Laporkan Masalah

PERBANDINGAN TINGKAT KEBAHAGIAAN ANTARA PENDUDUK DUSUN NGAJARAN, SIDOMULYO, BAMBANGLIPURO, BANTUL, DIY DENGAN PEGAWAI KEMENTERIAN KEUANGAN JAKARTA

Mursyidi Prihantono, Prof. Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A.

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbandingan tingkat kebahagiaan antara penduduk dusun Ngajaran, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, DIY dengan pegawai Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Anggaran), Jakarta. Dari dua kelompok tersebut diperbandingkan secara rata-rata, kelompok mana yang tingkat kebahagiaannya lebih tinggi. Pengukuran kebahagiaan dilakukan dengan menggunakan sebagian besar indikator dan variabel Gross National Happiness (GNH) yakni: Kepuasan Hidup, Emosi Positif, Emosi Negatif, Spiritualitas, Standar Hidup, Pemerintahan yang Baik, dan menggabungkannya dengan indikator kebahagiaan yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, yakni Qolbun Syakirun, dan al-Malul Halal. Kuesioner terdiri dari 6 indikator dan masing-masing indikator terdiri dari 3 variabel (pertanyaan) dengan menggunakan skala Likert. Dari keseluruhan kuesioner yang disebar, dilakukan pengklasifikasian kelompok yang masuk dalam kategori Tidak/belum Bahagia, Bahagia, dan Sangat Bahagia. Hasilnya, untuk penduduk Ngajaran terdapat 12 prosen responden yang Tidak/Belum Berbahagia, 86 prosen Bahagia, dan 2 prosen Sangat Bahagia. Sedangkan untuk pegawai Kementerian Keuangan terdapat 11 prosen responden yang Tidak/ Belum Bahagia, 86 prosen Bahagia, dan 3 prosen Sangat Bahagia. Dari hasil perhitungan statistik diketahui bahwa rata-rata tingkat kebahagiaan pegawai Kementerian Keuangan Jakarta, tidak berbeda secara signifikan dengan tingkat kebahagiaan penduduk dusun Ngajaran. Sedangkan untuk indikator yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan, secara bersamasama adalah Spiritualitas, sementara secara sendiri-sendiri, untuk masing-masing kelompok, indikator yang paling berpengaruh adalah Emosi Negatif.

This study aimed to compare level of happiness between Ngajaran villagers, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, DIY with employees of the Ministry of Finance (Directorate General of Budget), Jakarta. The two groups were compared to know on average, which one of the group have higher level than other. The level of happiness measured by using most of indicators and variables of Gross National Happiness (GNH) which aspects: Life Satisfaction, Positive Emotions, Negative Emotions, Spirituality, Living Standard, and Good Government. The GNH indicators were combined with happiness indicators proposed by Ibn Abbas: Qolbun Syakirun, and al-Malul Halal. The questionnaire consists of 6 indicators and 18 variables (questions) using a Likert scale. All of the questionnaires distributed, classified in to groups that fall into the 3 category: Unhappy/Not-yet Happy, Happy, and Deeply Happy. The result, for Ngajaran villagers,12 percent of respondents are Unhappy/Not-yet Happy, 86 percent Happy, and 2 percent Deeply Happy. Beside, the employees of the Ministry of Finance, 11 percent of respondents are Unhappy/Not-yet Happy, 86 percent Happy, and 3 percent Deeply Happy. From the statistical calculation known that the average level of happiness of employees of the Ministry of Finance, Jakarta, is not different with the level of happiness of the Ngajaran villagers. The most important indicator to influence level of happiness is Spirituality (both of them). For each group, the most influential indicator is Negative Emotions.

Kata Kunci : Kebahagiaan, Kementerian Keuangan, Dusun Ngajaran


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.