Laporkan Masalah

PREVALENSI, FAKTOR RISIKO DAN ANALISIS KERUGIAN NILAI EKONOMI MASTITIS OLEH Staphylococcus aureus PADA SUSU DI EKS KARESIDENAN MADIUN

Supriyanto, Dr.drh. A.E.T.H., Wahyuni, M.S.

2014 | Tesis | S2 Sain Veteriner

Mastitis adalah radang ambing dalam bentuk mastitis subklinis (MSK) maupun mastitis klinis (MK) dan Staphylococcus aureus sebagai salah satu penyebab utamanya yang dapat menimbulkan kerugian berupa penurunan produksi susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi, faktor risiko, dan analisis kerugian nilai ekonomi mastitis oleh S. aureus. Suatu kajian observasional dengan rancangan lintas-seksional telah dilakukan terhadap 226 sampel susu sapi perah yang diambil dari 101 peternak di Eks Karesidenan Madiun (Kabupaten Pacitan, Ponorogo dan Madiun). Cara pengambilan sampel dilakukan dengan metode sampling tahapan ganda dan proporsional populasi sapi perah laktasi. Random sampel terencana dilakukan pada tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa sedangkan peternak sebagai unit terkecil dan ternaknya diambil secara klaster. Uji kualitatif california mastitis test (CMT) digunakan untuk menentukan MSK, pengamatan dan palpasi pada bagian ambing untuk MK. Isolasi dan identifikasi S. aureus menggunakan media pertumbuhan bakteri dan uji biokimia (mannitol salt agar: MSA dan voges proskaeur: VP). Data hasil laboratorium, kuesioner dan wawancara terhadap peternak yang terkumpul kemudian diolah, dan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat (regresi logistik dan regresi linier) dengan menggunakan software Statistix for Windows Version 7. (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) prevalensi MSK, MK dan normal dengan nilai berturut-turut yaitu 72,57%, 5,31% dan 22,12%. 2) Prevalensi S. aureus positif pada susu sebesar 52,8% (susu normal 8,41%, MSK 40,41%, dan MK 3,98%). 3) Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian mastitis secara regresi logistik adalah lantai kandang dari semen, ambing lecet, tidak menggunakan antibiotika, air kotor, pengalaman beternak kurang dari dua tahun, tahun laktasi, susu pancaran pertama tidak dibuang, dan bulan laktasi. 4) Faktor yang berpengaruh terhadap produksi susu adalah ketinggian lokasi, bulan laktasi, umur, tidak diping puting, mastitis, asal ternak dari luar, S. aureus positif, dan pemerahan sehari sekali. 5) Kerugian nilai ekonomi berupa penurunan produksi susu akibat MSK sebesar 6,09% - 21,88% (rata-rata 13,99%), MSK oleh S. aureus sebesar 14,06% - 39,18% (rata-rata 26,62%), MK dan MK oleh S. aureus masing-masing dapat mencapai 100%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mastitis pada sapi perah memiliki risiko menimbulkan kerugian nilai ekonomi lebih besar dibandingkan sapi sehat dan kerugian semakin besar dengan adanya S. aureus dan faktor risiko lainnya sehingga diperlukan usaha pencegahan, pengendalian dan pemberantasan mastitis.

Mastitis is an inflammation of the udder in the form of subclinical mastitis (MSK) and clinical mastitis (CM). Staphylococcus aureus is one of the main causes which can lead to loss of a drop in milk production. This study aims to determine the prevalence, risk factors, and the analysis of the loss of economic value of mastitis by S. aureus. An observational study with cross-sectional design was conducted on 226 dairy cow milk samples taken from 101 farmers in Ex residency of Madiun (Pacitan, Ponorogo, and Madiun). Methods of Taking in Sample was done by multiple stages sampling method and the proportional population of lactating dairy cows. Random sampling was done based on the highest until the lowest sequently in the district, sub-district, village and dairy farmers but the cattle taken in a cluster. To Determine of MSK by using California mastitis test (CMT), observation and palpation of the udder to the MK, and Isolation and identification of S. aureus using bacterial growth media and biochemical tests (mannitol salt Agar : MSA and Voges proskaeur: VP). The data Collected based on questionnaire and interviews with farmers, then analyzed by univariate, bivariate and multivariate (logistic regression and linear regression) using the software Statistix for Windows Version 7 (P <0.05). The results showed that: 1) the prevalence of MSK, MK and normal values respectively are 72.57%, 5.31% and 22.12%. 2) The prevalence of S. aureus in milk positive for 52.8% (8.41% of normal milk, MSK 40.41%, and 3.98% MK). 3) Factors that influence the incidence of mastitis in logistic regression are the cement floor of the cage, udder blisters, not use antibiotics, dirty water, farmer’s experience less than two years, the years of lactation, the not discard the first of milk secretion, and the months of lactation. 4) Factors that influence milk production are the height of the farm, months of lactation, age, not dyed nipples, mastitis, cow from outside, S. aureus positive, and once daily milking. 5) The loss of economic value by decreasing in milk production due to MSD at 6.09% - 21.88% (average 13.99%), MSK by S. aureus is 14.06% - 39.18% (average of 26.62%), MK and MK by S. aureus can respectively reach 100%. The conclusion is that mastitis in dairy cows have the risk of causing a loss of economic value greater than healthy cows. It could be severe by the presence of S. aureus and other risk factors so it needs the prevention, the control and the eradication of mastitis.

Kata Kunci : mastitis, sapi perah, S. aureus, epidemiologi, ekonomi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.