Laporkan Masalah

PENGARUH TINGGI MUKA AIR TANAH DAN KULTIVAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBENTUKAN BINTIL AKAR KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

MUHAMMAD HILMI, Dr. Diah Rachmawati, M.Si.

2014 | Skripsi | BIOLOGI

Permintaan kedelai di Indonesia selalu mengalami peningkatan, namun produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi kebutuhan. Penurunan produksi kedelai diperkirakan akibat menurunnya luas lahan penanaman kedelai dan rendahnya produktivitas kultivar kedelai. Upaya untuk menanggulangi keterbatasan lahan dapat dilakukan dengan ekstensifikasi lahan yaitu penanaman bergilir padi dengan kedelai dilahan sawah irigasi. Penananaman bergilir padi-kedelai-padi secara konsisten menunjukan tanaman kedelai dapat menyesuaikan diri dan tumbuh baik pada kondisi lahan jenuh air dan menunjukkan produksi yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tinggi muka air tanah dan kultivar kedelai terhadap pembentukan bintil akar dan pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 5 ulangan, sebagai petak utama yakni kultivar dan sebagai anak petak yakni tinggi muka air tanah. Benih kedelai dari kultivar Argomulyo, Wilis dan Tanggamus ditanam pada polybag yang telah diisi media tanah 6 kg, kemudian polybag dimasukkan kedalam ember dan pada minggu ke-2 diisi air dengan tinggi muka air + 5 cm, 0 cm, -5 cm dan -10 cm. Pemeliharaan dilakukan selama 8 minggu dan parameter yang diamati berupa tinggi tanaman, panjang akar, bobot kering akar, tajuk, polong dan bintil akar, serta jumlah polong dan bintil akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kultivar berpengaruh secara nyata terhadap berat kering polong. Perlakuan tinggi muka air tanah menunjukkan pengaruh terhadap tinggi tajuk tanaman, panjang akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, jumlah bintil dan bobot kering bintil, namun tidak berpengaruh terhadap jumlah dan bobot kering polong. Terdapat pengaruh interaksi kultivar dan tinggi muka air tanah terhadap tinggi tajuk tanaman, panjang akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, jumlah bintil dan bobot kering bintil, jumlah polong dan bobot kering polong. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tinggi muka air tanah -5 cm dan -10 cm merupakan kondisi optimum dalam pertumbuhan dan pembentukan bintil akar tanaman kedelai dan tiap kultivar memiliki respon yang berbeda dalam menanggapi tinggi muka air tanah.

Soybean demand in Indonesia always increase, but the production of domestic soybean was not enough. Reduction of soybean production was predicted due to the decreasing of land area and low productivity soybean cultivar. To overcome the limitation of the land area can be done by rotated planting between soybean and rice. Rotated planting between soybean and rice consistently showed that soybean plant could adapt and grow in saturated soil condition and showed increasing production. The aim of this research was to determine the effect of level of water table and soybean varieties to root nodules formation and growth of soybean (Glycine max (L.) Merrill). This research used random complete block design (RCBD) with 5 replication, the first treatment was soybean cultivar and the second treatment was level of water table. The procedure of this research was seedling preparation, maintenance and harvesting. Soybean’s seeds from 3 cultivar (Argomulyo, Wilis and Tanggamus) were planted in polybags filled with soil medium 6 kgs, then polybag were put into buckets. Buckets were filled with water at high water level of +5 cm, 0 cm, -5cm and -10 cm from the soybean age was 2 weeks. Maintenance was carried out for 8 weeks and the observed parameters were plant height, root length, dry weight of root, shoot, pod and root nodules, the amount of root nodules and pods. The results of this research were the highest soybean plants (179 cm) and the longest roots (80,3 cm) were found in Tanggamus cultivar and at - 10 cm water level. Argomulyo cultivar treated with -10 cm water level had the highest shoot dry weight (55,9 gram). The highest root dry weight (6,30 gram) was owned by Tanggamus cultivar with -10 cm water level. The highest root nodules dry weight (812,9 mg) was owned by Tanggamus cultivar with -5 cm water level while the highest amount of root nodules (56) was owned by Tanggamus cultivar with -10 cm water level. The conclusion of this research was that -5 cm and -10 cm water ground level was the optimum condition in growth and root nodule formation soybeans plant and every cultivar had different response to level of water table.

Kata Kunci : tinggi muka air tanah, kultivar, kedelai, bintil akar


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.