DINAMIKA PERANTAU MADURA DALAM POLITIK KOTA MALANG (SUATU KAJIAN ANTROPOLOGI POLITIK)
KHOTIM UBAIDILLAH, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA.
2014 | Tesis | S2 Antropologitradisi kajian politik lokal di Indonesia yang selama ini cenderung menjadikan warga tempatan (orang lokal atau “orang asliâ€) sebagai titik fokusnya. Penelitian ini mengkaji mengenai dinamika politik warga pendatang yaitu para perantau Madura yang ada di Kota Malang. Selama beberapa periode politik pemerintahan lokal dijalankan, warga Madura di Kota Malang hanya menjadi ajang perebutan suara oleh kelompok-kelompok kepentingan politik yang turut bermain dalam momentum pemilihan seperti Pemilukada maupun Pemilu Legislatif, karena secara kuantitatif, kelompok pendatang ini memunyai potensi elektoral yang cukup signifikan. Dengan menggunakan perspektif antropologi politiknya F.G Bailey, penelitian ini lebih jauh ingin melihat sistem politik yang dibangun dari kehidupan struktur politik dan keadaan lingkungan dimana ‘organisasi’ politik itu bekerja dengan kemampuan mempertahankan budaya politik, beradaptasi, memodifikasi diri atau berubah sama sekali. Selaras dengan uraian teoritiknya Bailey, tradisi atau struktur politik perantau Madura di Malang ter-’organisir’ secara dinamis melalui lima struktur yaitu adanya “hadiahâ€, para personil (komunitas politik, elit politik, dan pendukung), kepemimpinan, jalannya pertandingan dan kontrol ‘pihak berwenang’. Dinamika di arena politik memperlihatkan konfigurasi peran elit lokal (blater) bertaut dengan praktik ritual keagamaan dan kecenderungan penggunaan politik uang yang jamak dalam kehidupan politik di Indonesia dewasa ini. Meskipun pada akhirnya dinamika politik orang-orang Madura di Kota Malang turut memberikan sumbangsih pada perubahan mutakhir situasi politik Kota Malang, kebijakan pembangunan terhadap warga pendatang tidak berbanding lurus dengan peran dan kontribusi politik yang diberikan selama ini.
The study at hand opens up a new horizon in the analysis of the tradition of the study of local politics in Indonesia which focuses on local inhabitants. The study examines the political dynamics among Madurese migrants in Malang. In some periods of local politics in Malang, the political groups fight for Madurese migrants’ votes in local elections, such as Pemilukada (election of the regent) and legislative elections. Competition over the migrants’ votes is due to their high quantitative electoral potential. By employing F.G. Bailey’s perspective in political anthropology, the author analyses an in-depth political system of political structure and an environment where the political ‘organization’ works by sustaining the political culture, adapting and modifying themselves or totally changing. In line with Bailey’s theory, Madurese migrants in Malang are dynamically organized in five patterns in the political structure. These patterns are “giftsâ€, personnel (political community, political elite, and supporters), leadership, competition, and control. The dynamics in the political arena reveal the significance of the intertwinements between the role of the local elite (blater) as connected to religious rituals as well as the tendency of money politics in the political landscape in Indonesia. Even though the political dynamics within the Madurese community in Malang contributed to political change in Malang, the development of the Madurese’ settlements in Malang are not in line with the official public policy of the political elite and their political contribution given did not result in a realization of leaders’ promises.
Kata Kunci : Dinamika, Politik, Perantau Madura, Kota Malang, Kotamadu, elit lokal