Laporkan Masalah

Wacana Ecotourism, Antara Tuntunan dan Tontonan, Studi Kasus Masyarakat Adat Kampung Naga

Ridho Afifudin, Dr. Samsul Maarif

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Setiap komunitas memiliki cara sendiri dalam melihat dan mengatur hubungan mereka dengan lingkungan. Dalam realitanya, masyarakat lokal juga memiliki pandangan dunia masing-masing yang mereka warisi dari nenek moyang. Secara ekologis, masyarakat Kampung Naga mampu mewujudkan realita kehidupan yang selaras dan harmoni dalam lingkungannya. Di satu sisi, mereka berhadapan dengan gelombang masyarakat luar yang berupaya menjalin relasi dengan Kampung Naga. Sebagai salah satu implikasi yang muncul darinya adalah tentang wacana ecotourism. Pertemuan di antara masyarakat Kampung Naga dan masyarakat luar tersebut berpengaruh terhadap dinamika lokal. Di satu sisi, mereka berupaya untuk menjaga tradisi dan tuntunan dari leluhur dan di sisi lain mereka juga berhadapan dengan dinamika sosial yang selalu berubah. Adapun penelitian ini, akan membahas pertama tentang bagaimana Kampung Naga mempersepsikan dan mengaplikasikan tuntunan hidup dalam relasinya dengan pelestarian lingkungan. Kedua, yakni mendiskusikan bagaimana masyarakat Kampung Naga bernegosiasi terhadap ecotourism serta implikasi-implikasi yang dimunculkan darinya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan etnografi. Sebagai hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi Kampung Naga dan pemahaman yang mendalam terhadap tuntunan hidup merupakan basis kekuatan untuk bertahan dalam tradisi lokal. Melalui ecotourism, di satu sisi mereka mampu menjalankan tuntunan hidup dari leluhur, dan di sisi lain, mereka dengan ekologi tradisionalnya mampu mewujudkan hubungan timbal balik dengan masyarakat luar yang datang. Penulis membagi tiga bentuk variabel yang dapat terjadi dalam dinamika Kampung Naga. Pertama adalah kemajuan. Melalui proses membuka diri; ini akan membentuk masyarakat yang dinamis. Terdapat hubungan timbal balik yang terjadi antara masyarakat adat dan pengunjung. Dengan demikian, tidak ada salahnya perubahan terjadi di Kampung Naga baik dalam ekologi, politik dan bahkan perubahan ekonomi. Kedua adalah kemunduran, dengan membuka diri, maka akan menghasilkan perubahan pola tradisi leluhur. Ketiga adalah tantangan, karena melibatkan dua konteks yang berbeda. Pengetahuan ekologi hari ini berbeda dengan ekologi masa lalu. Hal ini lebih bersifat temporal. Jadi, apakah mereka lebih memilih dengan gaya tradisionalnya atau justru menggunakan produk modern seperti pupuk dari pemerintah, ini akan tergantung dari pilihan masyarakat Kampung Naga.

In relation to the environment, each community has its own way of perceiving, managing and treating it. In reality, indigenous peoples have their own way in their world view inherited from ancestors. Ecologically, Kampung Naga society is able to realize the reality of life that is in harmony with the environment. But, on the other hand, they are faced with the reality of the outside of them, which is ecotourism. From this meeting brings Kampung Naga to more complex domains. On the one hand they need to survive in life and guidance on the one hand they are dealing with a dynamic society. Therefore, this study tried to find a meeting point between the two. The focuses of the issues rose in this study, first is to elaborate Kampung Naga community in perceiving and applying the guidance of live in relation to environmental conservation. The second is describing how Kampung Naga community negotiates within ecotourism and its implication. This research is a field research using an ethnographic approach. As a result of this study indicate that the community of Kampung Naga understands the life guidance as the basic foundation to survive in tradition. Through ecotourism, in one hand they could run life guidance from ancestors, and on the other hand, those with traditional ecological knowledge is able to build reciprocal relationships with the guests. However, it is still possible that will cover the development of traditional cultural practices in Kampung Naga. Here, the researchers divided the three forms of the variables that can occur in the dynamics of Kampung Naga. The first is progress, with the process of opening up; it will form a dynamic society. Therein lays the reciprocal relationship can occur between complementary indigenous people and the visitors. Thus, there is no harm in a change occurred in Kampung Naga, ecologically, politically and even economic change. The second is a setback, with the opening up; it results in changing patterns of ancestral traditions. The third is a challenge, because it involves two different contexts, different ecological community today among the past to present. It is more temporal. So, whether they prefer a traditional style or will use modern products such as fertilizer from the government through the cooperative. Also for their lifestyle, whether they are ready to be seen as indigenous communities who still run the ancestral tradition, or just the opposite.

Kata Kunci : Indigenous community , traditional ecology , ecotourism


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.