OPTIMASI PENEMPATAN ALAT-ALAT UKUR UNTUK PERINGATAN DINI BANJIR LAHAR
Eko Sulistyo, Ir. Adam Pamudji, M.Sc, Ph.D.
2014 | Tesis | S2 Mag.Pengl.Bencana AlamLetusan gunung merapi meninggalkan deposit sedimen yang sangat banyak di sekitar lereng gunung merapi, dan hal ini dapat menimbulkan terjadinya aliran lahar dingin atau debris yang pemicunya adalah curah hujan yang tinggi. Untuk mengurangi timbulnya korban jiwa akibat terjadinya lahar dingin maka diperlukan sistem peringatan dini yang dapat memberikan data yang akurat tentang waktu kejadian bencana tersebut. Alat ukur curah hujan berperan sangat penting sebagai input bagi sistem peringatan dini. Penempatannya terkadang kurang optimal, sehingga data yang dihasilkanpun, kurang merepresentasikan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Akibatnya input bagi sistem peringatan dini menjadi kurang akurat, oleh karena itu diperlukan optimasi bagi penempatan alat tersebut. Optimasi dilakukan dengan membagi daerah aliran sungai (DAS) yang berpotensi menjadi lokasi penempatan setasiun hujan menjadi 15 sel yang berukuran 1,5 x 1,5Km. setiap sel ini nantinya akan mempunyai informasi yang berupa 3 fungsi objektif seperti Persentase Bias (PBIAS), Normalised Mean Square (NMSE), dan koefisien korelasi.dari ketiga fungsi objektif ini dikompromikan untuk mendapatkan nilai yang mendekati ideal. Sel yang nilainya mendekati ideal merupakan tempat peletakan alat ukur curah hujan. Hasil optimasi dari 15 sel yang berpotensi menjadi lokasi penempatan rain gauge untuk konfigurasi 1 setasiun hujan berada di koordinat 7° 35' 0,180\\" S, 110° 22' 37,177\\" E. Konfigurasi 2 setasiun hujan berada pada koordinat 110° 21' 48,226\\" E, 7° 35' 0,109\\" S dan 110° 24' 15,213\\" E, 7° 33' 22,628\\" S. konfigurasi 3 setasiun hujan berada pada koordinat 110° 20' 10,250\\" E, 7° 35' 48,806\\" S , 110° 22' 37,247\\" E, 7° 34' 11,336\\" S dan 110° 25' 4,227\\" E, 7° 32' 33,850\\" S. Jumlah yang optimal adalah konfigurasi 2 setasiun hujan. Kata kunci: optimasi, setasiun hujan, peringatan dini. Aliran lahar.
The eruption of Merapi volcano to leave a deposit so much sediment around the slopes of Merapi volcano, and this can lead to a debris flow that trigger is heavy rainfall. To reduce the risk due debris flow, early warning system is needed that can provide accurate data on the time of occurrence of the debris flow. Rainfal lmeasuring devices very important role as an input for an early warning system. Placement of rain gauge is sometimes not optimal, so that the data from rain gauge, less represents the actual situation on the field. As a result of input for an early warning system to be less accurate, therefore, its necessary for the optimization of the placement of the rain gauge. Optimization is done by dividing the watershed that could be potentially the location of the placement of rain gauge to 15 cell cluster. The sized of cell is 1,5x1,5 Km. Each of these cells will have information in the form of three objective functions such as the percentage bias (PBIAS), normalized mean square (NMSE), and the coefficient of the third correlation from objective function is compromised to get close to the ideal value. The placement of the rain gauge at cells whose value is close to the ideal. The results of the 15 cells optimization potential placement locations for configuration 1 rain gauge station located at the coordinates 7° 35' 0,180\\" S, 110° 22' 37,177\\" E. Configuration of 2 rain gauges at coordinates 110° 21' 48,226\\" E, 7° 35' 0,109\\" S and 110° 24' 15,213\\" E, 7° 33' 22,628\\" S. Configuration 3 rain gauges at coordinates 110° 20' 10,250\\" E, 7° 35' 48,806\\" S , 110° 22' 37,247\\" E, 7° 34' 11,336\\" S dan 110° 25' 4,227\\" E, 7° 32' 33,850\\" S. Optimum number is configuration of 2 rain gauges station. Keywords: optimization, rain gauge, early warning, debris flow
Kata Kunci : optimasi, setasiun hujan, peringatan dini. Aliran lahar.