Laporkan Masalah

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR LAHAR HUJAN DI KECAMATAN SALAM KABUPATEN MAGELANG STUDI KASUS DI DESA JUMOYO DAN DESA SIRAHAN

Dedi Hartono, SP, Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA.,.Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Bencana banjir lahar hujan yang melanda Desa Jumoyo dan Desa Sirahan Kecamatan Salam Kabupaten Magelan.g telah mnimbulkan kerusakan di sektor perumahan, infrastruktur dan lahan pertanian.. Bencana ini membawa beberapa kosekuensi berupa penetapan kebijakan tata ruang pada wilayah terdampak bencana, kebijakan pengurangan resiko bencana dan relokasi permukiman. Hingga saat ini penerapan kebijakan relokasi permukiman belum seluruhnya tuntas terlaksana. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap banjir lahar hujan, kawasan rawan bencana (KRB), pengurangan resiko bencana (PRB) dan relokasi permukiman. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan kuesioner terhadap responden di Desa Jumoyo dan Desa Sirahan, dengan jumlah polpulasi 785 kepala keluarga. Hasil penelitian menunjukkan sebagian masyarakat berpersepsi bahwa tempat tinggal yang lama masih aman untuk hunian tetap dan sebagian masyarakat berpersepsi bahwa tempat tinggal yang lama sudah tidak aman untuk hunian tetap. Penetapan KRB disetujui oleh masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana, namun ada sebagian masyarakat yang tidak setuju bila kawasan tersebut tidak direkomendasikan untuk hunian tetap. Sebagian masyarakat berpersepsi bahwa relokasi adalah PRB terbaik untuk wilayah terdampak, namun sebagian lainnya berpersepsi bahwa PRB untuk wilayah tersebut dapat dilakukan dengan pembangunan infrastruktur pengaman bencana. Pada tahap sosialisasi relokasi, masyarakat kurang tertarik dan cenderung tidak setuju relokasi Setelah tahap pertama pembangunan relokasi terlaksana, persetujuan dan kepercayaan masyarakat meningkat meskipun masih ada beberapa warga yang tetap tidak setuju dengn relokasi.

Lava flood in Jumoyo and Sirahan Villages, Salam Sub-district, Magelang Regency has caused damages in housing sector, infrastructures and agricultural lands. This disaster brought several consequences including implementation of spatial policy in disaster affected areas, disaster risk reduction policy and housing relocation. Until today the implementation of housing relocation policy has not been finished. The method used in this study was descriptive qualitative method to describe public perception on lava flood, disaster prone areas, disaster risk reduction and housing relocation. Data was collected from interviews, and questionnaires to respondents in Jumoyo and Sirahan Villages, with total population 785 heads of family and 99 samples, observation and documentation from local goverment official. The result of the study showed that some respondents perceived their former houses as safe for permanent residences and other respondents perceived that their former houses were unsafe for permanent residences. Disaster prone area implementation was approved by the public as a disaster mitigation effort, but some people disagreed if the location was not recommended for permanent residences. Some respondents perceived relocation as the best disaster risk reduction for affected areas, but others perceived that reduction risk disaster for the areas could be done with construction of disaster prevention infrastructures. During relocation socialization stage, the public was not interested and tended to disagree with the relocation. After the first stage of relocation construction was finished, public’s approval and trust increased although some still disagreed with relocation.

Kata Kunci : Persepsi, banjir lahar hujan, kawasan rawan bencana, relokasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.