EVALUASI MODEL GEOID LOKAL WILAYAH KERJA PERTAMINA: Studi Kasus : Bekasi dan Cirebon
SUKMA NUR OKTAVIA, Leni Sophia Heliani, ST., M.Sc., D.Sc.
2014 | Skripsi | TEKNIK GEODESIGeoid merupakan bidang ekipotensial gayaberat yang dianggap berimpit dengan muka air laut rerata yang tidak terganggu. Pemodelan geoid lokal memerlukan komponen gelombang panjang dari Model Geopotensial Global, komponen gelombang menengah dari data gayaberat dan komponen gelombang pendek dari data terrain. Pemodelan geoid teliti dengan persamaan Stokes mensyaratkan ketersediaan data gayaberat yang terdistribusi secara merata dan melingkupi seluruh permukaan Bumi. Pengukuran gayaberat di wilayah kerja PT.Pertamina biasanya meliputi area sempit dengan distribusi data yang detail, misalnya di wilayah Bekasi dan Cirebon. Luas area tidak lebih dari 30 km x 30 km dan kedetailan data mencapai 0,1 km sampai 0,6 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi model geoid yang dihitung dari data gayaberat hasil pengukuran PT.Pertamina di kedua wilayah tersebut. Data gayaberat yang digunakan berjumlah 1.900 titik yang tersebar di wilayah Bekasi sebanyak 251 titik dan di wilayah Cirebon sebanyak 1.649 titik. Model Geopotensial Global yang digunakan adalah EGM2008. Data terrain bersumber dari kontur peta RBI skala 1:25.000 di wilayah Bekasi dan Cirebon. Model geoid lokal wilayah Bekasi dan Cirebon dihitung menggunakan metode Two Dimension Fast Fourier Transform (2D FFT). Kontrol kualitas hasil dilakukan dengan membandingkan ketelitian dan pola model geoid wilayah Bekasi dan Cirebon terhadap model geoid lokal Pulau Jawa dan satu titik GPS-Sipat datar. Model Geoid Pulau Jawa diasumsikan memiliki nilai yang benar dengan ketelitian sebesar 0,655 m. Hasil penelitian diperoleh nilai undulasi wilayah Bekasi sebesar 19,1 m sampai 19,76 m dengan rerata undulasi 19,46 m. Undulasi wilayah Cirebon sebesar 21,85 m sampai 22,9 m dengan nilai reratanya adalah 22,31 m. Perbandingan terhadap model geoid Pulau Jawa diperoleh nilai deviasi model geoid wilayah Bekasi berkisar 0,37 m sampai dengan 0,547 m dengan rerata 0,477 m, sedangkan model geoid wilayah Cirebon berkisar -4,255 m sampai dengan -0,668 m dengan rerata 2,282 m. Nilai ketelitian tidak bisa dinyatakan untuk wilayah Bekasi karena tidak tersedia data GPS-Sipat datar, sedangkan wilayah Cirebon tersedia satu titik. Perbandingan terhadap titik GPS-Sipat datar diperoleh ketelitian 0,147 m untuk geoid Cirebon dan ketelitian 2,019 m untuk geoid Pulau Jawa. Berdasarkan data yang terbatas, kesimpulan sementara adalah ketelitian model geoid wilayah sempit lebih teliti dari model geoid Pulau Jawa. Kata kunci : area sempit, gayaberat, undulasi, geoid.
Geoid is an equipotential gravity field coincide with the undisturbed mean sea level. Precise Local geoid modelling requires component of the Global Geopotential Models (GGM), terrain data and gravity data. The gravity measurement done over the PT.Pertamina’s working area, usually covered a narrow area with detailed data distribution, for example in Bekasi and Cirebon. The area is not more than 30 km x 30 km and the data distribution reach about 0,1 km to 0,6 km. The objective of this study was to evaluate the geoid modelling using gravity data of PT.Pertamina measurement in both areas. The gravity anomaly contain of 251 points in Bekasi and 1.649 points in Cirebon. The GGM that was used is EGM2008 with degree of 160. Terrain data derived from contours of RBI map 1:25.000. Geoid undulation was calculated using the Two Dimension Fast Fourier Transform (2D FFT). The evaluation was done by comparing the results with the local geoid model of Java Island and one point GPS-levelling data. Local geoid model of Java Island is assumed to have the correct value with the precision as much as 0,655 m. The results show that value of Bekasi undulation is range from 19,1 m to 19,76 m with mean value of 19,46m. The Cirebon undulation is range from 21,85 m to 22,9 m with mean value of 22,31 m. The comparison of Bekasi and Cirebon local geoid models with Java Island geoid model is obtained the mean of deviation is 0,477 m for Bekasi region with range from 0,37 m to 0,547 m and and 2,282 m for Cirebon region with range -4,255 m to -0,688 m. The comparison with one point GPS-levelling is obtained the accuracy 0,147 m for local geoid model of Cirebon and 2,019 m for local geoid model of Jawa Island. Based on limited data, the conclusions are the local geoid models on norrow area more precision than local geoid model of Java Island. Keywords: narrow areas, gravity, undulations, geoid.
Kata Kunci : area sempit, gayaberat, undulasi, geoid.