ANGKA KEJADIAN UNPLANNED PREGNANCY PADA WANITA USIA PRODUKTIF DI KECAMATAN CANGKRINGAN PASCA ERUPSI MERAPI 2010
ADISTYA AYU KUSUMANINGTYAS, Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., M.S., D.S.
2014 | Skripsi | ILMU KEPERAWATANLatar Belakang : Metode kontrasepsi merupakan suatu hal yang vital diperlukan oleh pasangan usia produktif karena jika akses terhadap metode kontrasepsi terganggu, akan dapat menyebabkan terjadinya kejadian unplanned pregnancy. Akses terhadap metode kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah sumber pelayanan, dimana sumber pelayanan ini dapat terganggu oleh karena adanya suatu bencana di daerah tersebut. Tujuan :Untuk mengetahui angka kejadian unplanned pregnancy pada wanita usia produktif pasca Erupsi Merapi tahun 2010 di hunian tetap Pagerjurang Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Yogyakarta Metode :Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian retrospektif. Sampel penelitian yang dibutuhkan sebanyak 86 orang, dimana pengambilan data dilakukan pada tanggal 06-20 Maret 2014. Data akan dianalisis secara univariat dan bivariat. Analisis univariat yang digunakan adalah distribusi frekuensi, sementara analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik ganda untuk mengetahui hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Hasil : Angka kejadian unplanned pregnancy pada wanita usia prokduktif pasca Erupsi Merapi tahun 2010 di Hunian Tetap Pagerjurang adalah 27,3% (9/33). Kejadian tersebut paling tinggi ketika masyarakat tinggal di hunian sementara yaitu 88,9% serta terdapat hubungan yang bermakna antara kesulitan akses terhadap metode kontrasepsi dengan kejadian unplanned pregnancy, Kesimpulan : Angka kejadian unplanned pregnancy pasca erupsi Merapi tahun 2010 adalah 27,3%. Persebaran kejadian unplanned pregnancy di hunian tetap Pagerjurang dari tahun 2010 hingga tahun 2014 secara berturut-turut adalah sebagai berikut 0%; 66,7%; 0%; 22,2% serta 11,1% dan kejadian tersebut tertinggi ketika masyarakat tinggal di hunian sementara. Metode kontrasepsi yang mengalami perubahan secara bermakna setelah adanya Erupsi Merapi tahun 2010 adalah metode suntik serta istri yang tidak menggunakan metode kontrasepsi.
Background: Method of contraception is a vital thing needed by couples of productive age because if interrupted access to contraceptive methods, will cause the occurrence of unplanned pregnancy. Access to contraceptive methodes is influenced by several things, one of which is the source of service, where the source of this service may be interrupted by reason of a disaster in the area. Purpose: To determine the prevalence of unplanned pregnancy in women of productive age in 2010 after the eruption of Merapi in Pagerjurang Kepuharjo resident Cangkringan Yogyakarta. Methods: This study used a retrospective study design. The research sample is needed as much as 86 people and then the data was collection on 06-20 March 2014. Data will be analyzed using univariate and bivariate. Univariate analysis used is distribusu frequency, while the bivariate analysis using Chi-square test and multiple logistic regression to determine the relationship of the independent variables and the dependent variable. Result: The prevalence of unplanned pregnancy women of productive age on Merapi Eruption in 2010 in the Pagerjurang was 27,3% (9/33). The incidence has increased when the people living in shelter that is 88,9% as well as the significant relationship between the difficulty of access to contraceptive methods the incidence of unplanned pregnancy. Conclusion: The prevalence of unplanned pregnancy after Merapi Eruption in 2010 was 27,3%. In a row, distribution of unplanned pregnancy in Pagerjurang resident from 2010 until 2014 are 0%, 66,7%, 0%, 22,2% and 11,1% and the highest incidence when the people living in shelters. The contraceptive methods that have significantly chenged after Merapi Eruption in 2010 was injectable contraception and a wife who did not use a contraceptive method.
Kata Kunci : unplanned pregnancy, bencana, wanita usia produktif