Laporkan Masalah

Pengembangan Pertanian Pangan Skala luas dan Socio-Environmental Conflict dalam kasus Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

Andi Ismira, Dr. Maharani Hapsari, M.A.

2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan Internasional

Penelitian ini ditujukan untuk menyelidiki akar dan faktor-faktor pendorong keberlangsungan socio-environmental conflict pada pelaksanaan proyek food estate MIFEE. Proyek yang merupakan program pembangunan ideal dalam perspektif pemerintah dalam merespon gejolak krisis pangan, energi dan finanasial 2008, juga sekaligus berfungsi untuk mendorong kemajuan ekonomi nasional dari sektor agrikultur dan menjadikan Indonesia sebagai negara pusat logistik global. Demi menjawab ironi tersebut, penelitian ini menganalisa posisi MIFEE, dalam pola kebijakan atau norma pembangunan agrikultur global yang dirumuskan oleh aktor-aktor negara, institusi maupun korporasi pada tataran konsolidasi global, pada era corporate food regime. Pembahasan tersebut melihat pula tentang paradigma apa yang menjadi landasan global dalam pola kebijakan pembangunan agri-pangan negara-negara didunia. Selanjutnya, melalui analisis paradigma dan rezim international, penelitian ini mengurai keterkaitan antara, paradigma maupun dinamika global terkait pangan yang melahirkan MIFEE sebagai salah satu program pembangunan yang lebih kecil pada tataran negara dengan konstalasi socio-environmental conflict di wilayah pengembangannya (Merauke). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Studi kasus menggunakan pendekatan neo-liberalisme dan rezim global sebagai analisis teoritis. Data di dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur, analisis dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, eskalasi socio-environmental conflict. Dalam kasus MIFEE, terjadi tidak hanya dari segi praktik pelaksanaannya yang kental akan praktik accumulation by dispossession atau akumulasi melalui perampasan. Keberlangsungaan socio-environmental conflict dalam konteks MIFEE juga berakar dari paradigma neoliberal yang melekat kuat dalam gagasan pengembangan proyek tersebut. Paradigma neoliberal berkembang dan menjadi politik mainstream dalam pola pembanguan sektor agrikultur di era corporate food regime, sehingga sebagai salah satu konjungtur pembangunan agrikultur dalam era corporate food regime, MIFEE turut mengadaptasi paradigma tersebut dalam pengembangannya. Paradigma pembangunan agrikultur neoliberal, menghasilkan pola pembangunan yang menekankan deregulasi, liberalisasi perdagangan maupun investasi disektor tersebut, yang secara tak langsung memberikan kekuatan dominan bagi korporasi untuk menguasai lahan-lahan produksi pangan dalam skala luas, untuk mengakumulasi profit melalui metode industrialisasi dan modernisasi. Neolberalisme juga mengarahkan pergerakan pola sistem produksi-distribusi pangan pada mekanisme pasar dan sistem kapitalisme. Pada tataran praktis, sebagai program pembangunan agrikultur yang kental dengan karakteristik neoliberal-kapital, MIFEE tidak terhindarkan dari keberlangsungan accumulation by dispossession atau aktivitas akumulasi kapital, yang terjadi dengan cara perampasan hak-hak milik publik, misalnya lahan agrikultur kepada korporasi/swasta/segelintir pihak. Pola pembangun agrikultur yang diusung MIFEE telah berbenturan dengan pola agrikultur dan pengelolaan lahan masyarakat lokal/adat Merauke yang berlangsung tradisional dan komunal secara turun temurun. Ketika pola pembangunan MIFEE didorong untuk mentranformasikan pola agrikultur tradisional masyarakat lokal/adat Merauke (masyarakat Malind Anim), maka hasil yang didapatkan dalah perubahan-perubahan yang justru memberi dampak negatif pada kondisi sosial ekonomi, demografi dan lingkungan pada kehidupan masyaralat lokal/adat Merauke. Pemaksaan transformasi agrikultur yang secara mendasar terbentur pada aspek paradigma dan praktik sehingga menghasilkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat inilah yang kemudian berakumulasi memicu socio-environmental conflict antar aktor kepentingan dalam kasus MIFEE yang dapat dilihat manifestasi wujudnya dalam diskursus resistensi yang mengemuka atas proyek tersebut.

This research is intended to find out the roots and driving factors of socio-environmental conflict that escalate in food estate MIFEE. Which in Indonesian government perspective, is an ideal agriculture development program responding the needs of agriculture reconstructuction after facing the 2008 food, energy and financial crisis, then as a prime of national economic booster program from agri-food sector, and also to make Indonesia as a core state of global logistic. To answer the irony. first part of this research analize MIFEE’s position, under global agriculture development policies, which have structured by state, institution, corporation actor s at global level consolidation in the corporate food regime era. The analysis also ensembling what development paradigm that mainstreaming the characteristics of global agri-food development policies. By the paradigm and international regime point of analysis, this research will explain the relations between, paradigm and global food dynamics which produce MIFEE as one of smaller development program in state level, entitling to the constalation of socio-environmental conflict in it establishment region (Merauke). This research employed qualitative methods. It used neo-liberalism and global regimes approach as theoretical unit of analysis. This research use secondary data, that were collected by literature study, document analysis, and interview techniques. Result of this research shows that, the escalation of socio-environmental conflict in MIFEE not only driven by the on-going development practice which factually proliferate the accumulation by dispossession terminology. It also deep rooted to the neoliberal paradigm that sticking on to the basic idea of MIFEE. Neoliberal paradigm developed and becomes a mainstream politic of agriculture development model in corporate food regime structure, resulting MIFEE adoption on to it. Neoliberalism pushed out deregulation, trade and investation liberalization in each level of agriculture development sector, which give a big space for the corporation to lead, domina te and control large scale agricultural land as mean of production to reach profit accumulation goal in a modern and industrialized techniques. Neoliberalism also drove the model of food production-distribution structure in to market mechanism and capitalism system. In practical level of analysis,as a program that revivalized neoliberal capital agriculture development model, MIFEE tied to accumulation by diposession process in case of agricultural land dispossession as public property turning into private/corporation property rights. The model of MIFEE, has large difference characteristic opposite to traditional agriculture and land maintaining model which has been established traditionally and communally by the local/indigeneous people of Merauke (Malind Anim Lebenstraum). When the model of MIFEE forced out to established and replace the local system, it conducts to negative impact transformation in social-economy, demography dan environmental life space. This agriculture mode of production transformation enforcement which result negative impact to daily life of local/indigeneous people, is the main force that stimulate the raise of socio-environmental conflict between actor of interest in MIFEE’s case. The shape of MIFEE’S -environmental conflict were sharply manifested in resistence discourse of the project.

Kata Kunci : MIFEE, Neoliberalisme, Corporate Food Regime, Accumulation by Disposession


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.