KAPASITAS INFILTRASI PADA BERBAGAI TEGAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA I GUNUNG KIDUL
PRATAMA BAGUS KURNIAJI, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S
2014 | Skripsi | KEHUTANANWanagama I merupakan hutan pendidikan yang dibangun di lahan kritis hingga kini setidaknya terdapat 13 jenis tegakan yang telah mantap. Wanagama yang pada masa awal merupakan kawasan batu bertanah saat ini telah memiliki solum 20-80cm. Perubahan tersebut pasti berpengaruh pada siklus hirologis Wanagama I salah satunya kemampuan infiltrasi tanah yang juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan membandingkan kapasitas infiltrasi pada berbagai tegakan dan tanah kosong di Wanagama I serta mengkaji penggunaan metode single ring dan double ring infiltrometer. Metode pengukuran kapasitas infiltrasi yang digunakan adalah metode double ring dan single ring infiltrometer. Perbandingan karakteristik tegakan dilakukan berdasarkan karakteristik vegetasi dan karakteristik tanah. Metode pengkajian dua metode infiltrometer dilakukan dengan analisis statistik Wilcoxon menggunakan IBM SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan Wanagama I memiliki 13 jenis tegakan dengan kapasitas infiltrasi masing-masing yaitu Swietenia macrophylla dengan kapasitas infiltrasi 0,04cm/jam, Eucalyptus pellita 0,40 cm/jam, Melaleuca cajuputi 0,06 cm/jam, Diospyros celebica 0,08 cm/jam, Gmelina arborea 0,8 cm/jam, Kayu putih Eucalyptus alba 4,00cm/jam, Eucalyptus urophylla 0,08 cm/jam, Acacia mangium Willd.) 0,1 cm/jam, Pinus merkusii) 0,4 cm/jam, Acacia crassicarpa 0,2 cm/jam, Tectona grandis 0,15 cm/jam, Cassia siamea 6,00 cm/jam, Acacia auriculiformis 0,1cm/jam dan tanah tanpa tegakan 0,4 cm/jam. Kapasitas terbesar dimiliki oleh Johar dengan nilai kapasitas infiltrasi sebesar 6 cm/jam. Pengujian data kapasitas infiltrasi antara metode single rind dan double ring infiltrometer menggunakan Wilcoxon memperoleh angka signifikan 0,279 yang berarti tidak ada perbedaan signifikan antara dua metode tersebut.
Wanagama I is an educational forest that was built at critical land. The success of developing forest create a big improvement with at least 13 stands were established. Wanagama I at the beginning was an area covered by stone and little soil but it has 20-80 cm of soil layer now. The improvement will influence the hydrological cycle in Wanagama I. One of the components is soil infiltration capacity as a success parameter of developing forest.The purpose of this research is to measure and compares the infiltration capacity of various stands and an empty land in Wanagama I and assesses the use of two different methods : the single ring and double ring infiltration method. The single ring and double ring infiltration method was applied to measure the infiltration capacity. The characteristic of vegetation and soil was collected to compare the characteristics of stand. The assessment of two different methods were analyzed by Wilcoxon analysis. The result showed that Wanagama I has 13 types of stand with wide range of infiltration capacity. The 13 stands consist of Swietenia macrophylla with 0.04cm/hour infiltration capacity, Eucalyptus pellita 0.40 cm/hour, Melaleuca cajuputi 0.06 cm/hour, Diospyros celebica 0.08 cm/hour, Gmelina arborea 0.8 cm/hour, Eucalyptus alba 4.00cm/hour, Eucalyptus urophylla 0.08 cm/hour, Acacia mangium Willd. 0.1 cm/hour, Pinus merkusii 0.4 cm/hour, Acacia crassicarpa 0.2 cm/hour, Tectona grandis 0.15 cm/hour, Acacia auriculiformis 0.1cm/hour and empty area 0.4 cm/hour. The biggest capacity owned by Cassia siamea 6.0 cm/hr. The Wilcoxon analysis result shows 0.279 of significant number means there’s no significant different.
Kata Kunci : Double ring infiltometer, Kapasitas Infiltrasi, Karst, Single Ring Infiltrometer, Wanagama I