PERAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA AKSI PENGURANGAN RISIKO BENCANA PADA TINGKAT KOMUNITAS STUDI KASUS: KAMPUNG JOGOYUDAN, KELURAHAN GOWONGAN, KECAMATAN JETIS, KOTA YOGYAKARTA
Jenik Dwi Suspeni, Ir. Suryanto, MSP.
2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahBencana gempa Mei 2006 menyadarkan masyarakat Kota Yogyakarta bahwa pengurangan risiko bencana saat ini menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Kondisi geografis, geologis dan historis meletakkan Indonesia pada wilayah rawan bencana, sehingga diperlukan kesadaran untuk melakukan upaya pengurangan risiko bencana yang mendasar dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Penyusunan rencana aksi pengurangan risiko bencana pada tingkat komunitas menjadi sebuah perencanaan partisipatif yang bersifat bottom up, diharapkan dapat menjawab permasalahan aktual masyarakat setempat dan memunculkan sebuah alternatif penyelesaian problema yang muncul dengan merangsang peran serta masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendiskripsikan dan mengkaji peran serta masyarakat dalam proses penyusunan perencanaan partisipatif rencana aksi penanggulangan bencana pada level grass-root; dan (2) mengambil pembelajaran dari proses tersebut sehingga ada rekomendasi untuk alternatif proses dalam kegiatan replikasinya. Wilayah penelitian di Kampung Jogoyudan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, menjadi sebuah laboratorium percontohan untuk wilayah urban dengan tingkat kerawanan ancaman bencana yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan bahwa bentuk peran serta masyarakat berupa tenaga, pikiran, waktu, materi dan uang; dengan tingkat peran serta yang tinggi dan bebas dari paksaan dan tekanan. Bentuk dan tingkat peran serta masyarakat dipengaruhi oleh faktor internal yaitu: tingkat perekonomian; tingkat pendidikan anggota pokja; pengalaman tentang bencana; dukungan moral dari tokoh masyarakat; tingkat persepsi manfaat keterlibatan; kebutuhan masyarakat akan manajemen bencana; tingkat pemahaman terhadap program, dan faktor eksternal yaitu: kredibilitas dan karakter LSM/NGO; bantuan dari LSM/NGO; dan jenis bantuan yang ada atau pernah diterima oleh masyarakat setempat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peran serta masyarakat dalam pernyusunan RAK PRB adalah pada posisi transisi antara tingkat Kemitraan dan Delegated Power atau Pelimpahan Kekuasaan. Beberapa faktor mendasar yang harus digarisbawahi adalah metode partisipatif merupakan media untuk menggali kearifan dan kejeniusan lokal untuk menjawab masalah dan kebutuhan aktual masyarakat dan memampukan untuk mandiri dan memiliki tingkat kontrol atas hidup dan lingkungan mereka sendiri.
The Mei 2006 earthquake has made people of Yogyakarta been awared that the Disaster Risk Reduction (DRR) became government’s responsibility and people’s as well. Indonesia has been placed in vulnerable area in term of geography, geology and history, so it take an awareness to do all efforts to reduce the risk in pricipal ways dan engage with community directly. The development of disaster risk reduction action plan in the grass root level is a bottom up participatory planning which meant to answer the real problems dan emerge alternatives to solve it and stimulate participation of the people. The objectives of this research are (1) to discribe and analize participation of community within the process of DRR action plan development in grass root level; and (2) to take a lesson learnt and result recomendations for its replication. The research took place in Kampung Jogoyudan, Jetis Sub District, Yogyakarta Municipality, and being a pioneer laboratory for urban area with multiple hazards of disaster. This research found the forms of community participation were energy, idea/mind, time, material and money, high level of participation free from any force nor pressure. The participation were influenced by internal factors such as economic level, education level, disaster experiences, morally support from key persons within community, perception level of being envolve in process, community need of disaster management, understanding level toward the program; and extenal factors such as credibility and character of NGO, aid form NGO, and the aid been received by the community. The conclusion of the research about the participation of community was in a transition point between partnership degree and Delegated Power. Some credit points can be drawn as weel were about participation method was being a media to digging up the local wise and local genius, how the participation method able to solved the emerging problems and answered actual needs of the people, and empowered them to be self-suficient and have a control in their life and enviroment.
Kata Kunci : -