Hikayat Pandawa Jaya :: Suntingan teks dan analisis intertekstual
SUDIBYO, Prof.Dr. Siti Chamamah Soeratno
2001 | Tesis | S2 SastraPenelitian ini terpusat pada transmisi teks BY dalam tradisi Jawa Kuna ke dalam tradisi Melayu melalui teks HPJ. Persoalan muncul dalam proses transmisi karena dalam tradisi sastra Melayu penyalin naskah memiliki kebebasan yang cukup besar. Penyalin Melayu bukan hanya seorang penyalin, melainkan ia dapat dianggap sebagai pengarang. Ia dapat memperbaiki hal-ha1 yang dianggap salah, menambah hal-ha1 yang dianggapnya kurang, dan mengurangkan hal-ha1 yang dianggapnya berlebih. Gejala ini menunjukkan besarnya peran penyalin Melayu dalam menyajikan kembali teksnya, yaitu dengan menyesuaikan teks sesuai dengan seleranya serta tuntutan masyarakatnya. Hal ini menyebabkan teks-teks sastra Melayu sampai ke tangan pembaca masa kini tidak dalam bentuk asalnya sebagaimana yang diciptakan oleh pengarang. Sebagaimana terlihat dalam HPJ, diketahui bahwa penyalin naskah melakukan pergulatan kreatif ketika mentransmisikan BY. Dalam proses ini terbayang adanya j aringan interkultural karena dalam praktik sang penyalin juga ber-peran sebagai perantara antarbudaya dan teoritikus transkultural yang bertugas mengintegrasikan pandangan kultural dan ideologi yang berbeda serta kondisi sosial yang berlainan ke dalam satu kaidah umum yang berlaku dalam tradisi Melayu. Peran penyalin yang seperti itu tampak dalam fenomena transformasi, modifikasi, dan dalam ha1 tertentu demitefikasi. Berdasarkan ha1 itu, penelitian ini antara lain bertujuan: (1) mengungkapkan kreativitas penyalin teks HPJ dalam mengintegrasikan dan mentans-formasikan hipogramnya; (2) menjelaskan bahwa dalam peristiwa pengalih-tradisian sastra dari tradisi Jawa ke tradisi Melayu terdapat tegangan antara inovasi dan konvensi yang dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya Melayu; dan (3) mengungkapkan bahwa dalam alih tradisi dari Jawa ke Melayu terjadi transformasi, modifikasi, serta reinterpretasi unsur-unsur tradisi Jawa ke dalam tradisi Melayu. Untuk mencapai tujuan itu, dalam penelitian ini, dimanfaatkan dua macam metode, yaitu metode filologi dan metode penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan intertekstualitas. Adapun hasil yang dicapai ialah bahwa dalam pengalihtradisian BY Jawa Kuna menjadi HPJ Melayu terdapat sejumlah konsekuensi. Alih genre dari kakawidpuisi menjadi hikayavprosa mengakibatkan teks yang bersangkutan mengalami alih fungsi, yakni fingsi ritual-purifikatif menj adi fbngsi hiburan. Di samping itu, transformasi, modifikasi, dan demitefikasi yang dilakukan hampir selalu berpijak pada kaidah estetika, kultur, serta ideologi Melayu.
This research is focused on the transmission of Bharata Yuddha (called by BY text in Old Javanese to the Malay tradition through Hikayat Pandawa Jaya (abbreviated as HPJ thereafter) text. The issue appeared within the process of transmission as in the Malay literature tradition, copyist absolutely had freedom. He/she was not only as a copyist, but he /she was also able to be regarded as an author. He could fix everything regarded as fault, add the things considered less and reduce everything regarded redundant. This phenomenon showed how great the role of the Malay copyist in presenting hidher text was, that is the appropriateness between the text itself and the desire and the demand of the communities. It caused the texts of Malay literature is accepted by the recent readers not in the form of its origin as the author creates. As seen in HPJ, it was known that a copyist engaged in a creative struggle when he/she transmits BY. In this process it was imagined that there was an intercultural networking because in practice the copyist also played a role as an intercultural middlemen and transcultural theoretician. He/she had a duty to integrate the different views of culture, ideology, and the different social conditions into common rules followed in Malay tradition. This role of the copyist exists in the phenomenon of transformation, modification and sometimes demythelogization. Based on that, this research aimed (1) to reveal the creativity of HPJ text copyist in integrating and transforming hidher hypogram (2) to confirm that there was a tension between innovation and convention influenced by the Malay socio-cultural condition in the literary tradition change from the Javanese tradition to the Malay tradition (3) to expose that in the tradition change from Javanese to Malay, transformations, modifications, and reinterpretations of the Javanese tradition elements to the Malay tradition emerged. To achieve the aims, two methods were employed in this research, namely philological and literary methods focusing on the intertextual theory. The result showed that the code-switching from Old Javanese BY to Malay HPJ brought a number of consequences. Genre-switching from kakawin in the form of poem to hikayat in the prose form caused the discussed text to have a change in fhction, that is from ritual-purifying to entertainment function. Besides, transformations, modifications, and demythologization applied to the text were always based on the Malay esthetic norms, culture and ideology.
Kata Kunci : Sastra Melayu,Hikayat Pandawa Jaya