ANALISIS KAPASITAS DAN OPTIMALISASI APRON (Studi Kasus : Terminal 2 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta)
HARYO WIDIANDOKO, Ir. H. Wardhani Sartono, M.Sc
2014 | Skripsi | TEKNIK SIPILBandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tercatat dalam daftar 10 bandara tersibuk di dunia tahun 2013 versi Airport World. Bandara yang di dunia dikenal dengan nama Soekarno-Hatta International Airport (SHIA) itu menempati peringkat delapan versi media terbitan Airport Council International tersebut. Sebelumnya, pada 2012 silam bandara berkode CGK yang dikelola PT Angkasa Pura II itu berada pada peringkat kesembilan. Sepanjang tahun lalu jumlah pergerakan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 60.137.347 penumpang, atau meningkat 4,1 persen dibandingkan dengan 2012 yakni 57.772.864 penumpang jauh melebihi kapasitas rencananya yaitu 22 juta penumpang per tahun. Kini, setiap hari SHIA melayani sekitar 1.200 penerbangan yang dioperasikan oleh 44 maskapai asing dan 19 maskapai lokal. Ditambah lagi dengan adanya program Low Cost Carrier yang semakin meningkatkan jumlah permintaan akan transportasi udara. Oleh karena itu, harus ada tindakan antisipasi atau perbaikan agar Bandara Soekarno-Hatta tetap dapat melayani jumlah permintaan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah pergerakan pesawat pada jam puncak, kapasitas apron dan kebutuhan parking stand yang diperlukan pada kondisi eksisting (2013) dan pada kondisi 5 dan 10 tahun rencana (2018 dan 2023). Analisis dilakukan terhadap pola historis data pergerakan pesawat Terminal 2 dari tahun 2002-2013 yang diperoleh dari PT. Angkasa Pura II sehingga didapatkan jumlah pergerakan yang terjadi pada tahun rencana dengan metode forecasting time-series. Dengan metode Pignataro diperoleh pola rasio jam puncak pada tahun 2013, yang kemudian digunakan untuk mengetahui jumlah pergerakan pesawat yang terjadi pada tahun rencana dengan mengalikan pola rasio tersebut dengan jumlah pergerakan pesawat tahunan dari hasil forecasting yang sudah dilakukan sebelumnya. Hasil tersebut dibandingkan dengan kapasitas apron eksisting dan dianalisa apakah pada tahun rencana apron Terminal 2 membutuhkan pertambahan parking stand atau tidak. Hasil analisis menunjukan pada tahun 2013 kapasitas apron pada Sub Terminal 2F sudah terlampaui dan pada tahun 2023 hanya apron Sub Terminal 2D yang masih dapat melayani pergerakan pesawat pada jam puncak walaupun dengan perbandingan yang sama. Sehingga perlu adanya langkah optimalisasi yang dilakukan. Untuk itu optimalisasi yang dilakukan adalah menambah jumlah parking stands yakni, pada tahun 2023 membutuhkan penambahan 4 parking stands untuk pesawat tipe E dan 12 parking stands untuk pesawat tipe C.
ABSTRACT Soekarno Hatta International Airport is recognized as the 10 busiest airport in 2013 by Airport World. According to Airport Council International, Soekarno Hatta International Aiport is on the 8th position as busiest airport in the world. In the last 2012, CGK, the Soekarno Hatta International Airport code which has been managed by PT Angkasa Pura II, is on the 9th position. Along 2013, the passengers movement has reached 60.137.347 passengers or increased by 4,1 percent than in 2012 which has reached 57.772.864. Those passengers movement has already exceed the capacity which is only 22 million passengers per year. Today, Soekarno Hatta International Airport handles about 1200 flights that has been operated by 44 foreign airlines and 19 local airlines. Besides, the low cost carrier program is also increasing the number of flight demands. Therefore, there must be any anticipation action so that Soekarno Hatta International Airport can handle the demands. This research is done to find out the aircraft movements at peak hour, apron capacity, and the parking stand necessity in existing condition (2013) and in the 5 and 10 planning year (2018 and 2023). The analysis is done by reflecting the aircraft movement historical data Terminal 2 in 2002-2013 until the number of movements that happens in the planning year is obtained by forecasting time series method. Peak hour ration in 2013 is obtained by Pignataro method which then be used to know the aircraft movements that happen in the planning year by multiplying the ratio and the annual aircraft movements. The result then being compared with the existing apron capacity and being analyzed whether in the planning year Terminal 2 needs any replenishment or not. The result of the analysis shows that in 2013 the capacity in Terminal 2F has exceed and in 2023 only Sub Terminal 2D apron that can still handle the aircraft movements in peak hour. Therefore, some optimization need to be applied. The optimization is by adding the parking stands. In 2023, 4 parking stands addition is applied for aircraft type E and 12 parking stands for aircraft type C.
Kata Kunci : Bandar Udara, Forecasting, Metode Pignataro, Optimalisasi / Airport, Forecasting, Pignataro method, Optimalization