VALUASI EKONOMI HUTAN MANGROVE AKIBAT KONVERSI LAHAN DI TAMAN WISATA ALAM PANTAI PANJANG DAN PULAU BAAI, BENGKULU
Nike Anggraini, Prof. Dr. Hartono, DEA., DESS.
2014 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganPentingnya mengetahui nilai ekonomi sumberdaya hutan mangrove sebagai salah satu faktor input kebijakan, merupakan langkah penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir yang berkelanjutan (sustainability). Pada penelitian ini, valuasi ekonomi menjadi suatu alat untuk menghitung kehilangan nilai manfaat ekosistem hutan mangrove yang mengalami konversi lahan di kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis konversi hutan mangrove di daerah penelitian secara spasio-temporal serta faktor penyebabnya; (2) valuasi nilai ekonomi hutan mangrove akibat konversi lahan; (3) mengkaji dampak konversi hutan mangrove; (4) menyusun strategi pengelolaan dan perlindungan lingkungan wilayah pesisir di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei secara spasial. Melalui interpretasi pada hasil pengolahan data citra penginderaan jauh yang disajikan dalam bentuk peta serta survei langsung pada objek kajian. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Pemilihan area menggunakan metode stratified random sampling berdasarkan unit penggunaan lahan. Valuasi ekonomi hutan mangrove dilakukan dengan pendekatan contingent valuation yang mengandalkan pendapat seseorang seseorang dengan survey langsung serta pengumpulan data primer dari instansi terkait. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, terjadi perubahan hutan mangrove mencapai 65,58 % pada daerah penelitian selama 13 tahun (2000-2013) yang disebabkan tingginya aktivitas konversi hutan mangrove di kasawan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai. Nilai ekonomi total hutan mangrove di kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai pada tahun 2000 bernilai Rp. 27.128.050.179,00 sedangkan pada tahun 2013 bernilai Rp 23.237.281.901,00. Artinya selama kurun waktu 13 tahun, hutan mangrove ini telah kehilangan manfaat senilai Rp. 3.890.768.278,00. Dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas konversi yakni kerusakan ekosistem hutan mangrove, perubahan garis pantai (terjadi erosi) mencapai 50-190 m dan kesejahteraan masyarakat dengan menurunnya hasil tangkapan dan pendapatan.
The importance of knowing economic value of mangrove forest resources as one of policy input factor is a step in maintaining the sustanability of coastal ecosystem. This research uses economic valuation to calculate lost benefits value of mangrove forest ecosystem which experienced land conversion in area Natural Tourism Park of Panjang Beach and Baai Island Bengkulu. This research aims to: (1) analyzed spacial-temporal conversion of mangrove forest in research area and its causative factors; (2) assessed economic value of mangrove forest caused by land conversion; (3) assessed the impact of mangrove forest conversion; (4) arranged strategies of coastal area management and conservation in research area. Methods used in this research is a spatial survey method. Through the interpretation of the result of remote sensing image data processing which presented in maps from and surveys directly on the object of study. Quantitative descriptive analysis is used in this research. Stratified random sampling is used to select area based on landuse unit. Contingent valuation approach is used to assess economic valuation of mangrove forest, relying on someone’s opion by directly surveying and collecting primary data from relevant institute. The result obtained from this research is the changes mangrove forest reached 65.58 % for 13 years (2000-2013) caused by high activity of mangrove forest conversion in Natural Tourism Park of Panjang Beach and Baai Island Bengkulu. Total economic value of mangrove forests in Natural Tourism Park Panjang Beach and Baai Island reached Rp. 27,128,050,179.00 in 2000 and reached Rp 23,237,281,901.00 in 2013. It means that over a period of 13 years, mangrove forests have lost benefits about Rp. 3,890,768,278.00. The impact of such activities are ecosystem damages, shoreline changes (Erosion) to 50-190 m and public welfare declines due to decreasing haul and revenue.
Kata Kunci : Valuasi ekonomi, perubahan ekositem, hutan mangrove, konversi lahan