RELEVANSI PEMIKIRAN AGAMBEN TENTANG SIKAP NEGARA TERHADAP AHMADIYAH
Servulus Konseng, Prof. Dr. Susetiawan, SU.
2014 | Tesis | S2 SosiologiTesis ini bertujuan untuk mengungkapkan, menganalisis dan menemukan relevansi pemikiran Agamben dalam membaca persoalan Ahmadiyah di Indonesia. Gagasan Agamben mempersoalkan relasi antara kedaulatan dan kehidupan kelompok minoritas dan kaum marginal di mana kehidupan mereka direduksi ke dalam bare life melalui biopolitik. Di dalam bare life, mereka tidak memiliki apapun selain kemanusiaannya bahkan kemanusiaannya pun dicopot dari padanya. Untuk itu, tesis ini menggunakan metode hermeneutika. Hermeneutika adalah metode untuk menemukan makna di balik teks yang dibaca. Ketika gagasan etis humanis Agamben dipakai untuk memahami kasus Ahmadiyah, tampak bahwa negara telah mereduksi Ahmadiyah ke dalam bare life . Sikap negara terhadap Ahmadiyah dalam rentang sejarah bangsa Indonesia dapat ditilik dalam dua hal ini: pertama, negara menangguhkan aturan hukum tentang keberadaan Ahmadiyah. Eksistensi legal Ahmadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum ditangguhkan. Penangguhan itu tampak paling signifikan dalam SKB tiga menteri, yakni menteri Agama, Jaksa Agung dan menteri Dalam Negeri bernomor 3 tahun 2008, nomor: kep.033/A/JA.6/2008, nomor: 199 tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. Kedua, negara mereduksi Ahmadiyah menjadi bare life melalui politik pengabaian (exclusion). Pengabaian ini dapat ditemukan dalam dua sikap negara terhadap Ahmadiyah, yakni: stigmatisasi ‘sesat’ dan penelantaran. Negara menstigmatisasi berdasarkan fatwa agama muslim mainstream dan juga mengijinkan mereka hidup dalam kekerasan. Negara membiarkan mereka menghuni tenda-tenda pengungsian. Penangguhan dan pengabaian yang dilakukan negara atas Ahmadiyah menentukan keberadaan Ahmadiyah sebagai homo sacer dan the muselmann. Sebagai homo sacer, Ahmadiyah diserahkan tidak hanya kepada eksklusi ganda melainkan juga eksklusi total. Ia tereksklusi bukan hanya dari ranah agama dan politik melainkan juga di dalam lingkungan sosial, ekonomi dan hukum. Sebagai the muselmann, Ahmadiyah dianggap sebagai tontonan yang mengerikan bagi setiap orang. Mereka bukanlah apa-apa selain zombie, orang yang hidup enggan mati tak mau.
This thesis aims to expose, analyze and discover the relevance of Agamben’s thoughts in reading Ahmadiyah’s cases in Indonesia. Agamben’s ideas call relations in question sovereignty and life of group of minority and marginalized people in which their life are reduced into bare life through biopolitics. In the bare life, they have nothing other than their humanity, in fact, they are deprived of their rights. For it, this thesis uses hermeneutics. Hermeneutics is a method to uncover meanings behind the text. When humanistic-etic Agamben’s thoughts are used to know of Ahmadiyya’s cases, it seems that state has reduced them into bare life. The behavior of state towards Ahmadiyya of Indonesian history can be shown on two forms below: Firstly, the State has suspended the rule of law on existence of Ahmadiyya. Legal existence of Ahmadiyya as a civil organization has been suspended of law. The suspension of state towards legal existence of Ahmadiyya by letting them in violence of life. The suspension of law significantly appears in Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, namely, minister of Religious Affairs, and Chief Prosecutor and Interior Minister nomor 3 tahun 2008, nomor: kep.033/A/JA.6/2008, nomor: 199 tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. The secondly, The State has reduced Ahmadiyya to the bare life through politics of exclusion. This exclusion can be known in three state’s behaviors: stigmatizing of ‘sesat’ and abandoning. State has stigmatized ‘sesat’ is based on religion’s fatwa of mainstream muslim and also has permitted their life in violence. State has preserved Ahmadiyah by letting them in refuge. The suspension and exclusion of State to Ahmadiyya has defined them as Homo Sacer and The Muselmann. As homo sacer, they are removed not only on double exclusion but also on total exclusion. They are not only excluded in religion and politics but also in social and economic and law environment. As The Muselmann, they are considered as horrifying spectacle for everyone. They are nothing than zombie, the death living.
Kata Kunci : Agamben, Kedaulatan, Bare life, Biopolitik, Ahmadiyah, Exclusion