Laporkan Masalah

JUMLAH ANAKAN DAN RENDEMEN ENAM KLON TEBU (Saccharum officinarum L.) ASAL BIBIT BAGAL, MATA RUAS TUNGGAL, DAN MATA TUNAS TUNGGAL

HIDAYATUR ROKHMAN, Dr. Ir. Taryono, M.Sc.

2014 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMAN

Tebu merupakan jenis tanaman monokotil yang dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Tanaman tebu diperbanyak secara vegetatif dalam bentuk bagal, namun pada saat ini telah berkembang metode pembibitan mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anakan dan rendemen gula yang dihasilkan oleh tebu yang berasal dari bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal dari enam klon tebu komersial. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan faktorial 3x6 disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis bibit tebu yaitu bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Faktor kedua merupakan enam jenis klon tebu yang terdiri dari Bululawang, PS 864, PSJT 941, VMC, PS 881, dan Kidang Kencana. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun hijau, jumlah ruas, diameter batang, dan jumlah anakan sejak tanaman berumur 2,5 bulan sampai 12 bulan. Pengamatan terhadap berat segar akar, berat kering akar, berat batang, brix tebu, pol tebu, dan rendemen dilakukan setelah tanaman dipanen pada umur 12 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah anakan tebu pada umur 12 bulan. Interaksi antara metode pembibitan dengan klon nyata pada diameter batang, berat kering akar, kandungan pol tebu, dan rendemen tebu. Klon PS 864 yang ditanam dengan metode bibit bagal menghasilkan rendemen paling baik.

Sugarcane is a monocotyledonous crop which is cultivated for sugar production. Sugarcane is vegetatively propagated through stem cutting, but now it has been developed bud set and bud chip seedling method. This research aims to identify the tillers number and sucrose content of six commercial sugarcane clones cultivated by stem cutting, bud set, and bud chip seedling. This research used a 3x6 factorial treatment design arranged in a completely randomized design (CRD) with four replications. The first factor is the seedling origin namely stem cutting, bud set, and bud chip. The second factor is sugarcane clones consists of Bululawang, PS 864, PSJT 941, VMC, PS 881, and Kidang Kencana. Observations were focused on plant height, number of green leaves, number of internodes, diameter of stems, and number of tillers start from 2,5 to 12 months old, whereas the fresh root weight, dry root weight, stalk weight, sugarcane brix, sugarcane pol, and sucrose content were obeserved after the plants were harvested at the age of 12 months. The results showed that stem cutting, bud sett, and bud chip seedling have no effect on number of tillers. The interactions between clones and seedlings occurred in the stems diameter, dry root weight, pol, and sucrose content. The seedling of stem cutting origin of PS 864 showed the best performance based on sucrose content characteristics.

Kata Kunci : bibit, klon, anakan, rendemen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.