ANALISIS JARINGAN RANTAI PASOK DAN STRUKTUR BIAYA UNTUK KOMODITAS BERAS DI KABUPATEN SLEMAN
ZULIAN IMAM WIRAWAN, Bertha Maya Sopha., S.T., M.Sc., Ph.D
2014 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRIPermasalahan nasional mengenai pemenuhan kebutuhan beras telah dicukupi dengan swasembada beras nasional. Peningkatan harga terus menerus dari tahun ke tahun komoditas utama pangan beras sebesar 14,85 % untuk beras medium dan 11,57 % untuk beras premium menjadi permasalahan yang perlu diselesaikan saat ini. Harga tanaman padi memiliki pengaruh besar nilai inflasi sebesar 3,29 % terhadap perekonomian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sehingga dibutuhkan manajemen rantai pasok beras yang efisien dan terbaik dengan melakukan analisis jaringan rantai pasok dan struktur biaya untuk komoditas beras di Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman sebagai representasi dikarenakan memiliki produktivitas tertinggi dengan rata-rata 256.000 ton per tahun atau 31,9 % padi provinsi. Metode Snow Ball Sampling digunakan untuk melakukan pengamatan langsung bertahap dalam tiap eselon rantai pasok beras 17 kecamatan di Kabupaten Sleman. Pengamatan dan pengumpulan dimulai dari petani sebagai titik awal (starting point) hingga akhirnya konsumen sebagai titik akhir (ending point). Pada tiap eselon rantai pasok dilakukan analisis jaringan rantai pasok dan struktur biaya beras sehingga dapat mengetahui aliran distribusi beserta komponen biaya tersebut. Model jaringan rantai pasok di Kabupaten Sleman memiliki 6 jenis model rantai pasok. Model rantai pasok 1 dengan memiliki eselon dari petani, penggilingan padi, dan pengecer sebagai eselon terakhir sebagai model mayoritas digunakan dengan persentase sebesar 41,8 % dari 17 Kecamatan. Peningkatan harga beras dan keuntungan mayoritas terbesar pada eselon petani. Biaya produksi pada umumnya terbesar pada eselon penggilingan padi. Jumlah eselon dan model rantai pasok memiliki pengaruh signifikan terhadap harga akhir beras dengan nilai masing �¢ï¿½ï¿½ masing p value 0,017 dan 0,045 (alfa = 0,05
National issue about rice demand fulfillment has changed over to supply chain and logistic cost structure issue. Price has increased continuously in every year for rice commodity about 14,85 % for medium rice and 11,57 % for premium rice. Paddy rice has a big influence to inflation value about 3,29 % in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Province economy, so efficient rice supply chain management is needed in Sleman Regency as representation, because have high productivity about 256.000 ton in every year or 31,9 % paddy province. Snow Ball Sampling method is needed for gradual direct observation in every stage rice supply chain in 17 subdistricts, Sleman Regency. Observation and data gathering started from farmer as starting point to consumer as ending point. In every stage is analyzed rice supply chain network and cost structure in order to find distribution flow and cost component. Supply chain network model in Sleman Regency has 6 model types supply chain. First supply chain model has stages from farmer, rice mill, and retailer as majority model is used with percentage about 41,8 % from 17 subdistricts. Increasing rice price and profit most majority in farmer stage. Production cost generally most in rice mill stage. Stages number and supply chain model has significant influence to final rice price with p value 0,017 and 0,045 (alpha = 0,05)
Kata Kunci : Rantai pasok, distribusi, struktur biaya, Kabupaten Sleman, Supply chain, distribution, cost structure, Sleman regency