Kode dan alih kode dalam wacana siaran radio FM di Yogyakarta :: Studi kasus pada acara santai dan interaktif di RRI Nusantara II Yogyakarta Programa I, Radio Retjo Buntung, dan Radio Geronimo
MARYONO, Yohanes, Prof.Dr. Soepomo Poedjosoedarmo
2001 | Tesis | S2 LinguistikTesis ini merupakan kajian mengenai kode dan alih kode dalam wacana siaran radio pada acara “Lesehan“ di ‘Radio Retjo Buntung’ Yogyakarta, “Kedai 24†di ‘Radio Geronimo’ Y ogyakarta, “Campur Sari†dan “Langgam Keroncong†pada ‘RRI Nusantara II Yogyakarta Programa- 1 ’. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab tiga macam pennasalahan yang telah dirumuskan, yaitu (1) wujud kode apa saja yang ada dalam wacana siaran radio di wilayah Yogyakarta, (2) bagaimana kecenderungan arah kode dalam wacana itu, dan (3) faktor apa saja yang menentukan terjadinya alih kode dalam wacana siaran radio. Data disediakan melalui teknik rekam terhadap empat acara di tiga radio siaran. Data yang terkumpul diklasifikasikan berdasarkan peristiwa tuturnya dan dianalisis secara kontekstual dengan mengacu pada konsep komponen tutur yang pernah dikemukakan oleh Hymes (1 972) dan Poedjosoedanno ( 1975). Temuan-temuan yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dirangkum sebagai berikut: (1) kode-kode yang dipergunakan dalam wacana siaran radio cukup bervariasi, yaitu (a) bahasa, (b) tingkat tutur, (c) dialek, dan (d) ragam. Bahasa dalam penelitian ini meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan bahasa asing khususnya bahasa Inggris. Tingkat tutur yang muncul dalam wacana siaran radio terdiri dari tingkat tutur ngoko dan krumu. Dialek meliputi Bahasa Jawa Dialek Yogyakarta (Jawa Tengah), Bahasa Indonesa Dialek Jakarta dan Bahasa Indonesia Dialek Jawa (Yogyakarta). Yang terakhir, ragam dikelompokkan menj adi ragam komunikasi yang meliputi ragam komunikasi ringkas dan ragam komunikasi lengkap serta ragam suasana yang meliputi ragam suasana santai dan ragam suasana resmi. (2) Secara mum terdapat arah alih kode dari bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya, dari Bahasa Indonesia ke bahasa asing serta dan Bahasa Jawa,ke bahasa asing. Khusus untuk alih kode yang melibatkan Bahasa Jawa, wujud kodenya dapat berupa tingkat tutu ngoko atau h a m baik sebagai asal maupun sebagai tujuan alih kode. (3) Terjadinya alih kode dalam wacana siaran radio htentukan oleh 17 faktor, yakni (a) penutur mensitir ujaran orang lain, (b) penutur berbicara secara tidak langsung kepada lawan tutur, (c) relasi yang tak pasti antar penutur, (d) pengaruh kode yang mendahului, (e) pengaruh situasi tutur, (0 pengaruh materi percakapan, (g) membicarakan orang lain (h) Mengomentari (i) pengaruh hadirnya orang ketiga, (i) pergantian lawan tutur, (k) penyesuaian dengan lawan tutur, (1) warna emosi penutur, (m) pengaruh maksud tertentu dari penutur, (n) bentuk wacana, (0) sarana tutur, (p) penutur menggunakan ujaran tetap, dan (9) tiadanya bentuk ujaran yang tepat dalam bahasa lain
This thesis is a study of codes and code switching within radio broadcasting program discourse in Yogyakarta. This study is aimed at answering three formulated problems, namely (1) what manifestations of codes which arise at radio broadcasting program discourse in Yogyakarta, (2) how the tendencies of direction of code switching at the discourse, and (3) what factors which determine the code switching at the Iscourse. The data are collected by employing the recording-technique upon the radio broadcasting programs. The gathered data are classified on the base of their speech events and are contextually analyzed by referring the concepts of speech components as discussed by Hymes (1 972) and Poedjosoedarmo (1975). The findings of this study can be summarized as follows: (1 ) the codes used at the radio broadcasting programs vary, namely, (a) language, (b) speech levels, (c) dialect, and (d) styles. The languages in this study can be divided into three, namely, Indonesian, Javanese, and foreign language, particularly English. The speech level can be classified into ngoko and krama level. The dialect includes Yogyakarta Javanese dialect, Indonesian of Jakarta Dialect, Indonesian of Java (Yogyakarta) Dialect. At last, the style can be divided into two, namely, the communication style which includes the restricted communication style and the elaborated communication style and the situational style which includes the informal style and the formal style. (2) In general there are four kinds of directive tendencies of code switching, namely, from Indonesian to Javanese, from Javanese to Indonesian, from Indonesian to foreign language, and from Javanese to foreign language. For particular code switchmg which includes Javanese, the manifestations can be in the form of ngoko and krama levels. (3) The occurrence of code switching at the raIo broadcasting programs is determined by sixteen factors, namely, (a) imitation of other’s utterance by a speaker, (b) in&rect.utterance by a speaker to the other, (c) uncertain relation of speakers, (d) the influence of the other’s preceding utterance, (e) the influence of speech situation, ( f ) the influence of topics, (8) the discussion of others, (h) giving comments (i) the arrival of another speaker, (j) the shift of other speaker, (k) the adaptation toward another speaker, (1) the speaker’s emotion, (m) the influence of particular goals withm the speaker’s mind, (n) the form of discourse, (0) the influence of instrumentalities, (p) the use of phatic communion, and (4) the absence of particular utterance within a language
Kata Kunci : Bahasa,Komunikasi,Alih Kode