Laporkan Masalah

“LOCALIZING” OCCULTISM: A STUDY OF TAROT IN JAVA

ACHMAD FAWAID, Dr. Muhammad Iqbal Ahnaf

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Sebagai salah satu praktik okultis global, Tarot juga dipraktikkan oleh masyarakat lokal, termasuk masyarakat Jawa, dan karena itulah studi tentang ‘pribumisasi’ menjadi penting untuk melihat seberapa kuat sistem kepercayaan Jawa berpengaruh terhadap para praktisi Tarot, atau bagaimana para praktisi itu mengadopsi dan memodifikasi mistisisme dan pengetahuan kejawen, baik secara sadar maupun tak sadar. Tesis saya di sini adalah bahwa pribumisasi bisa berbentuk adaptasi, akulturasi, indigeneousasi, atau—dalam beberapa hal— hibridisasi, baik hanya di level superfisial, nilai, atau pun praktik. Dengan menggunakan etnografi sebagai metode penelitian, studi ini memperlihatkan bahwa Tarot yang berasal dari Barat itu saling berkelindan dengan praktik dan pengetahuan Jawa. Di Jawa, misalnya, kebatinan atau kejawen menjadi salah satu bagian sentral dari esoterisme Jawa, dan dari pengetahuan esoterik semacam inilah masyarakat Jawa mempraktikkan beragam okultisme, seperti tapa, samadi, mutih, pengobatan tradisional, pembuatan wayang, dan sebagainya. Akan tetapi, sebagian Muslim Jawa yang puritan cenderung menganggap Tarot sebagai ‘praktik yang menyimpang’, dengan segala stereotipe negatif yang melekat padanya, seperti klenik, syirik, atau dukun (dalam pengertian ‘sihir’, bukan tabib). Setelah mendeskripsikan praktik dan pengetahuan Tarot di Jawa, khususnya di Yogyakarta, studi ini menghasilkan dua temuan penting: (1) para praktisi Tarot menegosiasikan dirinya dalam kultus di mana mereka tinggal dengan melokalisasi nama-nama aliasnya, komunitas Tarotnya, strategi macak Tarotnya, Tarot decknya, serta preferensinya dalam memilih tempat berkumpul di candi; (2) praktik Tarot itu sendiri sangat berkaitan dengan beberapa sistem kepercayaan Jawa, seperti rasa dan kahanan, yang artinya adalah bahwa ketika menarot, mereka secara sadar maupun tak sadar mempraktikkan pandangan dunia Jawa dengan level yang tentu berbeda-beda. Akan tetapi, fenomena ini tidak bisa menghindari adanya implikasi dan tantangan yang harus dihadapi oleh para praktisi Tarot: ‘ambivalensi kultural’, sebuah implikasi kebudayaan yang tidak bisa mereka hindari, karena setinggitingginya mereka bermain Tarot yang berasal dari Barat itu, mereka tetaplah Jawa. Ambivalensi inilah yang—dalam derajat yang berbeda—seringkali muncul di setiap proses lokalisasi itu. Ambivalensi ini juga mengindikasikan globalisasi sebagai konsep dinamis dalam isu ‘pribumisasi’ tersebut. Gagasan tentang pribumisasi Tarot, dengan demikian, memungkinkannya menjadi fenomena global di mana sistem kepercayaan Jawa yang sudah tertanam dalam praktik Tarot di Jawa pada gilirannya menjadi bagian dari jaringan global. Keterlibatan para praktisi Tarot dalam transaksi virtual atau pasar internasional memperlihatkan semacam titik temu antara praktik okultis lokal dan praktik okultis global sebagai indikasi sifat hibrid dari Tarot itu sendiri.

As a global occult practice, Tarot has been practiced by local people, including Javanese practitioners, and it is perhaps that a study of localization is necessary to determine how strongly influential Javanese belief system has been upon Tarot practitioners, or how Javanese Tarot practitioners have adopted and modified Javanese esoteric and occult practices into Tarot. My thesis is that localizing Tarot could be possible in terms of adaptation, acculturation, indigenization, or—in some extents—hybridization in Javanese society, either in the levels of superficial, practice, or values. By using ethnography as method of research, this paper suggests that Western Tarot practice is intertwined with Javanese esoteric and occult one. In Javanese society, for instance, there is a popular idea of kebatinan or kejawen as a central part of Javanese esoterism, and from this idea Javanese people carry out many occult practices, such as tapa, samadi, mutih, traditional healing, wayang performance, etc., on the basis of their acceptance to kebatinan in their daily life. However, at the same time, many Javanese Muslims have extremely accosed Tarot as ‘deviant practice’ with negative stereotype, such as syirik, klenik, or dukun (in terms of soothsayer). By describing practice and knowledge of Tarot in Java, particularly in Yogyakarta, this study has resulted in two major findings: (1) Javanese Tarot practitioners have negotiated themselves in the cultic milieu they live in by localizing their alias, communities, Tarot reading strategies, Tarot decks, and their personal preference to gather in candi, and (2) Tarot practice in Java has closely been related to some Javanese belief systems, such as rasa and kahanan, and it makes them consciously or unconsciously practice Javanism in their daily activity of Tarot with different levels. However, these have implications and challenges they should deal with: cultural ambivalence, a cultural implication that they can’t be free from it, because as much as they play Western Tarot, they are still Javanese. This implication oftentimes occurs in every level of localization. This ambivalence also indicates an inseparable concept of globalization as dynamic one in the term of ‘localizing’. The idea of localizing Tarot makes it possible to be a global phenomena in which local Javanese belief system embedded into Javanese Tarot practice became a part of global network. The involvement of Javanese practitioners in e-commerce or international market suggests a juncture between particular occult practices and global ones to celebrate the cultural hybridity within Tarot.

Kata Kunci : okultis, Tarot, Jawa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.