BUDAYA KLANGENAN, POLA KONSUMSI DAN HUBUNGANNYA DENGAN KELESTARIAN JENIS SATWA BURUNG DI WILAYAH SEMARANG DAN SOLO PROVINSI JAWA TENGAH
HIMAWAN SASONGKO, Dr.rer.silv. M. Ali Imron, M.Sc.
2014 | Tesis | S2 Ilmu KehutananBudaya klangenan satwa burung pada masyarakat Jawa sudah berlangsung selama puluhan tahun diawali oleh Perkutut (Geopelia striata) namun demikian perkembangan budaya klangenan saat ini juga sudah mencakup jenis-jenis burung kicauan yang semula bukan termasuk klangenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat mengenai makna klangenan pada saat ini dan praktek-praktek riil yang dilakukan untuk menggambarkan pola konsumsi serta potensi dampaknya terhadap kelestarian jenis burung. Penelitian dimaksud dilaksanakan dengan pendekatan etnografi melalui wawancara mendalam terhadap informan dengan kategori penangkar, pedagang, penghobi dan kombinasi dua atau lebih kategori dimaksud. Data-data diolah secara kualitatif untuk memperoleh hubungan makna terkait budaya klangenan satwa burung dan hasil-hasilnya disajikan secara deskriptif. Penelitian ini menunjukkan bahwa genus Copsycus dan Chloropsis menjadi favorit untuk dipelihara sebagai klangenan. Praktek-praktek pemeliharaan jenis-jenis kicauan pada saat ini lebih mengarah kepada performa kicauan (variasi suara, mental, volume dan alunan). Disparitas harga yang cukup tinggi individu di wilayah sumber dan di wilayah tujuan, elastisnya permintaan dan terselenggaranya forum-forum interaksi sosial merupakan faktor-faktor yang memperluas dan mempermudah pembentukan pola pikir yang mendorong pola konsumsi terhadap jenis-jenis burung tertentu sebagai klangenan termasuk jenisjenis burung master sebagai faktor pendukung performanya. Jenis-jenis burung yang dikonsumsi sebagai burung klangenan ataupun burung pemaster pada umunya berkelamin jantan, dipelihara dalam sangkar sampai mati dengan peluang yang kecil untuk meneruskan keturunannya. Hal ini mengindikasikan bahwa klangenan memiliki resiko terhadap kelestarian jenis burung. Jenis-jenis burung yang dipelihara sebagai klangenan sudah seharusnya dikelola dengan baik untuk mencegah penurunan populasi pada tingkat lokal.
Keeping birds as klangenan in Javanese culture has been conducting for many years initated by Perkutut (Geopelia striata striata) but in present time, birds for klangenan develope wider and more varies than its beginning. Many song-birds had been caught in some areas in Java, Sumatra and Kalimantan, distributed and then traded for klangenan in some market places. This research was conducted to understand thingking pattern of Javanese community in Semarang area and Solo area, Central Java Province, to explain consumption pattern and also to identify some indications that potentiallyimpacted to bird species sustainability. The research implemented etnography approach using snowball method sampling in depth interview with informers categorized as catchers, hobbiests, traders and breeders or combination of two or more categories. Data processed qualitatifely to obtain relation of meanings of klangenan and its results were explained descriptively. The research describes that Copsycus and Chloropsis taxas are favourite as klangenan birds. Keeping these birds as klangenan to get satisfaction, to obtain marem or to feel at ease with them is highly influenced by values or minds developed in community related to song birds performance such as sound volume and song variations, melody and also style. High-price disparity of song birds in source areas compare to goal areas, its demand elasticity and also social interactions among communities in Central Java are contributed factors to wide and to ease mind pattern and finally consumption pattern of song-birds as klangenan included master birds as its supporting performance. Song-birds and master-birds for klangenancaught are definetely males or dominant males, they are kept individually and most of them will terminate their life in cages without any opportunity to breed. It indicates that klangenanhas some risks to birds sustainability. Managing of song-birds consumed by community is urgently required to prevent population loss locally.
Kata Kunci : Klangenan, Pola Konsumsi, Kelestarian, Burung Kicauan