HEMBUSAN POLITIK BAU DI ‘PENJARA SUCI MATAHARI TERBIT’: PRAKTIK KONSUMSI WEWANGIAN SISWI MADRASAH MUALLIMAAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Maulida, Dr. S. Bayu Wahyono
2014 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaAroma adalah fenomena sosial yang dengannya ditanamkan makna dan nilai tertentu oleh berbagai kebudayaan. Wacana larangan menggunakan wewangian „berlebihan‟ di sebuah asrama siswi di Madrasah Mu‟allimaat Muhammadiyah, menjadi pintu masuk untuk mengetahui bagaimana persoalan aroma dimaknai antara siswi (selaku target pendisiplinan) dan para pemegang otoritas madrasah. Meskipun berlaku seperangkat peraturan ketat yang mengatur cara menggunakan wewangian, namun di lapangan justru ditemui dominasi produk wewangian artifisial yang dikonsumsi oleh para siswi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melakukan eksplorasi praktik dan motif penggunaan wewangian oleh para siswi. Untuk itu, penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi baru sebagai basis metodologi. Data yang terkumpul dianalisis dengan konsep manajemen tubuh dan interaksi sosial karya Erving Goffman. Penelitian ini juga menggunakan konsep hegemoni dan kontra hegemoni Gramsci untuk mengungkap pemaknaan wacana wewangian siswi yang menjadi situs pertarungan antara institusi sekolah dan pasar. Berdasarkan analisis terhadap praktik konsumsi wewangian para siswi diperoleh beberapa penemuan penting, yakni; pertama, wewangian dimaknai oleh para siswi sebagai instrumen penjalin relasi dan impresi. Kedua, penggunaan wewangian oleh para siswi dipandang sebagai pilihan individu aktif serta simbol perlawanan sehari-hari terhadap “politik bau†madrasah. Ketiga, permisivitas terhadap „hembusan wewangian artifisial‟ oleh para siswi tak lepas dari wacana media yang mengkonstruksi. Oleh sebab itu, ia secara tidak langsung membentuk preferensi dari konsep aroma yang disepakati, yakni wewangian artifisial, sehingga “hembusan†aroma di luar “kesepakatan†tersebut (aroma alami tubuh) cenderung dieksklusikan serta diliyankan. Kata kunci: politik bau, siswi, madrasah,resistensi, hegemoni
Aroma is a social phenomenon that embedded certain value and meaning from various culture. Fragrance use prohibition in Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah becomes an entrance to reveal how aroma matter was defined by female student and authority holder of madrasah.Although strict policies rule student's performance (including how to use fragrance), on the other hand, domination of artificial product is found in everyday life in student's boarding house.Research is conducted to explore practice and motive of fragrance use by female student. Beside that, this research will explain about fragrance discourse that operated among female student, which related to various factor.To reach those aims, this research used new ethnography approach by Saukko as methodology base with method of participatory and non-participatory observation. The collected data is analyzed by Goffman'stheory of body management and social interaction. The data is also analyzed by Gramsci's theory of Hegemony and Counter Hegemony to uncover the meaning of fragrance among female student which became contested site between religious school and market institution.Based on the analysis about fragrance consumption of female student, data gathered shows that first, fragrance was interpreted by female student as instrument of impression and relation. Second, fragrance use by female student is considered as everyday resistance towards „politic of madrasah smell‟ (prohibition of fragrance use upon female student which is legitimated by religious text). Third, permissiveness towards „artificial fragrances blow‟ by the girls could not be separated from the media discourse that construct. Therefore, it is not directly form a preference of the scent of an agreed concept, namely artificial fragrances, thus “blowingâ€the scent outside the “deal†(the body's natural scent) tend to be excluded. Keywords: smell politics, female student, madrasah, resistance, hegemony
Kata Kunci : politik bau, siswi, madrasah,resistensi, hegemoni