PROYEKSI KONSUMSI ENERGI KOTA YOGYAKARTA
Septiana Ria P., Dr. Deendarlianto, ST., M. Eng.
2015 | Tesis | S2 Magister Teknik SistemKetersediaan energi merupakan aspek penting bagi keberhasilan pembangunan daerah. Kota Yogyakarta tidak memiliki potensi energi fosil. Seluruh kebutuhan energi di Kota Yogyakarta seperti BBM, listrik dan LPG dipasok oleh daerah lain. Potensi energi terbarukan di Kota Yogykarta belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan penduduk maka diperkirakan pertumbuhan kebutuhan energi juga terus meningkat. Perencanaan dan pengembangan energi perlu dilakukan supaya dapat menjamin ketersediaan energi untuk jangka panjang. Penelitian ini memuat proyeksi jangka panjang pada kurun waktu 2012-2025 tentang neraca energi, perencanaan permintaan dan penyediaan energi berdasarkan cadangan energi agar terpenuhinya target bauran energi dan elastisitas energi kurang dari 1. Proyeksi permintaan energi dilakukan dengan menggunakan LEAP (Long-range Energy Alternatives Planning System) dan berdasarkan analisis peramalan trend. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permintaan energi per sektor pemakai paling besar di Kota Yogyakarta selama periode 2012-2025 adalah sektor transportasi. Permintaan energi per jenis energi paling besar adalah listrik dan premium. Potensi energi terbarukan yang dapat dikembangkan di Kota Yogyakarta adalah biogas, energi surya, biomassa dan biodiesel yang berasal dari konsumsi minyak jelantah. Penggunaan biodiesel dan energi surya mampu menurunkan konsumsi minyak solar dan listrik. Emisi CO2 yang dihasilkan pada skenario dasar sebesar 2.176.182 ton CO2, skenario optimis 1 sebesar 1.925.089 ton CO2 dan skenario optimis 2 sebesar 1.877.839 ton CO2. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun energi terbarukan pada skenario dasar sebesar minimal USD 42.045 dan maksimal USD 546.585. Biaya investasi pada skenario optimis 1 sebesar minimal USD 10.470.775 dan maksimal USD 31.002.775. Biaya investasi pada skenario optimis 2 sebesar minimal USD 31.641.925 dan maksimal USD 52.173.925.
Availability of energy is an important aspect for the success of regional development. Yogyakarta city does not have any non-renewable energy sources such as liquid fossil fuels, coal and natural gas. Consequently, these energy must be supplied from other provinces. The renewable energy potential in Yogyakarta city is not being utilized yet. Final energy consumption continues to rise along with population and economic growth. Energy planning and development need be done carefully in order to ensure the energy sustainability. This study aim to provide long-term projections in 2012-2025 periods on energy balance, energy demand and supply based on energy reserves and current condition in order to meet energy elasticity to less than 1. Energy demand projection is calculated based on trend forecasting analysis by LEAP (Long-range Energy Alternatives Planning System). This result shows that the highest energy user sector in Yogyakarta city period 2012-2025 is transportation sector and the highest of energy demand by type is electricity and gasoline. Renewable energy potential such as biogas, solar energy, biomass and biodiesel (from using vegetable oil waste) could be developed in Yogyakarta city. Using biodiesel and solar energy could decrease diesel fuel and electricity. According to the baseline scenario, CO2 emission reached 2.176.182 tons, the first alternative scenario reached 1.925.089 tons and the second alternative scenario reached 1.877.839. Investment cost to build renewable energy in the baseline scenario reached USD 42.045 – USD 546.585. Investment cost to build renewable energy in the first alternative scenario reached USD 10.470.775 – USD 31.002.775. Investment cost to build renewable energy in the second alternative scenario reached USD 31.641.925 - USD 52.173.925.
Kata Kunci : permintaan-penyediaan energi, LEAP, emisi CO2, biaya investasi, peramalan