih diekspor. Dalam rangka penyediaan bahan baku untuk mendorong hilirisasi industri kakao, Pemerintah mengintervensi tata niaga biji kakao dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.0ll/2010 tanggal 22 Maret 2010 tentang Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. Dengan adanya peraturan ini, ekspor biji kakao dikenakan tarif tertentu dengan persentase progresif yang bergantung pada harga internasional yang sedang berlaku. Penelitian dilakukan untuk mengetahui signifikansi kebijakan pengenaan bea keluar dalam mempengaruhi ekspor biji kakao Indonesia ke 5 (lima) negara tradisional tujuan ekspor yaitu Amerika Serikat, China, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Dengan metode regresi linear, dapat disimpulkan bahwa bea keluar walupun berpengaruh secara signifikan namun tidak menghambat ekspor biji kakao ke lima negara tersebut. Hal ini disebabkan pemberlakuan bea keluar lebih banyak mengurangi ekspor biji kakao Indonesia ke negara-negara lain yang bukan merupakan negara tradisional tujuan ekspor. Analisa daya saing biji kakao dan turunannya menggunakan products mapping pada periode tahun 2006 dan 2013. Dari hasil analisis terlihat bahwa penerapan bea keluar dapat menurunkan daya saing biji kakao dan mendorong daya saing produk intermediate khususnya lemak dan pasta kakao. Namun, bea keluar belum mampu mengungkit daya saing produk cokelat yang merupakan komoditas dengan nilai tambah tertinggi.

Indonesia as the third largest producer of cocoa beans in the world still hasn't enjoyed high added value yet because most of the raw material is exported. In order to encourage the supply of raw materials for downstream cocoa industry, the Government intervenes in the trading of cocoa beans with the Minister of Finance Regulation No. 67/PMK.0ll/2010 dated March 22, 2010 concerning Determination of Export Goods Subjected With Duty and Tariff. With this regulation, the export of cocoa beans is imposed by certain tariffs with progressive percentage that depends on international prices. The study is conducted to determine the significance of the imposition of export tax in influencing Indonesian cocoa exports to 5 (five) traditional export destination countries: the United States, China, Thailand, Malaysia, and Singapore. With the linear regression method, it can be concluded that even though export tax is influencing significantly but it doesn't hinder cocoa bean exports to those five countries. This is due to the implementation of export tax is reducing more Indonesian cocoa beans export to other countries than to the traditional export destinations aforementioned. Analysis of the competitiveness of cocoa beans and its derivatives is conducted using products mapping in 2006 and 2013. From the analysis, it appears that the implementation of export tax can reduce the competitiveness of cocoa beans and boost the competitiveness of intermediate products, especially cocoa fat and cocoa paste. However, export tax has not been able to boost the competitiveness of chocolate products that are commodities with the highest added value.

Kata Kunci : bea keluar, ekspor, daya saing, kakao


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.