Laporkan Masalah

Perilaku masyarakat miskin di lahan kering dalam pemenuhan konsumsi pangan rumah tangga :: Penelitian di desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa yogyakarta

JUMARIANTO, Prof.Dr. Sunyoto Usman

2001 | Tesis | S2 Sosiologi

Kemiskinan merupakan sebuah persoalan yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dipecahkan. Hal ini terbukti bahwa sampai saat ini masih banyak penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan termasuk masyarakat Desa Glagaharjo, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya saja mereka masih mengalami kesulitan. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah kondisi lahan, kualitas penduduk yang diakibatkan oleh pendidikan yang rendah. Persoalan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan 1) upaya apa yang dilakukan rumah tangga miskin yang hidup dilahan kering untuk mengantisipasi resiko kerawanan pangan baik yang disebabkan oleh keterbatasan produksi pangan lokal maupun kondisi krisis? 2) Apakah upaya-upaya yang ditempuh oleh rumah tangga miskin tersebut dapat memecahkan persoalan yang dihadapi ? Berdasarkan permasalahan tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) ingin mengetahui upaya-upaya yang dilakukan rumah tangga miskin dalam mengantisipasi kerawanan pangan; 2) ingin mengetahui seberapa jauh upaya yang dilakukan rumah tangga tersebut mampu memecahkan persoalan kerawanan pangan; 3) ingin mengetahui kesulitan-kesulitan rumah tangga dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Penelitian ini dilakukan di Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, dengan mengambil sampel secara porposive yaitu rumah tangga yang menurut penduduk setempat dikategorikan miskin (kemiskinan relatif). Data sekunder yang diperlukan dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara secara mendalam. Selanjutnya untuk memperoleh gambaran umum penelitian data yang terkumpul dianalisa melalui analisis diskriptif kualitatif (non uji statistik). Dari penelitian diperoleh kesimpulan bahwa sebanyak 77,59 persen penduduk mengalami kesulitan dalam hidupnya terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga dan perolehan pendapatan. Kedua persoalan tersebut akan berdampak pada tingkat ketahanan pangan rumah tangga karena selain kondisi lahan yang kering dan tandus juga sangat sulit untuk memproduksi bahan pangan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut upaya yang ditempuh oleh masyarakat Glagaharjo adalah pertama, dengan mengerahkan seluruh tenaga kerja rumah tangga yaitu suami, isteri dan anak dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan; Kedua, merubah pola dan menu makanan harian dari yang biasa 3 kali menjadi 2 kali, dari yang semula makan nasi beras berubah menjadi nasi jagung dan ubi; Ketiga, membangun sistem penyimpanan pangan kedalam grobogan. Pada saat kondisi normal grobogan tersebut merupakan tempat penyimpanan cadangan pangan terutama dalam bentuk gabah dan jagung. Gabah dan jagung tersebut hanya dikeluarkan jika akan diperlukan; Keempat, membentuk jaringan hubungan sosial yang secara fungsional diarahkan untuk mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan pangan yang berkelanjutan. Pinjam-meminjam antar tetangga dan kerabat, menjadi makin intensif dilakukan para ibu rumah tangga di Glagaharjo. Mereka menggunakan istilah nempil' untuk meminjam dalam bentuk beras, yang hams dikembalikan jika mereka sudah memiliki dalam jumlah yang cukup. Bentuk transfer beras yang lain yang terjadi adalah nempur' , yaitu pembelian beras dalam jumlah terbatas milik tetangga, yang sebenarnya merupakan simpanan untuk konsumsi sendiri.

Poverty is a problem that is easy to say, but difficult to solve. Many people now live under the poverty line like the people in Glagaharjo Village, they even have problems in fulfilling their basic needs. This condition is caused by few factors like low quality field condition and low human resources wich are also caused by low education. The questions to be answered in this research are: 1) What should be done by the people to anticipate the risk of food crisis caused by the local production limits or by the economic crisis condition? 2) What should be done by the people of Glagaharjo Village to solve its problem? Based on these question, the goals to be achieved are 1) to know what efforts are the people going to do to anticipate food crisis; 2) to know how far they would go to solve the problem of food crisis; 3) to know their difficulties in fulfilling their basic needs. This research, located in Glagaharjo Village Cangkringan District Sleman Regency, had been performed by taking samples porposively, choosing certain families which according to the local people are considered poor (relative poverty). Secondary data are gathered through documentation techniques, while primary data are gathered through intensive interviews. Then, the collected data are analyzed through a qualitative description analysis (non-statistic analysis). Based on this research, we arrive to the conclusion that 77.59 % of the people are having problems in fulfilling their basic needs especially for food and income. Those two problems will have an effect on the food fulfillment rates because of dry and unfertile land that makes food production very hard. To solve this problem, their efforts are first, by including the entire family member namely the husband, wife, and children to go to work in order to fulfill their basic needs; Second, by changing their eating pattern from three meals a day to two meals a day, and changing their intake from pure rice to corn rice and tuber; Third, by creating a food preservation system in a grobogan. In a normal condition this grobogan is used to keep food stocks, usually crops like rice and corn. These crops will only be used if necessary; Forth, by making a social relationship chain that is functioned to achieve a continuous food fulfillment. In other words, borrowing between neighbours and relatives of people in Glagaharjo Village. They use the term of `nempil' to borrow rice with have to be given back when someday they have enough rice for themselves. Another form of rice transfer is nempur' wich means buying a neighbours rice in a limited amount which is actually a stock for their own consumption.

Kata Kunci : Masyarakat Miskin, Perilaku, Konsumsi Pangan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.