Laporkan Masalah

EKSISTENSI PEREMPUAN DALAM OPERA BATAK: STUDI KASUS ZULKAIDAH HARAHAP

JAYANTI M.SAGALA, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang

2014 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Kesenian yang identik dengan dominasi maskulinitas atau seni maskulin yang terjadi pada Opera Batak secara musikal, tidak terlepas dari konsep yang dikonstruksi oleh ideologi patriarki dalam masyarakat komunalnya. Kenyataan ini ditantang oleh eksistensi seorang perempuan. Jika pada sebelumnya Opera Batak lebih bersifat seni maskulin secara musikal, dengan hadirnya Zulkaidah Harahap, Opera Batak kini memiliki jalan yang berbeda. Tesis ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana eksistensi Zulkaidah Harahap dan arti pentingnya sebagai perempuan pada seni pertunjukan Opera Batak dalam masyarakat Batak Toba. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan di Tiga dolok dan Pematang Siantar, Sumatera Utara, tempat dimana Opera Batak dan Zulkaidah Harahap berasal. Pendekatan perspektif feminisme digunakan untuk melihat persoalan yang terjadi pada perempuan dalam seni pertunjukan Opera Batak melalui studi kasus dan studi tokoh dari seorang seniman tradisi perempuan Zulkaidah Harahap dengan melakukan Metode penelitian rekonstruksi historis dan wawancara. Eksistensi perempuan dalam permasalahan ini dipandang sebagai suatu „kreativitas‟ dilihat dari perspektif seni tradisi yang dikemukakan oleh teori George Herzog dalam tulisannya “kreativitas seniman musik tradisi”. Eksistensi perempuan juga dilihat dari perspektif feminis eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir melalui teori “Proses Transendensi perempuan”. Eksistensialisme yang dihadirkan Zulkaidah Harahap memberi arti penting dalam panggung Opera Batak, yang didefinisikan sebagai suatu „Kreativitas‟ dalam Seni Pertunjukan Batak Toba. Kreativitas yang dilakukan Zulkaidah Harahap pada seni pertunjukan Opera Batak, dapat dilihat dalam dua hal. Pertama, sebagai Pemimpin perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah memimpin sebuah grup Opera Batak. Kedua, sebagai Parmusik perempuan pertama yang berani dan mampu memainkan instrumen musik, hingga menjadi parmusik yang sejajar dengan laki-laki. Penyimpangan yang dilakukannya berhasil membuktikan bahwa perempuan, seperti juga laki-laki adalah Ada untuk dirinya sendiri, Diri yang memiliki hak untuk dipandang sebagai subyek kultural. Melaluinya, kini perempuan Batak tidak tabuh menjadi parmusik, dan dapat dipandang sebagai subyek dalam seni itu sendiri.

Arts in which identical to masculinity domination or masculinity art that happen in Batak Opera musically, cannot be separated from concept that formed by the comunal people. Those reality argue by woman existence. If formely Batak Opera leaned into musically masculine art, by Zulkaidah Harahap‟s existence, today Batak Opera turn into different way. This thesis aims to dig how the existence of Zulkaidah Harahap and the essential role of women artist of Batak Toba etnic. This research has been doing for two months at Tiga Raja Dolok and Pematang Siantar district where Batak Opera and Zulkaidah Harahap originally come from. Feminism perspective approach to know what problems which come to women in Opera Batak by both case and role act of the woman traditional artist Zulkaidah Harahap by doing historical-reconstruction research method and interviewing. In this case, women existence seen as „creativity‟ by art tradition perspective like what George Herzog upbring in his writting “creativity of music tradition artist.” Also, women existence can be seen by excistencialism-feminim perspective like what Simone de Beauvoir brought to audience through “women transcedency process.” Existencialism that Zulkaidah Harahap presenting gives essential meaning in stage, defenited as the „creativity‟ of Batak Toba play. Creativity of Zulkaidah Harahap can been seen by two forms. Firstly, as the first and merely one woman who ever led the group of Batak Opera. Secondly, as the first woman „parmusik‟ who brave and eligible in playing music instrumens, there upon regarded as the same position as man. The distortion that has been done by her succeed in demonstrating that as a woman, likewise a man, is exist for herself, as one who deserves regarded as a cultural subject. Through her work, at the present day Batak Women are not consider as taboo to be musician „parmusik‟ and regarded as subject in music itself.

Kata Kunci : Eksistensi, Perempuan, Opera Batak, Zulkaidah Harahap


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.