JAVANESE ABANGAN WORLD VIEW AND PRACTICES IN IMOGIRI CEMETERY YOGYAKARTA
Saiful Mujab, Dr. Suhadi
2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaINTISARI (Cara Pandang/World View and Praktik-praktik Abangan di Pajimatan Imogiri Yogyakarta) Penelitian ini menbahas �bagaimana world view/cara pandang dan praktikpraktik abangan di Imogiri-Yogyakarta�. Secara garis besar penelitian ini dapat dikategorikan menjadi tiga pembahasan; 1. Konteks terminologi abangan dalam situasi sekarang 2. Praktik-praktik abangan di Imogiri yang dilakukan oleh; abdi dalem, peziarah dan pengunjung 3. Cara pandang/world view para pelaku praktikpraktik abangan. Dalam proses palaksanaan penelitian, metode yang diguanakan adalah pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan berbagai cara, diantaranya adalah: interview/wawancara, observasi serta mengikuti praktikpraktik abangan di lapangan secara langsung, dan mencatat setiap detail data maupun informasi yang diperoleh di lapangan. Penelitian ini melibatkan kurang lebih 10 abdi dalem dari kesultanan Yogyakarta dan Surakarta yang bertugas menjaga Pajimatan Imogiri, 15 peziarah, dan 13 pengunjung. Proses pengumpulan data dilakukan kurang lebih 5 bulan (April-Juli 2014). Beberapa teori dan penelitian yang berkaitan dengan abangan oleh berbagai ahli seperti; Clifford Geertz (1976), Andrew Betty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), dan Irving Hallowell (1960) digunakan untuk memperkaya data, informasi dan analisis pada pembahasan penelitian ini. Selanjutnya, berbagai kutipan, kritik, dan rujukan dari buku-buku mereka juga mewarnai setiap proses analisis. Semua usaha tersebut dilakuakan untuk memahami secara menyeluruh tentang objek penelitian yang ada. Akhirnya, pembahasan dalam tesis ini dapat disimpulkan menjadi tiga point penting, yaitu: 1. Berdasarkan temuan dan data di lapangan, definisi abangan yang disampaikan Geertz dan Ricklef tidak lagi kontekstual. Data di lapangan membuktikan bahwa berbagai kelompok; santri, priyayi dan bahkan non-muslim terlibat dalam praktik-praktik yang dikategorikan abangan. Fenomena ini membantah definisi Geertz yang membatasi bahwa abangan hanyalah kelompok petani dan masyarakat desa (Geertz, 1960:4-5) demikian pula pendapat Ricklefs yang juga membatasi abangan sebagi kelompok muslim yang tidat taat (Ricklefs, 2007:84). Selanjutnya, kategori abangan yang melekat sebagai salah satu karakter keberagamaan orang Jawa dewasa ini juga cenderung lebih fleksbel, lentur, dan mudah berubah. 2. Berapa upacara dan ritual di Pajimatan Imogiri, seperti; nguras enceh, ngluru pesugihan, upacara ruwahan/sadranan, ziarah/nyekar, upacara membawa pulang kayu dari pohon wunglen, upacara peringatan kemerdekaan Indonesia, dan uparaca keliling Pajimatan Imogiri sebagian besar mengandung beberapa komponen yang bisa dikategorikan sebagai bagian dari karakter abangan 3. Para pelaku praktik-praktik abangan di Imogiri secara umum memiliki cara pandang/world view bahwa dirinya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan eksistensi makhluk supranatural/other-than-human disekelilingnya. Mereka percaya bawa antara dirinya sebagai makhluk hidup (human being) dan makhluk supranatural/other-than-human selalu saling berkaitan, mempengaruhi, dan berhubungan antara satu dan yang lainnya. Kata Kunci: abangan, praktik, dan cara pandang/world view
ABSTRACT (Javanese Abangan World View and Practices in Pajimatan Imogiri Yogyakarta) This Research is principally concerned on the issue how �world view� and practices of Javanese abangan in Imogiri cemetery. The research discusses three major issues, namely: (1) the context of abangan term for Javanese people in the present day (2) the courtiers (abdi dalem), pilgrims, and visitor practices include; ritual, ceremonies, and other disciplines which categorized as abangan practices (3) the �world view� of Javanese abangan in understanding their practices on Imogiri cemetery. The process to answer the questions is based on field research using ethnographical methods. The procedure of gathering data and information uses some techniques, explicitly; interview, participant observation, and recording each detail material in the field. Interview further has done by interviewed more or less 10 courtiers (abdi dalem), 15 pilgrims, and 13 visitors in Imogiri cemetery. Additionally, the process of gathering data in the field includes; participant observation and recording each material in the field was conducted in April up till July 2014. All techniques above are effort to understand deeply toward Javanese abangan�s �world view� and practices in Imogiri cemetery. Some theories convoyed by Clifford Geertz (1976), Andrew Betty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), and Irving Hallowell (1960) are consistently used in this thesis in order to enrich the analysis process. All of theories are quoted, criticized, and compared among each other to conduct the process of analysis in this research. Finally, by using descriptive and interpretive approaches, this research concludes three points: (1) Now days, the term of abangan by Geertz and Ricklefs is not really relevant. Based on the phenomenon of pilgrims and visitors of Imogiri cemetery, it proves that many santri, priyayi, and non-Muslim also practice abangan ritual and ceremonies. This phenomenon refuse to Geertz definition who claims that abangan is only group of farmer and Javanese village (Geertz, 1960:4-5) and Ricklefs who claims that abangan is only a group of nonpracticing Muslim (Ricklefs, 2007:84). Additionally the stratification boundaries among santri, abangan and priyayi are open and relative. (2) ceremonies of Imogiri; nguras enceh (drained enceh), seeking blessing (ngluru pesugihan), the ruwahan ceremony/sadranan, the pilgrimage ceremony/nyekar, the ceremony of bringing wunglen wood in Imogiri, the ceremony of Indonesian independent day celebration, the circling ritual of Imogiri cemetery mostly related by any abangan categories and all of them still exist in the present day (3) the �world view� of Javanese abangan in practicing rituals and ceremonies in Imogiri cemetery keeps effort to preserve and maintain their relation between the other-thanhuman/persons. The efforts is started based on the awareness and �world view� that actually among the human being and other-than-human are unity, linked, and influence among each other Key words: abangan, practices, and world view
Kata Kunci : Key words: abangan , practices , and world view