Laporkan Masalah

KUASA PEREMPUAN PENJAJA SEKS (Kajian Kritis Etnografi Feminis terhadap Relasi Kuasa Perempuan Penjaja Seks di Madiun)

IKA SILVIANA, Prof. Dr. Partini

2014 | Tesis | S2 Sosiologi

Perkembangan prostitusi di Kota Madiun terus mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin bertambahnya tempat hiburan malam yang menyajikan pelayanan seks. Seperti di lokalisasi, warung, kafe/ karaoke dan tempat kost. Acap kali seksualitas perempuan diposisikan sebagai lyan sesuai degan pendikotomian pallusentris yang mengkonstruksikan tubuh perempuan sebagai pelengkap, pelayan dan pemenuhan kebutuhan hasrat seksual laki-laki. Fenomena perempuan penjaja seks (PPS) mewakili perempuan dengan opresi ganda, sebagai perempuan dan sebagai perempuan yang tidak baik, dan menjadi fenomena menarik jika semakin banyak PPS ditemui di Madiun. Dengan demikian menggelitik untuk mengetahui bagaimana performativitas relasi kuasa perempuan penjaja seks di Madiun? Strategi kuasa yang dioperasikan oleh PPS ditelisik dengan menggunakan perspektif feminis serta konsep „teknologi kuasa‟ besutan Michel Foucault melalui mekanisme pendisiplinan tubuh hingga penciptaan strategi demi terbangun relasi kuasa yang efektif. Pengkajian PPS dikemas dalam penyusunan kuasa dengan pendekatan etnografi feminis, yakni melakukan pendokumentasian kehidupan dan aktivitas perempuan; memahami pengalaman perempuan dari sudut pandang mereka sendiri; dan mengkonseptualisasikan perilaku perempuan sebagai ekspresi dari konteks sosial tertentu. Kajian ini mencermati pengalaman PPS ketika mengawali menjadi PPS hingga praktik diri di ruang prostitusi. Pengalaman tersebut memunculkan kritik atas domestik, bahwa domestik menjadi ranah utama penampung isu dehumanisasi terhadap perempuan. Faktis, domestisitas cenderung mendeskreditkan perempuan melalui lembaga keluarga dan menjadi pemenjaraan paling kejam bagi perempuan. Di ruang ini perempuan terbatas oleh dominasi, eksploitasi dan diskriminasi patriarkis yang terkonstruksi melalui sifat patuh dan melayani, sehingga perempuan sulit menegosiasikan posisi diri. Kehendak dan hasrat perempuan dimanipulasi dengan sangat kuat dan semakin mengukuhkan perempuan sebagai obyek dari patriarki (laki-laki). Namun di ruang lain (prostitusi), yang dikonstruksikan sebagai ruang nista di masyarakat, justru mampu menampung kebebasan perempuan dan memunculkan kemampuan bernegosisasi yang efektif bagi perempuan. Di ruang ini perempuan (PPS) mampu memiliki penguasaan atas tubuhnya sendiri melalui proses pendisiplinan, serta mampu bernegosiasi dalam relasi kuasa dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki. Disinilah kelahiran perempuan sebagai obyek sekaligus subyek aktif yang mampu melakukan kontrol atas tubuhnya untuk menjadi diri yang berguna, bagi dirinya sendiri khususnya dan bagi lingkungan umumnya, sehingga tercipta relasi kuasa yang mutual di setiap ruang perempuan.

Prostitution in Madiun is contantly increasing. The rising number of night clubs completed by sexual services strengthens this fact. Local prostitution complex, warung (a small, traditional cafe, usually with one or two sellers only, and no waiters/ waitresses), cafes / karaoke spots, and boarding houses are other places where prostitution happens. Often, female sexuality is positioned as lyan, based on pallusentris dichotomy of which females‟ body is constructed as a complement of, a servant for, and an agent of males‟ sexual desire fulfillment. This female sexual worker (PPS) phenomenon represents females with double oppresion, as females and as whores. However, it is interesting that more females choose to be PPS. Thus, from this background, an inquiry is risen: How is the performatifity of power relation of female sexual workers in Madiun? Power strategies by which the PPS operated were examined by feminist perspective and Michel Foucault‟s „bio-technico-power‟ concepts, the body discipline mechanism until compose the strategy in order to constructed the actively power relation. The analysis on the PPS was presented in a power arrangement which controled over both an individu and a group of people by employing feminist ethnographical approach. Through this approach, to document the lives and activities of female, to understand the experience of female from their own point of view, and to conceptualize female‟s behavior as an expression of social contexts. This study attempt to understand PPS‟s experience when starting prostitute up to their selfpractice in prostitution space. That experience led to criticism of the domestic sphere that became the main domestic reservoir of the dehumanization of women's issues. Factually given, domesticity tended to discredit women through the institution of family and became the most cruel impri sonment for women. In this space is female in domination, exploitation and discrimination boundary are constructed through patriarchal nature obey and serve, so it is difficult for women to negotiate a position themselves. The will and desire of women manipulated by very powerful and reinforces women as objects of patriarchy (male). But in the other room (prostitution), which is constructed as harsh in public spaces, it is able to accommodate women's freedom and ability to negotiate raises effective for women. In this space the women (PPS) is able to have control over their own bodies through the disciplinary process, and be able to negotiate the power relations by utilizing knowledge. This is where the births of women as object and active subject who is able to exert control over her body to be self useful, especially for himself and for the environment in general, so as to create mutual power relations in every area of women.

Kata Kunci : Seksualitas, Relasi Kuasa, Perempuan Penjaja Seks, Etnografi Feminis


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.