MENGGUGAT KATA, MENGGUGAT WISRAN TINJAUAN SOSIOLOGI SENI ATAS BENTUK PERTUNJUKAN TEATER ‘TANPA-KATA’ DAN ‘MINIM-KATA’ DI KOTA PADANG PADA PERTENGAHAN DEKADE 90-AN
PANDU BIROWO, Prof. Dr. C. Bakdi Soemanto, S.U.
2014 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaTesis ini mendiskusikan dua bentuk pertunjukan teater „tanpa-kata‟ dan „minim-kata‟ di kota Padang pada pertengahan dekade 90-an. Pertunjukan pertama berjudul Lini karya/sutradara Zurmailis dan pertunjukan kedua berjudul Menunggu karya/sutradara Yusril. Dua pertanyaan utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1). Mengapa kedua bentuk pertunjukan tersebut dipilih oleh kedua sutradara dan hadir dalam arena kehidupan teater kota Padang pada masa itu?; 2). Bagaimanakah perbandingan dramaturgi kedua bentuk pertunjukan dengan dramaturgi dominan yang ada di masa itu? Tesis ini menggunakan teori arena Pierre Bourdieu sebagai piranti analisis untuk menjawab alasan dan latar dari kedua bentuk pertunjukan tersebut. Tinjauan internal atas dramaturgi pertunjukan juga dilakukan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif atas struktur arena teater dalam kehidupan teater di kota Padang dan analisis dramatik dan artistik atas dramaturgi pertunjukan. Data yang dikumpulkan berupa, arsip, foto, catatan, dan berita pertunjukan, serta wawancara. Tesis ini berkesimpulan bahwa kedua bentuk pertunjukan „tanpa-kata‟ dan „minim-kata‟ hadir dalam arena kehidupan teater di kota Padang untuk menantang posisi dominan Wisran Hadi, seorang agen-produsen dominan pada masa itu. Bentuk „tanpakata‟ dan „minim-kata‟ merupakan strategi deviasi diferensial utama kedua sutradara atas pertunjukan-pertunjukan „penuhkata‟ yang disutradarai Wisran Hadi. Strategi „tanpa-kata‟ dan „minim-kata‟ itu juga merupakan bias determinan eksternal dari adanya krisis bahasa berupa verbalisme dan eufemisme bahasa dalam wilayah lokal maupun nasional di masa itu. Analisis internal atas dramaturgi kedua pertunjukan memperlihatkan perbedaan signifikan dengan aspek-aspek dramaturgi pertunjukan yang disutradarai Wisran Hadi, yakni: 1) Kedua pertunjukan meletakkan diskusi tematik dan proses latihan sebagai pusat dramaturgi ketimbang pada naskah drama; 2) Tema dan pesan kedua pertunjukan mengetengahkan persoalan kontemporer ketimbang cerita-cerita yang bersumber dari khasanah cerita maupun sejarah Minangkabau; 3) Tokoh-tokoh yang dihadirkan berupa „tokoh plural yang singular‟ ketimbang „tokoh individu yang personal‟; 4) Akting dan gestur yang digunakan mengambil bentuk metaforis; 5) Setting dan tata artistik lebih provokatif dan simbolis ketimbang lokatif.
This thesis discusses two formal theater performance in Padang in the mid of 1990s, namely „teater tanpa-kata‟ and „teater minim-kata‟ performances. The first performance was the work of Zurmailis called Lini and the second was the work of Yusril called Menunggu. The two main questions poses in this study are: 1). Why the two formal of the performance was selected by both the director and were present in the field of theater life of Padang at that time?; 2). How did the two dramaturgy of performances comparison with the existing dominant dramaturgy in that time? This thesis uses the theory of the field by Pierre Bourdieu as an analysis device to consider the reason and backround of the two forms performances. Internal review of the performace dramaturgy is also done. The method used in this research is qualitative analysis of the field of theater in the theater life of Padang and also dramatic and artistic analysis of the performance dramaturgy. The data collected are in the form of archives, photos, notes, and news of the performance as well as interviews. This thesis concludes that the two performances present themselves in the arena of theater life in Padang to challenge the dominant position over Wisran Hadi‟s, a dominant agent-producer of the time. „Wordless‟ and mini-word‟ theatres are the main differential deviation strategies of both directors over the performances directed by Wisran Hadi. The „tanpa-kata‟ and „minim-kata‟ strategies are also the bias of external determinat of linguistic crises in the form of verbalism and euphemism in both local and national context at the time. Internal analysis of the dramaturgy of both performances shows that there are differences in the dramaturgy of performances directed by Wisran Hadi, namely: 1) Both performances place thematic discussion and rehearsal processes as the center of dramaturgy rather than text; 2) Theme and messages of both performances introduce contemporary problems rather than the stories from the treasure of stories and history of Minangkabau; 3) The characters presented are „singular plural characters‟ rather than „personal individual characters‟; 4) Acting and gesture used are in the metaphoric form; 5) Setting and artistic layout are more provocative and symbolic rather than locative.
Kata Kunci : Teater, Tanpa-kata, Minim-kata, Dramaturgi, Lini, Menunggu, Zurmailis, Yusril, Wisran Hadi, Padang.