Laporkan Masalah

PERAN HUTAN KOTA TERHADAP KESEJAHTERAAN SUBYEKTIF PENDUDUK PERKOTAAN +62814KASUS HUTAN KOTA SRENGSENG DI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT

Febriana Triasnani, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A.,Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Konsep Kesejahteraan Subyektif merupakan salah satu konsep penting yang dapat digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup seseorang. Pengukuran kualitas hidup secara obyektif telah lama digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup pada tingkat bangsa atau masyarakat,namun demikian kajian-kajian terbaru membuktikan bahwa penggunaan indikator-indikator obyektif secara sendirian tidaklah cukup untuk menggambarkan kondisi kualitas hidup sebagaimana yang seharusnya, terutama pada tingkat individu. Kajian-kajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi adanya variabilitas di dalam kesejahteraan subyektif antar individu sebagian besar dilakukan dengan pendekatan sosial dan psikologis manusia, namun informasi mengenai bagaimana aspek spasial seseorang yaitu lokasi dimana seseorang tinggal berhubungan dengan kesejahteraan subyektifnya belum banyak diketahui. Di sisi lain, keberadaan hutan kota di dalam kawasan perkotaan dengan berbagai karakteristiknya dan kebutuhan penduduk perkotaan masa kini, diangap memiliki potensi dalam meningkatkan kesejahteraan subyektif para penduduk yang tinggal di sekitarnya. Kemudahan akses menuju hutan kota dari tempat dimana seseorang tinggal merupakan kunci penting dalam memaksimalkan fungsi hutan kota, selain faktor distribusi dan alokasi lahan hutan kota. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana kemudahan akses menuju hutan kota kemungkinan dapata berkontribusi terhadap kesejahteraan subyektif. Pertanyaan utama penelitian ini adalah “apakah terdapat hubungan antara kemudahan akses menuju hutan kota dan tingkat pemanfaatan hutan kota dengan tingkat kesejahteraan subyektif masyarakat terutama yang tinggal di sekitar hutan kota?” Penelitian ini menggunakan metode deduktif kuantitatif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner baik online maupun yang disebar di dalam kawasan hutan kota. Diperoleh 148 responden yang bersedia berpartisipasi dalam pengisian kuesioner, dengan komposisi sebanyak 81 responden merupakan pengunjung hutan kota Srengseng dan 67 responden belum pernah mengunjungi hutan kota Srengseng. Seluruh data dianalisa menggunakan aplikasi statiistik berbasis komputer dengan menggunakan uji-uji statistika yang tepat yang disesuaikan dengan jenis pertanyaan-pertanyaan penelitian dan data yang dimiliki. Kesejahteraan subyektif merupakan konsep yang relatif luas dan dapat menjangkau berbagai macam aspek dalam kehidupan manusia, oleh karena itu jangkauan penelitian dibatasi pada pembahasan kesejahteraan subyektif pada 4 (empat) macam ranah yaitu kesehatan fisik yang dirasakan, hubungan sosial sebagaimana yang dipersepsikan, hubungan kedekatan individu dengan alam dan tingkat kebahagiaan. Pengukuran kesejahteraan subyektif dilakukan dengan menggunakan instrumen ukur yang sudaha terbukti memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi. Analisa menunjukkan bahwa kemudahan akses menuju Hutan Kota Srengseng berhubungan secara positif dengan kondisi kesehatan fisik, perubahan kondisi kesehatan fisik serta tingkat kebahagiaan seseorang. Selain itu, perilaku mengunjungi Hutan Kota Srengseng juga terbukti berhubungan secara positif dengan kondisi kesehatan fisik dan perubahan kondisi kesehatan fisik. Analisa faktor dominan menunjukkan bahwa faktor-faktor yang paling mempengaruhi tingkat kesejahteraan subyektif adalah faktor demografis dan faktor perilaku pemanfaatan Hutan Kota. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kedekatan lokasi tempat tinggal seseorang terhadap Hutan Kota merupakan faktor kunci dalam memaksimalkan pemanfaatan Hutan Kota melalui kunjungan, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap tingkat xiii kesejahteraan subyektif seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut, intervensi pemerintah setempat dalam pengaturan tata ruang kota yang dapat memudahkan akses menuju Hutan Kota atau meminimalisir jarak yang harus ditempuh menuju Hutan Kota sangat direkomendasikan.

The concept of subjective well-being is one the important concepts that can be used to describe the level of human quality of life. The objective measurement of well-being has long been used to measure quality of life at national or community level, although so recent studies show that using an objective indicator alone is not enough to describe the human’s quality of life as it is,especially at individual level. While investigation on factors responsible for the variability of subjective well-being has been mostly done on psychological and social domains, the information on how individual spatial aspects or the location where a person live related to subjective well-being is not very well understood. On the other hand, the existence of Urban Forest in an urban environment nowadays is considered to potential to increase subjective well-being of urban residents. Ease of access to Urban Forest from the location where someone lives is another important key to maximalization or Urban Forest utilization besides its distribution and allocation of the area. Therefore, it is important to examine how ease of access to Urban Forest may contibute to the subjective well-being level at individual level. This is the main focus of the research. The main research question is “ Is there any relationship between the ease of access to Srengseng Urban Forest, the level of Urban Forest utilization and the subjective wellbeing of urban communiteis mainly living around the Urban Forest ?” The research employed an deductive-quantitative technique to answer the question. Data was collected using questionairre and field observation. There are 148 respondents consists of 81 urban forest visitor and 67 non visitor who are willing to fill out the questionairre. Questionairres were distributed inside the area of Srengseng Urban Forest and also using online questionnaire to gather evaluations from non visitor respondents. All data is analyzed quantitatively using statistical computer software using appropriate statistical tests to answer each sub research questions. Since subjective well-being is a relatively broad concept, the research is limited to 4 (four) aspects of life domains,namely subjective physical health status and change, perceived social relationship, nature connectedness and happiness, all at individual level. Measurement tools with high reliability and validity is used to measure individual subjective well-being. Analysis shows that ease of access to urban forest is positively associated with physical health conditions, changes in physical health and happiness levels. In addition, the behavior pattern of visitation to urban forest also shown to be associated positively with physical health conditions and physical health conditions change. Analysis of dominant factors indicate that the factors influence the variability in subjective well-being the most is the demographic factors and behavioral factors in visiting urban forest. The conclusion from this study is that the proximity of the location of one's home to the urban forest is a key factor in maximizing the utilization of urban forest through visits, which in turn will have a positive impact on the level of individual subjective well-being . In connection with this, the local government intervention in urban spatial arrangements that can facilitate easy access to nearest urban forest or to minimize the distance to nearest urban forest is highly recommended.

Kata Kunci : kesejahteraan subyektif , kemudahan akses, pemanfaatan Hutan Kota, pola perilaku mengunjungi Hutan Kota


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.