Laporkan Masalah

Analisis Proses Pengendapan dan Lingkungan Pengendapan Serpih Formasi Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta Berdasarkan Data Batuan Inti

AHMAD ZAKARIYA AL ANSORI, Dr. Donatus Hendra Amijaya, S.T., M.T

2014 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi gas serpih yang cukup besar. Batuan induk di Indonesia bagian barat yang berpotensi sebagai target eksplorasi gas serpih pada umumya adalah serpih endapan synrift yang berumur Eosen hingga Oligosen. Akan tetapi data mengenai hal tersebut masih terbatas. Formasi Nanggulan yang tersingkap di Kulon Progo, Yogyakarta merupakan salah satu interval serpih yang berumur Eosen. Studi lebih lanjut mengenai Formasi Nanggulan di Kulon Progo bertujuan untuk mengetahui proses pengendapan dan lingkungan pengendapan serpih Eosen lebih detail. Penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis litofasies dan asosiasi litofasies dari data batuan inti. Suksesi litofasies serpih Formasi Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta berdasarkan data batuan inti meliputi 1. Laminated sandstone facies, 2. Massive sandstone facies, 3. Wavy-flaser sandstone facies, 4. Massive claystone facies, 5. Massive mudstone facies, 6. Molusca rich mudstone facies, 7. Floatstone facies, 8. Crystalline carbonate facies, 9. Coal facies, 10. Claystone and sandstone interbedded facies, 11. Lenticular mudstone facies. Lingkungan pengendapan Formasi Nanggulan dimulai dari sungai, estuarin dominasi pasang surut sampai laut dangkal. Secara umum lingkungan pengendapan mengalami pendalaman. Proses pengendapan yang berlangsung di sungai dan estuarin dipengaruhi oleh arus sungai dan arus pasang surut. Proses pengendapan di laut dangkal berupa aliran hypopycnal dan aliran hyperpycnal.

Indonesia is one country that has big potential of shale gas. Most source rock in the western Indonesia which acts as a potential target of shale gas exploration is synrift sediments Eocene to Oligocene shale. Nanggulan Formation which exposed in Kulon Progo, Yogyakarta is one of the Eocene shale interval known. However, the data about it is still limited. Further studies on the Nanggulan Formation in Kulon Progo is necessary to know depositional process and depositional environment of the Eocene shale more detail. Research uses lithofacies and lithofacies association analysis from core data. Succession of lithofacies Nanggulan shale, Kulon Progo, Yogyakarta based on core data consists of 1. Laminated sandstone facies, 2. Massive sandstone facies, 3. Flaser-Wavy sandstone facies, 4. Massive claystone facies, 5. Massive mudstone facies, 6. Molusca rich mudstone facies, 7. Floatstone facies, 8. Crystalline carbonate facies, 9. Coal facies, 10. Claystone and sandstone interbedded facies, 11. Lenticular mudstone facies. Depositional environment of Nanggulan Formation starts from fluvial, tidal dominant estuarine to shallow marine. In general, depositional environment is deepening. Deposition process in the fluvial and estuarine influenced by river flow and tidal currents. Deposition process in a shallow marine is hypopycnal flow and hyperpycnal flow.

Kata Kunci : gas serpih, Formasi Nanggulan, litofasies, lingkungan pengendapan dan proses pengendapan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.