Strategi Komunikasi PT Angkasa Pura I (Persero) Cabang BIL dalam Penertiban PKL di Bandara Periode Oktober 2011 - Mei 2014 (Studi Kasus Upaya Penertiban Pedagang Kaki Lima di Bandara Internasional Lombok)
Lale Fitria Ariyani, Dr. Kuskridho Ambardi, M.A.
2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu KomunikasiEuforia masyarakat menyambut beroperasinya Bandara Internasional Lombok (BIL) sangat luar biasa.Euforia masyarakat tersebut bertentangan dengan kepentingan PT Angkasa Pura-I (Persero) Cabang BIL yang ingin mewujudkan visi dan misi perusahaan yakni menjadi satu dari sepuluh perusahaan pengelola bandara terbaik di Asia.Menyadari potensi fenomena PKL yang bisa menimbulkan efek yang negatif bagi perusahaan maka berbagai upaya penertibanpun dilakukan.Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana strategi komunikasi PT Angkasa Pura-I (Persero) Cabang BIL dalam upaya penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di Bandara Internasional Lombok (BIL).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi PT AP-I (Persero) Cabang BIL dalam upaya penertiban PKL di Bandara Internasional Lombok sekaligus untuk mengetahui sejauh mana upaya persuasi mampu merubah pendapat, sikap dan perilaku PKL.Penelitian ini menggunakan teori Kontingensi Strategi Komunikasi Organisasi dari Garnett.Selanjutnya bahasan ini fokus pada komunikasi korporat sebagai perluasan fungsi Public Relations.Kemudian dalam analisis dengan mengadaptasi dan mengembangkan Model Kontingensi Strategis Komunikasi Organisasi dari Garnett.Peneliti mengunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang merujuk pada studi kasus intrinsik. Temuan penelitian ini antara lain: para PKL bertahan untuk tetap berjualan di dalam bandara karena mereka memegang janji-janji pemerintah mengenai peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat lingkar bandara. Untuk itu strategi komunikasi perusahaan untuk melakukan penertiban PKL di bandara perlu didukung oleh strategi aksi.Meski para PKL sudah menunjukkan sikap yang lebih kooperatif dengan kepentingan perusahaan ditandai dengan kesediaannya untuk direlokasi ke tempat yang baru, namun kenyataannya sampai dengan penelitian ini berakhir kondisi BIL masih diwarnai aktivitas PKL yang belum tertib.Hal ini dikarenakan belum siapnya tempat relokasi PKL.Fakta ini menunjukkan bahwa permasalahan PKL di BIL tidak terletak pada permasalahan komunikasi saja, melainkan pada faktor tuntutan masyarakat terhadap pemenuhan lahan penghidupan.Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan PT AP-I hanya sampai pada tingkat tumbuhnya kesadaran para PKL atas berbagai upaya yang dilakukan.Kasus fenomena PKL di BIL pasca relokasi PKL dan fenomena ‗beratong‘, khususnya mengenai upaya-upaya persuasif PT AP-I mengedukasi masyarakat lokal agar lebih tertib dan rapi melalui simbol-simbol yang ada di bandara menjadi rekomendasi bagi penelitian berikutnya.
People euphoria in welcoming the operation of Lombok International Airport is magnificent. This euphoria is in contrary with the interest of PT Angkasa Pura I (Persero) of BIL branch to bring its vision and mission into reality, which is to become one of the best ten airport organizing companies in Asia. Realizing that street vendors‘ phenomenon may bring some negative impacts towards the company, thus many enforcement efforts are taken. The formulation of study explains the communication strategy taken by PT Angkasa Pura-I (Persero) of BIL branch in disciplining street vendors (PKL) in Lombok International Airport (BIL). This study is purposed to analyze communication strategy used by PT AP-I (Persero) Cabang BIL for disciplining street vendors (PKL) in Lombok International Airport and to investigate until to which extent persuasive method can change their opinion, attitude and behavior. Ituses the theory of Strategic Contingence for Organizational Communication from Garnet. Then, this writing is focused more on corporate communication as the extension of Public Relation‘s function. The analysis adapts and develops Strategic Contingence for Organizational Communication from Garnett. The author uses qualitativedescriptive method with case study, which referred to intrinsic case study. The results of this study are as follows: Street vendors are insisted to trade inside of the airport‘s area because they hold the government promises to raise the prosperity of community around the airport‘s area. To this matter, a corporate communication strategy for disciplining street vendors in the airport area must be supported by action strategy. Although street vendors showed a more cooperative response with the company, it can be seen from their willingness to be relocated into a new place, until this study is over, however, there are still many disordered activities showed by them. This is due to unprepared relocation area for them. This fact showed that street vendors‘ matter in BIL is not only related to the communication problem, but also community demand to the fulfillment of their livelihood. Thus, it can be concluded that the communication strategy taken by PT AP-I is only limited on raising awareness from street vendors to be more orderly behaved according to the prevailed regulation. Street vendors‘ phenomenon in BIL after relocation and ‗beratong‟ phenomenon, especially related to persuasive strategy taken by PT AP-I, has educated local community to be more orderly behaved based on the symbols found in the airport; in which it is recommended for the next study.
Kata Kunci : Strategi, Komunikasi, Kontingensi, Organisasi, Komunikasi Korporat, Komunikasi Persuasi, Public Relation, PT Angkasa Pura-I, dan PKL