Laporkan Masalah

Repertoire dalam Naskah Sandiwara Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno: Analisis Estetika Resepsi Wolfgang Iser

Imam Baihaqi, Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

2014 | Tesis | S2 Sastra

Karya sastra Indonesia banyak menunjukkan adanya keterkaitan dengan realitas sosial, budaya, dan historis. Dengan demikian, karya sastra sebagai sebuah fiksi memungkinkan adanya korelasi fakta yang dimuat di dalamnya. Di antara banyak karya sastra Indonesia modern yang menunjukkan korelasi fakta sosial, budaya, dan historis adalah naskah sandiwara Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno. Untuk mengetahui seberapa jauh korelasi fakta tersebut perlu dilakukan sebuah penelitian. Penelitian yang berjudul “Repertoire dalam Naskah Sandiwara Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno: Analisis Estetika Resepsi Wolfgang Iser” ini bertujuan untuk mengungkapkan perwujudan repertoire dalam naskah sandiwara Sampek dan Engtay yang menjadi latar belakang (background) penciptaan sehingga latar depan (foreground) yang dituju oleh pengarang dapat diungkapkan. Penelitian ini menggunakan teori repertoire Wolfgang Iser sebagai objek formal dan teks naskah sandiwara Sampek dan Engtay sebagai objek material. Setelah itu, objek material yang memuat realitas tekstual (realitas dalam teks) kemudian dihubungkan dengan segala sesuatu yang menjadi latar belakang penciptaan, meliputi norma sosial, budaya, dan historis sebagai realitas ekstratekstual (realitas di luar teks). Setelah dilakukan proses pembacaan serta analisis data yang mendalam, dapat diketahui bahwa norma sosial yang terlihat dalam naskah sandiwara Sampek dan Engtay adalah drama komedi yang mempunyai keterkaitan dengan komedi Aristophanes. Budaya yang tampak dalam naskah sandiwara Sampek dan Engtay adalah budaya patriarki yang melahirkan katidakadilan terhadap perempuan. Selanjutnya, norma historis yang menjadi background penciptaan naskah sandiwara Sampek dan Engtay adalah etnis Tionghoa masa Orde Baru yang difokuskan pada keadaan etnis Tionghoa pada masa Orde Baru dan pasca Orde Baru. Norma sosial, norma budaya, dan norma sejarah yang menjadi background tersebut merupakan perwujudan repertoire dari NSSE. Foreground yang dituju pengarang berupa norma sosial yang dimunculkan untuk melakukan kritik sosial atas orang-orang yang mempunyai kekuasaan pada masa orde baru yang sangat otoriter. Norma budaya dipakai untuk menyatakan ketidaksepahaman terhadap budaya patriarki yang menimbulkan ketidakadilan terhadap perempuan. Selanjutnya norma sejarah digunakan untuk menyuarakan keadaan etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Orde Baru yang mendapatkan diskriminasi. Foreground tersebut dapat diungkapkan melalui background penciptaan naskah sandiwara Sampek dan Engtay.

Indonesian literature shows many social reality, cultural, and historical relationships. Therefore, literature as a fiction shows possibilities that there are fact correlations in it. Among many modern Indonesian literatures that show corelations in social, cultural, and historical facts is Sampek and Engtay script play written by Nano Riantiarno. In order to know how far is the fact correlation, there is a need a study on this subject matter. This study, entitled “Repertoire dalam Naskah Sandiwara Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno: Analisis Estetika Resepsi Wolfgang Iser”, aimed at representing the repertoire of the background of Sampek and Engtay play script to reveal the foreground of why the writer created this work of art. This study used Wolfgang Iser’s repertoire theory as the formal object and the play script of Sampek and Engtay as the material object. Then the material object which consist of textual (reality inside the text) was connected to everything that becomes the background of the creation, including social, cultural, and historical norms as the extratextual reality (reality outside the text). After a thorough reading process and data analysis, it was found that the social norm appeared in the Sampek dan Engtay play script was a comedy playwright that had a relation with Aristophanes comedy. The cultural norm that was seen in the play script was patriarchy culture which raised injustice against women. Next, the historical norm that became the background of this play script was Tionghoa ethnic and Orde Baru era that focused on the condition of the Tionghoa ethnic in the Orde Baru era and after Orde Baru era. Such social norm, cultural norm, and historical norm above are the repertoire form of NSSE The foreground the writer occupied was social norm that raised to criticize the social condition of the society. The cultural norm was used to express the disagreement with patriarchy culture which raised injustice against women. Then, the historical norm was used to sound the condition of Tionghoa ethnic in Indonesia in Orde Baru era, who suffered discrimination. Those foregrounds can be achieved from the creation background of Sampek and Engtay play script. Keywords: repertoire, social-cultural-historical norms, background, foreground.

Kata Kunci : repertoire, norma sosial-budaya-sejarah, background, foreground.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.