Laporkan Masalah

Kinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis cabai merah :: Studi kasus di Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora

SARKONO, Siswanto, Prof.Dr. Sunyoto Usman

2001 | Tesis | S2 Sosiologi

Sejarah budaya yang masih eksis dan mampu bertahan hingga saat ini adalah bercocok tanam atau lebih populer dengan sebutan budaya agraris. Budaya agraris tersebut sudah ada dan jaman prasejarah sampai hari ini. Posisi bercocok tanam dalam dinamika sosial ekonomi mendapat perhatian dan pemerintah sejak Pelita pertama. Sejak saat itu pembangunan pertanian tidak hanya mengembangkan tanaman pangan semata untuk kebutuhan konsumsi sendiri, tetapi secara gradual diarahkan kepada sistem budidaya yang berbasis agribisnis. Dalam pengembangan agribisnis cabai merah, maka Dinas Pertanian Kabupaten Blora secara intensif membina dan membimbing petani baik secara kelompok maupun individu, dan memberi informasi yang dibutuhkan petani dalam rangka meningkatkan partisipasi petani dalam pengembangan agribisnis tersebut melalui peran serta penyuluh pertanian. Salah satu cara untuk menentukan keberhasilan penyelengaraan penyuluhan pertanian adalah melalui kinerja penyuluh pertanian. Guna mengevaluasi penyelenggaraan penyuluhan dilakukan penelitian di Desa Sambong Anyar, Desa Sendangrejo, dan Desa Karangjong Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis cabai merah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta hubungan keterkaitan antara tingkat partisipasi petani dengan kinerja penyuluh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner dengan wawancara mendalam (depth interviews) kepada responden yang terdiri dari 100 orang petani, 10 orang penyuluh pertanian, kepala BPP dan tokoh masyarakat sebagai informan kunci (key informant). Untuk memperoleh kesepadanan penilaian diantara kelompok responden digunakan tabel persentase dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis cabai merah belum optimal. Belum optimalnya kinerja penyuluh pertanian ini disebabkan oleh : 1) motivasi penyuluh dalam melaksanakan tugas hanya sekedar untuk memenuhi kewajibannya, 2) kemampuan penyuluh masih terbatas dalam hal mengidentifikasi dan mengakomodir kebutuhan petani dalam menyusun rencanalprogram kerja sesuai dengan tingkat kebutuhan petani, dan 3) tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatan agribisnis cabai merah belum optimal. Belum optimalnya tingkat partisipasi tersebut karena keberadaan sumberdaya manusia (petani) dalam mendukung pengembangan agribisnis cabai merah masih sangat terbatas.

The cultural history which is still exist and able to last to date is cultivating or more popular called with agrarian culture. The agrarian culture had been exist from the prehistory age till to day. The cultivating position in socioeconomic dynamics get attention from the government since the first Pelita (Five Years Development). Since then the agricultural development did not simply develop the only consumption itself, but gradually oriented to the agribusiness-based cultivation system. In developing the agribusiness of red chilli, the agricultural office of Blora Regency intensively establish and guide the farmers both in group and individually, and give information needed by the farmers in the framework to improve the farmers participation in developing the agribusiness through the role and agricultural builder. One of the ways to decide the succeed of managing the agricultural extension is through the agricultural builder performance. To evaluate the extension implementation it was done a research in Sambong Anyar Village, Sendangrejo Village and Karangjong Village, Ngawen Sub-district, Blora Regency. The recent research aimed at knowing of the agricultural builder performance in developing the agribusiness of red chilli and the influencing factors, and the related connections between the farmer's participation rate and the builder performance. The method used in the research were case studies. The primary data collecting used questionnaire with depth interviews to the respondents consist of 100 farmers, 10 agricultural builder, the head of BPP and the prominent figure as a key informant. To get the valuation agreement among the respondents groups it was used a percentage table and descriptive analysis. The results of this research demonstrated that the agricultural builder performance in developing the agribusiness of red chilli was not optimal yet. It because of : 1) motivation of the builder in implementing the job was only to meet his duties, 2) his ability was still limited in identifying and accommodating the farmers need in composing the working plan/program in accordance with the rate of farmers need, and 3) the farmers participation rate in implementing the agribusiness of red chilli's activities was not optimal yet. The lack of optimal participation rate resulted from the existence of human resources (farmers) in supporting the red chilli agribusiness development which was still limited.

Kata Kunci : Kinerja, Penyuluh Pertanian, Agribisnis Cabai Merah, Performance, Agricultural Builder, Red Chilli Agribusiness


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.