Laporkan Masalah

SUBALTERNITAS PEREMPUAN BALI DALAM KUMPULAN CERPEN AKAR PULE KARYA OKA RUSMINI

NANANG SYAIFUL ROHMAN, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.

2014 | Tesis | S2 Sastra

Subalternitas dalam karya sastra berarti membaca dan menginterpretasikan pandangan seorang pengarang mengenai kondisi yang menjadi identitas kaum subaltern. Dalam hal ini, posisi Oka Rusmini sebagai pengarang dianggap mewakili kelompok intelektual yang berusaha untuk menyuarakan kelompok subaltern dalam cerpen-cerpennya. Subaltern adalah mereka-mereka yang mengalami penindasan. Kelompokkelompok tersebut adalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. Kelas subaltern adalah sekelompok kelas marginal (Timur) non-elit yang didesak oleh garis-garis kultural dan pengetahuan yang memproduksi subjek kolonial. Subalternisasi adalah terjadinya penindasan oleh kaum elite terhadap kaum marjinal karena adanya kekuasaan dan keinginan untuk mempertahankan kekuasaan tersebut. Subalternisasi ini terjadi antara mereka yang memiliki kepentingan dengan mereka yang termarjinal. Penelitian ini menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak yang termuat dalam esainya “Can the Subaltern Speak?”. Teori ini dijadikan sebagai alat untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang muncul dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini. Dalam kumpulan cerpen ini, Oka Rusmini ingin menunjukkan subalternitas perempuan Bali. Subalternitas perempuan Bali yang terjadi dalam masyarakat Bali terjadi dalam berbagai kondisi, yakni subalternitas perempuan dalam adat istiadat, khususnya dalam sistem kasta subalternitas perempuan dalam lembaga pernikahan, subalternitas perempuan karena mitos laki-laki, subalternitas perempuan dalam menghadapi konstruksi sosial, dan subalternitas perempuan terjadi oleh sesama kaum perempuan. Ketidakberdayaan yang dialami oleh tokoh perempuan dalam kumpulan cerpen Akar Pule ini tidak dapat dianggap mewakili suara perempuan subaltern karena suara itu datang ketika ia sudah tidak mengalami penindasan dari laki-laki dan bisa hidup mandiri secara finansial. Dengan kata lain, ini adalah suara kaum yang memiliki alat untuk menyuaran suaranya. Oka Rusmini sebagai kaum intelektual Bali, melalui karya-karyanya hanya mampu hadir sebagai “wakil” kaum subaltern. Dalam Akar Pule, Oka Rusmini menunjukkan bahwa sebagai intelektual, ia tidak mampu membuat perempuan subaltern ini berbicara. Tema perempuan subaltern dalam masyarakat Bali yang selalu ia masukkan dalam karya-karyanya merupakan cara untuk memberikan wacana-wacana bahwa di Bali terdapat kekerasan terhadap perempuannya.

Discussing subaltern in literature means reading and interpreting an author’s view on the condition that is becoming the identity of the subalterns. In this research, it focuses on the position of Oka Rusmini as an author who is considered to represent a group of intellectuals who sought to speak for subaltern groups in her short stories. Subaltern groups refer to those who experience oppression. These groups are people who cannot speak up. Subaltern class is a group of non-elite marginal class (East) suppresses by cultural borders and knowledge producing colonial subjects. The act of subaltern is oppression subjected to the marginalized because of power and the desire to maintain power. This occurs between those who have interest with those who are marginalized. This study uses the theory of the subaltern proposed by Gayatri Chakravorty Spivak in her essay Can the Subaltern Speak?. This theory is used as a tool to analyze the problems arise in a collection of short stories written by Oka Rusmini entitled Akar Pule. Oka Rusmini as author, in the collection of short stories Akar Pule, wants to show women subaltern in Bali. Women subaltern in Bali occurs in various domains like women subaltern in culture, especially in the caste system, women subaltern in the institution of marriage, women subaltern due to the myth of maleness, women subaltern in facing social construction, and women subaltern by fellow women. Oka Rusmini as intellectuals in Bali, was only able to present as \\"representative\\" of the subaltern through her works. In Akar Pule, Oka Rusmini shows that as an intellectual, she was actually unable to make the subaltern women speak. The theme of subaltern women in Balinese society that she always put forward in her works is a way to uncover discourses that there is violence against women in Bali.

Kata Kunci : Subalternitas, Perempuan Bali, Pengarang


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.