Laporkan Masalah

Konstruksi Kota dan Respon Spasial dalam Novel Poskolonial "The Kite Runner" karya Khaled Hosseini

Shabrina An Adzhani, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2014 | Tesis | S2 Sastra

Kota menggaungkan utopia-utopia yang menarik orang untuk bermigrasi, namun keberadaan kota sebagai ruang yang mewujudkan harapan-harapan utopia patut dipertanyakan. Pada kenyataannya, kota yang identik dengan industrialisasi seringkali justru menyuguhkan kengerian seperti eksploitasi, dominasi, dan pemaksaan tatanan yang merupakan bentuk pengulangan kolonisasi. Tulisan-tulisan poskolonial melihat kenyataan tersebut dan menawarkan pembacaan yang berbeda atas ruang kota. Dalam penelitian ini, novel The Kite Runner adalah salah satu novel poskolonial yang ditulis oleh penulis diaspora Afganistan-Amerika yang mengusung tema diaspora dan menggambarkan ruang kota poskolonial. Ketiadaan penelitian atas novel tersebut dengan menggunakan sudut pandang poskolonial membuat penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan konstruksi ruang kota dalam novel The Kite Runner dan respon spasial yang dimunculkan sebagai strategi resistansi terhadap ruang kota yang opresif. Metode analisis dekonstruksi digunakan untuk mengungkap satuan-satuan teks yang sebenarnya menunjukkan bahwa utopia akan kota tidak mungkin terrealisasi dengan hadirnya distopia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel The Kite Runner, kota yang menggaungkan ide-ide utopia adalah Peshawar, Fremont, dan San Fransisco, akan tetapi hanya Fremont yang dianalisis lebih lanjut merupakan latar belakang utama dalam novel yang jelas mengindikasikan adanya pengulangan kolonisasi dan penolakan terhadapnya. Fremont pada awalnya digambarkan sebagai ruang yang membebaskan dan memberikan harapan baru, namun pada akhirnya distopia kota bermunculan. Distopia ini muncul sejak awal berupa benturan antara utopia dan realitas, yang menunjukkan bahwa Fremont tidaklah seindah ide-ide utopia yang terbangun sebelumnya sehingga muncul kerinduan akan masa lalu yang tidak mungkin kembali. Kota menjadi semakin opresif. Di saat yang sama, subjek-subjek yang terrepresi merespon opresi tersebut dengan melakukan pemindahan dan karnivalisasi untuk bertahan di ruang kota. Ketika kedua strategi digunakan, di sanalah terdapat resistansi yang sesungguhnya.

Migration has been happening since long time ago which even increased in number in the time of war. It is because of the urge to find a better life and safety in terms of economy and security. In this case, city uses utopian ideals to attract people to migrate, yet the existence of city as a welcome space to make utopia real is obviously questionable. In fact, cities associated with industrialisation often bring out dreadful issues, which is obscured, like exploitation, domination, and enforcement of order which is actually colonial repetition. Post-colonial writings re-view those obsecured things and offer a different perspective upon the city space. The Kite Runner is one of the post-colonial writings, written by an Afghan-American diaspora writer and brings out issues of diaspora in post-colonial city. There is not any research discussing the novel by using postcolonial point of view yet. Therefore, this analysis is necessaryly done. This research aims to reveal the city space construction in The Kite Runner and spacial response shown as a strategy of resistance to deal with city oppression. Deconstruction is used as method of the analysis with which textual units showing city space construction and spatial response are revealed. The result of the analysis shows that cities echoing utopian ideas in The Kite Runner are Peshawar, Fremont, and San Fransisco, yet only Fremont which is further analyzed since it is used as dominant background of the story which clearly indicates colonial repetition and rejection upon it. Fremont was at first described as freeing and hopeful city space, but yet dystopia arose. Dystopia even arose since the beginning in the cty space in the form of imbalances between utopian ideal and reality, which also meant that Fremont was not as ideal as the utopian thought. It resulted to the fact that the past kept appearing and missed even when it cannot be actually back. City was becoming more oppressive. At the same time, those who were becoming subject to opression responded by strategy of displacement and carnivalisation. Only when the two strategies are used, the actual resistance is there.

Kata Kunci : ruang kota, utopia, distopia, respon spasial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.