Laporkan Masalah

RECHARGING FAITH: THE PRACTICE OF MULTIPLE UMRAH TRIPS AMONG MIDDLE CLASS IN YOGYAKARTA

Nuki Mayasari, Dr. Samsul Maarif

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Peningkatan frekuensi kalangan kelas menengah di Yogyakarta untuk melakukan umrah, membuat saya tertarik untuk mengetahui makna perjalanan ini, dari sudut pandang pelaku. Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang melakukan umrah secara berkala, baik satu atau dua kali setahun. Menilik biaya yang diperlukan untuk melakukan sekali perjalanan umrah, sejumlah US$ 2,000 – US$ 3,000, praktik ini tergolong mahal dibandingkan dengan penghasilan rata-rata dari kalangan kelas menengah di Indonesia yang dimulai dari US$ 3,000 tiap tahunnya (Economist, 2011). Walaupun menganggap bahwa praktik ini tidak hanya terkait keuangan, informan juga melakukan berbagai upaya pengaturan keuangan, seperti menabung dan mengikuti arisan. Dengan menggunakan metode “life history interview”, peneliti menemukan bahwa praktik umrah berkala ini dilandasi oleh pendidikan dan tradisi Islam yang kuat terhadap informan semasa kecil. Beberapa informan dididik dalam lingkungan dimana praktik umrah dan haji berkala lumrah dilakukan, seperti Jepara dan Kudus (Jawa Tengah). Keterkaitan sektor ekonomi dan religiusitas membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang aspek religiusitas dalam kehidupan sehari-hari dari informan. Penelitian ini menunjukkan praktik umrah berkala ini dilandasi oleh konsep “charging” (pengisian) terhadap keimanan informan, dengan cara memenuhi panggilan Allah. Selain itu, umrah juga dianggap sebagai investasi untuk menguatkan informan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, karena adanya rasa kedekatan terhadap Allah. Pendapat informan terhadap tempat yang dapat secara signifikan meningkatkan keimanan pun beragam, antara Mekah atau Madinah. Disamping melaksanakan praktik umrah berkala, informan juga secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial, disamping peran personal dan profesional. Mengabarkan tentang perjalanan umrah kepada lingkungan sekitar juga dipandang penting bagi para informan. Selain itu, beberapa praktik yang terkait dengan pariwisata juga terjadi terjadi dalam perjalanan umrah berkala, seperti belanja souvenir. Dengan kata lain, umrah dapat dipandang sebagai sebuah investasi yang dapat meningkatkan status sosial serta status dihadapan Allah. Namun, penghargaan dan kasih sayang terhadap sesama manusia juga penting disini, terlihat dari dilakukannya aktivitas sosial oleh para informan.

The increasing interest of Yogyakarta’s urban middle class in making the umrah makes me wonder about the meanings that this trip has for the people beyond the trip itself. Informants in this research are practicing umrah for a certain regular time, such as once or twice a year. Considering the amount spent for an umrah trip, which is around US$ 2,000 – US$ 3,000, this practice is obviously expensive, compared to the average income of the middle class society in Indonesia, starting from a minimum of US$ 3,000 per year (Economist, 2011). Although implying that umrah does not merely depend on financial strength, informants arrange a special financial planning for this practice, by saving or joining an arisan community. However, using life history interviews reveals that people committing such practices are influenced by the religious tradition during their childhood. Some informants were educated in families with a strong Islamic tradition and originally came from areas where strong practices on multiple umrah trips occurred, such as in Jepara and Kudus (Central Java). The intertwinement of economic strength and religiosity makes me wonder about the everyday religiosity beyond the umrah. The research suggests that the reason for practicing multiple umrah trips is the idea of “charging” the informants’ faith, by fulfilling the calling from Allah. Being regarded as an investment, umrah is considered as a strengthening factor for informants in order to ease them facing their daily live, due to the feeling of closeness to Allah. The informants’ estimation of the most charging sacred place, be it Mecca or Medina, varies. Moreover, informants are also actively engaged in social activities, while still managing their professional and personal role. Letting people in their surroundings know about their visits to Mecca and Medina is an essential part of their multiple journeys. In addition, some touristic practices such as shopping for souvenirs are also dominant in this practice. Taking these results into consideration we see that umrah is regarded as a meaningful investment in the people’s social status as well as their status before Allah. Nevertheless caring for others, taking part in social activities, becomes relevant too.

Kata Kunci : praktik umrah berkala, ziarah, pariwisata religi, kelas menengah, religiusitas/ multiple umrah trips, pilgrimage, religious tourism, middle class, religiosity.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.