Laporkan Masalah

PERKEMBANGAN KESENIAN KUDA LUMPING DI DESA WISATA KEJI KABUPATEN SEMARANG

Lesa Paranti, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, S.Ant., M.Hum.

2014 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Kesenian Kuda Lumping merupakan salah satu kesenian rakyat yang dapat dikatakan benar-benar „merakyat‟, karena kesenian ini tersebar di berbagai tempat di Indonesia khususnya di pulau Jawa dan banyak dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang masih menganggap Kuda Lumping menjadi bagian dari ekspresi komunalnya yaitu masyarakat Desa Wisata Keji Kabupaten Semarang. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini antara lain mengapa muncul keragaman kesenian Kuda Lumping di Desa Wisata Keji, bagaimana perkembangan bentuk penyajian, dan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi perkembangan kesenian Kuda Lumping di Desa Wisata Keji. Metode penelitian yang digunakan dalaman ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Pendekatan etnokoreologi memungkinkan penggunaan beberapa disiplin ilmu (multidisiplin) untuk membedah masalah penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis penelitian ini melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring berkembangnya jaman kesenian Kuda Lumping di Desa Keji dapat terus hidup mengikuti selera masyarakat. Perkembangan kesenian Kuda Lumping dapat dilihat dari sisi kualitas dan kuantitas penyajian. Perkembangan secara kualitas terjadi pada bentuk penyajian Kuda Lumping. Proses perubahan bentuk penyajian Kuda Lumping merupakan indikator dari adanya penyesuaian untuk dapat memenuhi fungsi kesenian Kuda Lumping. Secara kuantitas dapat dilihat dari makin bertambahnya bentuk penyajian Kuda Lumping, meningkatnya pelaku dan penikmat kesenian Kuda Lumping, bertambahnya frekuensi penyajian, dan semakin luas wilayah pengenalannya. Perkembangan kesenian Kuda Lumping di Desa Keji dapat terjadi karena adanya faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi motivasi pelaku, partisipasi masyarakat Desa Keji, nilai-nilai tradisi yang masih melekat, dan adanya regenerasi. Adapun faktor eksternal meliputi interaksi sosial, industri pariwisata, dan arus teknologi. Hadirnya pariwisata memungkinkan adanya peluang dan hambatan bagi keberlangsungan kesenian ini, sehingga pelaku kesenian Kuda Lumping diharapkan dapat mengatur manajemen pengelolaan agar kesenian ini dapat terus hidup dan berkembang.

Kuda Lumping is one of folk art can be said to be truly 'populist', because this art scattered in various places in Indonesia, especially in Java and much enjoyed by all levels of society. One of the groups who still consider Kuda Lumping as one part of the public communal expression is Keji Tourism Village in Semarang regency. Issues raised in this study, among others, why the emerging diversity of Kuda Lumping in Keji Tourism Village, how the development of forms of presentation, and what are the factors that influence the development of the Kuda Lumping in Keji Tourism Village. The method which used in this study is qualitative methods ethnochoreology approach. Ethnochoreology approach allows the use of several disciplines (multidisciplinary) to dissect the research problem. Data collection techniques used was observation, interviews, and documentation. The analysis of this research is done through data reduction, data display and conclusion drawing / verification. The results showed that with a growing era, Kuda Lumping still survive in Keji Village as a flow as the public taste. Kuda Lumping development can be seen in terms of quality and quantity of the presentation. Developments in quality occur in the form of presentation of Kuda Lumping. The process of change in the form of presentation of Kuda Lumping is an indicator of the presence of the adjustment to be able to fulfill the function of Kuda Lumping. The quantity can be seen from the rising form of presentation of Kuda Lumping, rising actor and art connoisseur Kuda Lumping, increasing the frequency of performance, and the area of introduction. Kuda Lumping development in the Keji Village can be occurred due to internal and external factors. Internal factors include offender motivation, community participation of Keji Village, traditional values are still attached, and regeneration. The external factors include social interaction, the tourism industry, and technology flows. The presence of tourism opportunities and constraints allow for the continuation of this art, so Kuda Lumping actor are expected to regulate the management of the arts can continue to live and thrive.

Kata Kunci : Perkembangan, Kuda Lumping, Wisata


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.