Laporkan Masalah

SIMULASI ALTERNATIF RUTE UNTUK EVALUASI NILAI JEMBATAN PRA DAN PASCA ERUPSI MERAPI 2010 DITINJAU DARI ASPEK EKONOMI DAN ASPEK SOSIAL Studi Kasus : Sabo Dam, Jembatan Sambi, Jembatan Padasan, Kecamatan Cangkringan dan Jembatan Pokoh di Sungai Kuning, Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Nandang Sukarna, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D.; Akhmad Aminullah, S.T., MT., Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Jembatan merupakan bagian dari infrastruktur transportasi yang tidak dapat dipisahkan dengan jalan, keduanya berfungsi sangat vital dalam alur perjalanan dan sangat menentukan perkembangan perekonomian dan sosial antar wilayah baik diperkotaan atau pedesaan, pemerintah memperbaiki lagi sarana transportasi tersebut sebagai penunjang untuk kegiatan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini bertujuanpentinguntuk mengetahui nilai jembatan secara keseluruhan ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial Erupsi Merapi 2010. Penilaian dilakukan menggunakan metode simulasi alternatif rute terhadap keempat jembatan yaitu Sabo Dam, Jembatan Sambi, Jembatan Padasan dan Jembatan Pokoh Sungai Kuning. Adapun dasar analisis yang mempengaruhi nilai jembatan yaitu jarak dari titik kumpul tiap dusun ke titik referensi ekonomi dan titik referensi sosial, jenis perkerasan jalan, jumlah penduduk serta potensi ekonomi tiap dusun. Keberadaan penentuan titik referensi ekonomi di Pasar Pakem dan titik referensi Sosial yaitu di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jalan Kaliurang, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta. Hasil analisis nilai jembatan diperoleh berdasarkan Aspek Ekonomi pra Erupsi Merapi 2010, hasil ini telah divalidasi dengan hasil kuisioner persepsi warga dalam pemilihan jembatan serta validasi dengan hasil survei volume lalulintas tiap jembatan adalah Jembatan Pokoh Rp 5.834.608.712,73, Jembatan Padasan Rp 4.740.055.597,77, Jembatan Sambi Rp 3.870.781.481,80 dan Sabo Dam Rp 3.211.557.600,51. Untuk nilai jembatan Aspek Ekonomi pasca Erupsi Merapi yaitu urutan kesatu Jembatan Pokoh sebesar Rp 10.765.146.207,33 dan Sabo Dam Rp 7.430.243.605,22, pada Jembatan Sambi dan Jembatan Padasan tidak diperhitungkan (terputus). Kemudian nilai jembatan berdasarkan Aspek Sosial pra Erupsi Merapi diperoleh Jembatan Pokoh 2276 jiwa, Jembatan Padasan 2000 jiwa, Jembatan Sambi 1608 jiwa dan Sabo Dam 1394 jiwa. Untuk nilai jembatan Aspek Sosial pasca Erupsi Merapi yaitu Jembatan Pokoh sebesar 4304 jiwa, dan Sabo Dam sebesar 3125 jiwa, untuk Jembatan Sambi dan Jembatan Padasan tidak diperhitungkan (terputus pasca Erupsi Merapi 2010). Urutan skala prioritas dalam penanganan jembatan baik untuk Aspek Ekonomi maupun Aspek sosial diperoleh urutan yang sama yaitu Jembatan Pokoh urutan skala prioritas 1, Jembatan Padasan urutan skala prioritas 2, Jembatan Sambi skala prioritas 3 dan Sabo Dam diurutan skala prioritas 4.

Bridge is part of transportation infrastructure that cannot be separated with road; both have vital functions in transportation route and determine economic and social development between areas in rural and urban. Government fixes the transportation infrastructure as support for daily people activity. This research was intended to identify value of bridge from economic and social aspects related to the 2010 Merapi Eruption. Valuation was done using alternative route simulation over four bridges (Sabo Dam, Sambi Bridge, Padasan Bridge, and Pokoh Bride). Fundamental analysis that influences bridge value is distance from gathering point in each village to social and economic reference points, road hardening type, population, and economic potential of each village. Economic reference point was determined in Pakem market while social reference point was in National Disaster Management Agency building in Kaliurang Street, Pakem district Sleman regency Result of bridge value analysis based on economic aspect pre 2010 Merapi eruption has been validated with result of questionnaire of people perception in selecting bridge and with result of traffic volume survey. The value of Pokoh Bridge, Padasan Bridge, Sambi Bridge and Sabo Dam were Rp 5,834,608,712.73, Rp 4,740,055,597.77, Rp 3,870,781,481.80 and Rp 3,211,557,600.5, respectively. Bridge values from economic aspect after Merapi eruption for Pokoh Bridge and Sabo Dam were Rp 10,765,146,207.33 and Rp 7,430,243,605.22, respectively; while Sambi Bridge and Padasan Bridge were not calculate (broken). From social aspect value before Merapi Eruption at Pokoh Bridge, Padasan Bridge, Sambi Bridge and Sabo Dam were 2276, 2000, 1608 and 1394 persons, respectively. For social aspect after Merapi eruption, bridge values for Pokoh Bridge and sabo Dam were 4304 and 3125 person. Sambi Bridge and Padasan Bridge were not calculated due to broken after Merapi eruption. Priority scale in handling bridge in economic aspect and social aspect sequenced from priority 1 to priority 4 are Pokoh Bridge, Padasan Bridge, Sambi Bridge and Sabo Dam.

Kata Kunci : nilai jembatan, skala prioritas, aspek ekonomi, aspek sosial.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.