Laporkan Masalah

ASING DI TANAH ASAL Pergulatan Identitas Petani Bali Eks Transmigran Timor Timur 1999-2005

I PUTU HENDRA MAS M, Dr. Budiawan

2014 | Tesis | S2 Sejarah

Tesis ini mengkaji pergulatan identitas Bali perantau di tanah asal (1999- 2005) pasca pengumuman hasil jajak pendapat Timor Timur yang dimenangkan pihak pro kemerdekaan. Berlatar reifikasi ke-“Bali” an dan label politis di masa lalu, keterputusan budaya yang dialaminya ketika menjadi transmigran berujung pada krisis identitas yang diperlihatkan oleh keterasingan, kemiskinan, dan rasa malu. Pemulihan-pemulihan identitas dijalani dalam kondisi tersisih dari pergaulan sosial. Perbedaan persepsi tentang “Bali” antara apa yang dibayangkan dan apa yang menjadi kenyataan tidak selalu sejalan. Oleh karena itu, tanah adalah kebutuhan utama dan pertama yang berfungsi bukan saja sebagai ruang memperlihatkan praktik ke-“Bali” an melainkan juga alat memutus rantai kemiskinan dan melakukan mobilitas vertikal. Namun, ketidakhadiran masa lalu yang dilegitimasi oleh tradisi lisan mengakibatkan upaya menjadi “Bali” selalu mengalami kegagalan. Sumber primer tesis ini didapatkan melalui metode wawancara, sedangkan sumber sekunder berasal dari koran, buku, artikel, laporan, dan jurnal. Tesis ini berkesimpulan bahwa penolakan merupakan sikap yang dihasilkan dari reproduksi pengalaman masa lalu orang Bali yang membatin pasca Orde Baru dan dipengaruhi oleh tendensi politis. Pada sisi yang lain, upaya memulihkan identitas di ruang yang terpinggirkan merupakan implikasi untuk mengaburkan keberadaan yang akan menghasilkan suara-suara sumbang ketika meminta keadilan. Kata kunci : Asing, tanah asal, identitas

This thesis examines the identity struggle of Bali migrants in the homeland (1999-2005) after the results announcement of East Timor poll which was won by pro-independence parties. As reification background of “Bali” or ke-“Bali” an and political label in the past, cultural discontinuity experienced when it became transmigrants led to the crisis of identity shown by alienation, poverty, and embarrassed. Identity restorations are undertaken in marginalized conditions from social interaction. Differences perception about \\"Bali\\" between what is imagined and what is the true happened not always consistent. Therefore, land is a major and the first requirement which aimed not only as a space to show the practice of ke-\\"Bali\\" an but also as a tool to drop the chain of poverty and do vertical mobility. However, the presence of past legitimized by oral tradition resulted the efforts to become \\"Bali\\" always get failed. The primary source of the thesis is obtained through interview method, while the secondary source is derived from newspapers, books, articles, reports, and journals. The thesis concludes that a refusal is an attitude which is generated from embodied of past experience reproductive of Balinese thought after the New Order and was influenced by the political tendencies. On the other hand, efforts to restore the identity in the marginalized place is the implications to obscure the presence of people who give discordant noises when they ask for justice. Keywords: Foreign, homeland, identity

Kata Kunci : Asing, tanah asal, identitas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.