Laporkan Masalah

THE DYNAMIC OF VIHARA IDENTITY AND CAP GO MEH AS THE CULTURAL INTERACTION SPACE (STUDY OF BUDDHIST-TIONGHOA IN MAKASSAR)

Batari Oja, Suhardi, Pd.D

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Thesis ini adalah studi Tionghoa di Indonesia pasca reformasi. Selama ini orang Tionghoa berusaha membangun kembali identitas primordial mereka, yang mereka sebut sebagai Tradisi, namun di sisi lain, mereka mendapatkan legitimasi dengan menempel pada agama resmi yang diakui oleh negara, yakni Buddha. Oleh karena itu, sejak masa Orde Baru beberapa Klenteng (tempat ibadah tradisi Tionghoa) kemudian disebut sebagai Vihara. Thesis ini mencoba melihat batas-batas budaya antara Tradisi dan Buddhisme, dengan melihat ciri-ciri simbolis yang terdapat di dalam keduanya. Dari sini kemudian, dapat dilihat kategori-kategori Vihara-vihara yang ada di Makassar. Cap go Meh, sebagai ruang interaksi budaya, merupakan sample yang sangat membantu dalam observasi untuk melihat ciri-ciri simbolis tersebut. Namun, pada Cap go Meh tahun 2014, orang Tionghoa mulai merepresentasikan identitas etnis mereka sebagai Tionghoa, dan bukan identitas agama mereka, sebagai umat Buddha. Oleh karena itu, Cap go Meh sendiri merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji; yakni sebagai ruang merepresentasikan identitas, sebagai acara yang lepas dari label agama, dan sebagai acara yang mandiri dari politik negara. Hal ini merupakan sebuah progress dari budaya Tionghoa di Indonesia pasca Soeharto. Di sisi lain, ini sebuah hal yang mengagumkan, bagaimana studi agama dapat menjadi pintu masuk untuk melihat dimensi lain dari perkembangan sejarah dan politik.

This thesis is a Tionghoa Study in Indonesia post-reformation. During this era, Tionghoa people tried to rebuild their primordial identity, so called “Tradition”. Meanwhile, on the other hand, they gained legitimacy from the government by embracing the state official religion, namely Buddhism. Therefore, since New Order Era, many Klentengs (Tionghoa Shrines) are considered as Vihara. This thesis discusses the boundary between Tradition and Buddhism by looking at the symbolic features in them. Then, it finds the category of Viharas in Makassar. Cap go Meh, as the cultural interaction space, is a very helpful sample in observation for looking at the symbolic features. However, on Cap go Meh 2014, Tionghoa begin to present their ethnic identity as Tionghoa, and not their religious identity as Buddhist. Therefore, Cap go Meh is an interesting phenomenon to discuss; it is a space of representing identity, as an event beyond religious label, and as an independent event from state politics. It is a progress of Tionghoa culture in Indonesia post-Soeharto. On the other side, it is also an astonishing result of how religious studies can be an entrance into another dimension of historical and political genealogy.

Kata Kunci : Vihara, Klenteng, Tradition, Tionghoa, Cap go Meh.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.