Laporkan Masalah

KECENDERUNGAN PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI TERPADU KOTA MAKASSAR

RIMBA ARIEF, Ir. Kawik Sugiana, M.Eng, Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Saat ini implementasi rencana tata ruang yang diatur dalam Perda Nomor 6 tahun 2006 di kawasan pendidikan tinggi terpadu Kota Makassar tidak efektif. Di lokasi tersebut dalam kurun waktu tahun 2005-2013 semakin mengalami pengaruh ekspansi oleh fungsi ruang komersil. Prospek perkembangan pemanfaatan ruang tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan terjadinya penyimpangan pelaksanaan rencana tata ruang. Oleh karena itu dipandang penting untuk mengkaji kecenderungan pemanfataan ruang fungsi komersil yang signifikan di kawasan pendidikan tinggi terpadu. Tujuan penelitian ini adalah untuk; a) menjelaskan perkembangan pemanfaatan ruang fungsi perdagangan terhadap rencana tata ruang di kawasan pendidikan tinggi terpadu selama kurun waktu tahun 2005-2013; b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang tersebut. Pendekatan penelitian ini menggunakan deduktif kuantitatif-kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa; observasi, wawancara, serta analisis dokumen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampel bertujuan. Terdapat dua metode analisis penelitian yang digunakan, yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif. Pada rumusan masalah mengenai sejauhmana perkembangan pemanfaatan ruang fungsi perdagangan terhadap rencana tata ruang di kawasan pendidikan tinggi terpadu menggunakan metode analisis kuantitatif dengan aplikasi GIS. Selanjutnya dalam menjelaskan penyebab terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang fungsi perdagangan di kawasan tersebut digunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Temuan-temuan dalam penelitian ini yaitu: (1) faktor utama yang mempengaruhi ketidaksesuaian implementasi rencana tata ruang di kawasan pendidikan tinggi terpadu meliputi: perizinan, insentif & disiinsentif, peraturan zonasi, serta pengawasan penataan ruang. (2) Ditinjau dari faktor perizinan; tidak memiliki acuan yang lengkap, adanya tekanan ekonomi, serta pelaksanaan perizinan bertentangan dengan aturan yang berlaku. (3) Ditinjau dari faktor insentif & disinsentif, masih terdapat berbagai kelemahan dalam kebijakan insentif & disinsentif tersebut. (4) Ditinjau dari faktor peraturan zonasi, belum terdapatnya peraturan zonasi yang lengkap. (5) Ditinjau dari faktor pengawasan penataan ruang; kegiatan pemantauan tidak optimal, kegiatan evaluasi dan pelaporan tidak dilaksanakan secara berkala

Currently the implementation of spatial plans set out in Regulation No. 6 of 2006 in the integrated high education area Makassar city is ineffective. In these locations over a period of years 2005-2013 were influenced by the expansion of commercial space function. The prospect of space utilization development is feared to cause deviations implementation of the spatial plan. Therefore, it is important to assess the tendency of space utilization of commercial functions which is significant in the integrated high education area. The objectives of this research were to; a) describe the development of the space utilization trading function towards spatial planning in the integrated high education area over the period 2005-2013; b) explain the factors influencing the development of that space utilization. This research used quantitative-qualitative deductive approach. The data collection methods were used i.e.; observation, interviews, and document analysis. The sampling technique used was purposive sampling. There were two methods of analysis used in this research, namely quantitative and qualitative analysis. The problem statement regarding the extent of the space utilization development of the trading function in the spatial planning of integrated high education used quantitative analysis methods with GIS applications. Furthermore, in explaining the cause of the development of trade function space utilization in the region used quantitative and qualitative descriptive analysis. The findings of this research were: (1) the main factors that influence the mismatch implementation in the spatial planning of integrated high education include: licensing, incentive & dis incentive, zoning regulations, as well as supervision of spatial planning. (2) In terms of licensing factors; it did not have a complete reference, economic pressure, and the implementation of licensing conflict with applicable rules. (3) In terms of incentive and dis incentive factors, there were still weaknesses in the incentif and dis incentif policy. (4) In terms of factors zoning regulations, there has not been the presence of a complete zoning regulations yet. (5) In terms of spatial planning control factors; monitoring activities were not optimal, evaluation and reporting activities were not carried out regularly.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.