Laporkan Masalah

SOFT BALANCING INTERNASIONAL TERHADAP UPAYA INTERVENSI MILITER AMERIKA SERIKAT DI SURIAH

WILDA RASAILI, Drs. Usmar Salam, MIS.

2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan Internasional

Pada penghujung 2010 hingga awal 2012, kawasan di Afrika Utara dan Timur Tengah mengalami pergolakan politik yang dikenal dengan revolusi rakyat. Di Libya dan Suriah, revolusi mendorong perang sipil antara rakyat dengan pemerintah yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Pemerintah membunuh rakyat untuk mencegah berlangsungnya revolusi. AS yang peduli terhadap demokrasi dan nilai kemanusia mengancam dan menghukum pemerintah yang otoriter dan menghadapi rakyat dengan kekuatan militer, seperti intervensi militer AS terhadap Libya. Pada Februari 2011, AS menghadapi krisis kemanusia yang terjadi di Suriah. AS telah berupaya mencegah kebrutalan rezim Bashar al Assad dengan memberikan bantuan persenjataan dan dana terhadap kelompok oposisi. Tidak hanya sampai disitu, setelah konflik tak kunjung terhenti dengan korban jiwa semakin bertambah AS mulai memberilakukan sanksi ekonomi dan embargo senjata untuk Suriah. AS juga berupaya keras untuk melakukan intervensi militer tetapi pada akhirnya gagal. Penelitian ini ingin melihat bagaimana langkah intervensi yang telah diupayakan, serta mengapa intervensi militer itu gagal di implementasikan di Suriah dalam menyelesaikan krisis kemanusian yang terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan neorealis yang meminjam konsep balance of power dalam bentuk penerapan soft balancing T.V. Paul. Setelah melakukan penggalian data dan informasi, penelitian ini menemukan bahwa kegaralan intervensi militer AS di suriah karena situasi soft balancing internasional. Balancing itu muncul dari Suriah secara langsung dan negara-negara sekutu Suriah baik dari kawan Timur Tengah, Eropa dan Asia. Bentuk dari soft balancing itu meliputi; meningkatnya distribusi senjata Suriah secara drastis dari tahun 2010-2012, kolaborasi Rusia dan China di DK PBB yang telah tiga kali melakukan veto terhadap proposal resolusi konflik yang di ajukan AS, aliansi Iran- Suriah yang berkometmen menolak intervensi militer bahkan siap akan melakukan perlawanan jika intervensi militer tetap dilakukan serta penolakan intervensi militer dari negara-negara Timur Tengah, kemudian penentangan dari dua organisasi kemanan internasional diantaranya SCO dan CSTO, dua organisasi tersebut siap membantu Suriah melawan milisi AS dan sekutunya. Dengan penelitian itu, penelitian ini menguatkan asumsi neorealist bahwa situasi soft balancing internasional menentukan prilaku politik luar negeri sebuah negara dalam melakukan intervensi militer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan intervensi militer negara tidak hanya dilandasi oleh kepentingan domestik dan idealisme kemanusian. intervensi militer akan terjadi jika tidak ada balancing dari negara yang memiliki kekuatan seimbang. Implikasi praktis dari temuan ini adalah bahwa para pembuat kebijakan luar negeri hendaknya memahami situasi dan kondisi internasional dalam merumuskan langkah intervensi militer sehingga intervensi militer dapat terealisasi dengan dukungan internasional. Kata kata kunci: Intervensi militer, upaya intervensi militer AS, Suriah, AS, soft balancing.

In the end of year 2010 till 2012 early, geopolitical in northern Africa and middle east was escalating which known as people revolution. Especially in Libya and Syria, revolution triggered civilian war caused many victims between citizens and government. The citizens was killed in order to prevent spreading revolution. In the name of democracy and humankind, USA‟s intervention concerned at that situation and threaten with punishment the government which authoritarian and militaristic (for example USA‟s intervention in Libya). On February 2011, USA faced human crisis where Assad‟s regime brutality in Syria. As solution on that situation, USA supported opposition by arming and funding. Not only supported opposition, while conflict unfinished, USA also embargoed on army and economic for Syria. Also USA intervene to mobilized military in spite failing in the end. Based on the situation, this paper reviews the questions: how steps the USA‟s intervention and why it failed be applied in Syria in other fixed the human crisis. By neorealist‟s approach E.T. Paul about „balance of power‟ this paper elaborates „soft balancing‟ application. Based on data and information, it is identified that USA military intervention was failed because of internationally soft balancing. The phenomena raised from Syria and its allied countries (in the middle east, European and Asian) directly. Indicators of soft balancing include: raising the distribution of weapon in Syria on 2010-2012 drastically; Russia and China‟s collaboration that vetoed USA proposal of conflict resolution in the Security Council of UN; the commitment of Iran-Syria alliance in other to refuse and to battle if military intervention be applied; refusing the countries in the middle east; the SCO and CSTO protest which ready to support Syrian faces USA military and its allies. This paper confirmed assumption of neorealist that internationally „soft balancing‟ influences foreign policy of all countries in other to apply military intervention. It was conclude that military policy‟s motive not only domestically but also consideration (idealism) of humanism. There is no military intervention if the „soft balancing‟ still existing among the countries which have equal power. Practically, implication of the facts that the foreign policy makers should consider international situations to formulate a good and effective policy which full of the countries supported internationally. Keywords: military intervention, USA‟s military intervention effort, Syrian crisis, „soft balancing‟

Kata Kunci : military intervention, USA‟s military intervention effort, Syrian crisis, „soft balancing, Intervensi militer, upaya intervensi militer AS, Suriah, AS, soft balancin


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.