Pengaruh pendidikan seks dan pelatihan asertivitas terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah
PRASTUTI, Endang, Dr. Sartini Nuryoto
2001 | Tesis | S2 PsikologiMasa remaja, merupakan masa Iuitis dalam hubungan heteroseksual. Seiring dengan pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi, mempengaruht sikap remaja yang semakin permisif terhadap hubungan seks pranikah. Fenomena yang merisaukan pada dekade sekarang ini, jumlah kehamilan diluar nikah di kalangan remaja semakin meningkat. Upaya preventif untuk mencegah sikap permisif terhadap seks pranikah adalah dengan memberikan pendidikan seks atau pelatihad asertivitas. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui: (1) Pengaruh pendidikan seks terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah, (2) Pengaruh pelatihan asertivitas terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah, (3) Intervensi atau treatment yang paling efektif berpengaruh terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen, dengan menggunakan Control Group Pretest-Posttest Design. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 32 orang, dengan ciri-ciri sebagai berikut: remaja akhir, usia 17-21 tahun, suku Jawa dan berjenis kelamin perempuan. Secara random subjek dibagi kedalam tiga kelompok. Kelompok I terdiri 11 orang diberi pendidikan seks, kelompok 11, terdiri dari I 1 orang diberi pelatihan asertivitas, sedangkan kelompok 111 merupakan kelompok kontrol atau waiting fist, terdiri dari 10 orang. Sikap terhadap seks pranikah diukur dengan menggunakan Skula Likert, sedangkan pendidikan seks menggunakan bahan pembelajaran yang diberikan dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi. Pelatihan asertivitas menggunakan modul pelatihan, dengan menggunakan prosedur: pengajaran, latihan, pemodelan, bermain peran serta pekerjaan rumah. Analisis data menggunakm Analisis Varians Satu Jalur dan didukung analisis data individual. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh yang sangat signifikan pendidikan seks terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah, (2) Pelatihan asertivitas tidak berpngaruh terhadap sikap remaja mengenai seks pranikah, meskipun terdapat perubahan skor pretest dan posttest. Berdasarkan analisis data individual juga menunjukkan pelatihan asertivitas memberi manfaat yang besar untuk merubah harga din remaja, namun pengaruh langsung terhadap sikap mengenai seks pranikah belum nampak, (3) Pendidikan seks lebih efektif dalam mempengaruhi sikap remaja terhadap seks pranikah dibandingkan pelatihan asextivitas. Saran untuk peneliti lain yang tertarik untuk meneliti topik serupa, perlu dikembangkan modul pelatihan asertivitas yang berkait langsung dengan konteks hubungan heteroseksual, sedang untuk orang tua disarankan untuk memberikan pendidikan seks sedini mungkin, terutama pada masa-masa menjelang pubertas
Adolescene is critical and challenging period in heterosexual relationship. Value changing in community driven by the development of information technology influences the adolescent attitude to be more permissive toward premarital sexual relationship. The attitude changing in this decade can be observed through the increasing number of fregnancy among adolescence. In order to prevent the sexual permissiveness of teenagers from premarital sexual relationship, sex education or assertive training was dilivered to them. The objective of this research were to know; (1) the influence of sex education on the adolescent attitude toward the premarital sexual relationship, (2) the influence of assertive training on the adolescent attitude toward the premarital sexual relations, and (3) what treatment that was most effective to influence the adolescent attitude on the premarital sexual relations. Control group pretest-posttest design was used in this experimental research. Subjects (N) were 32 people. Their characteristic were 17-21 years old, girls and Javanese. Subjects randomly divided into three groups. Groups I (N = 11) was exposed to sex education. Group II (N = 11) was assertive training, and group 111 (N = 10) was the control group or waiting list. Attitude toward premarital sexual relations was measured by using Likert scale. Sex Education using learning materials was conducted through insruction, question and answer, and discussion. Assertive training using trainhg module used instruction, exercises, modeling, role playing, and homework prosedures. Variant analysis with one path and individual data analysis were used in analyzing the data. The results indicated that: (1) there was significant influence of the sex education on the adolescent attitude toward premarital sexual relationship, (2) assertive training did not have influence on the adolescent attitude toward premarital sexual relationship, even though pre to posttest score showing differences, and also through individual data analysis assertive training showed big benefit in changing adolescent self esteem, (3) sex education was more effective in influencing the adolescent attitude on premarital sexual relationship than assertive training. Suggestion for other researcher concerned this topic, they could develop an assertive training module for direct heterosexual relationship’s context. And for parents, they may give their children sex education as early as possible, specially in pubescence.
Kata Kunci : Sikap Remaja, Seks Pranikah, Pendidikan Seks, sex education, assertive training, adolescent, and attitude toward premarital sexual relationship.