Laporkan Masalah

PENGARUH JARAK TANAM DALAM TUMPANGSARI SORGUM MANIS (Sorghum bicolor L. Moench) DAN DUA HABITUS WIJEN (Sesamum indicum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

RIANNI CAPRIYATI, Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.

2014 | Skripsi | AGRONOMI

Sorgum manis merupakan tanaman C4 yang ditanam pada jarak tanam 70 cm × 25 cm atau 75 cm × 20 cm. Jarak tanam tersebut masih cukup lebar untuk dapat dioptimalkan produktivitas lahannya dengan menerapkan tumpangsari. Sorgum dapat ditumpangsarikan dengan wijen yang merupakan tanaman C3. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui interaksi antara jarak tanam sorgum manis dengan habitus wijen, mendapatkan jarak tanam sorgum manis yang optimal dan mendapatkan habitus wijen yang tepat bila ditumpangsrikan dengan sorgum manis. Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di kebun Tridharma, Banguntapan, Bantul. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama terdiri atas tiga jarak tanam sorgum manis (60 cm × 25 cm, 70 cm × 25 cm, dan 80 cm × 25 cm). Faktor kedua terdiri atas dua habitus wijen yaitu wijen bercabang (Winas-1) dan wijen tidak bercabang (Sumberejo-2). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α= 5 %, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test α= 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan jarak tanam sorgum manis dengan dua habitus wijen terhadap jumlah daun sorgum manis umur 8 mst dan sekapan cahaya pada 8 mst. Jarak tanam sorgum manis 70 cm × 25 cm mampu memberikan NKL sebesar 1,73 yang sama baiknya dengan NKL pada jarak tanam 80 cm × 25 cm. Wijen Winas-1 dengan habitus bercabang dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan NKL lebih tinggi (1,71) dari wijen SBR-2 (1,41) ketika ditumpangsarikan dengan sorgum manis.

Sweet sorghum is a C4 plant that planted in spacing of 70 cm × 25 cm or 75 cm × 20 cm. Spacing of sweet sorghum still wide enough to optimize land productivity by applying intercropping. Sweet sorghum can be intercropped with sesame, which is C3 plant. The research was conducted to determine interaction between spacing of sweet sorghum and sesame habitus, to obtain optimal spacing of sweet sorghum and appropriate sesame habitus when intercropped with sweet sorghum. The field experiment was conducted from May to August 2013 in Tridharma farm, Banguntapan, Bantul. Design of the experiment used Randomized Complete Block Design with two factors. The first factor consists of three spacing of sweet sorghum (60 cm × 25 cm, 70 cm × 25 cm, and 80 cm × 25 cm). The second factor consists of two sesame habitus of branching (Winas-1) and unbranched (Sumberejo-2). The data were analyzed with analysis of variance α= 5 %, continued by Duncan’s Multiple Range Test α= 5 %. The result of this research showed that there was interaction between spacing treatment of sweet sorghum with two sesame habitus of the number of leaves of sweet sorghum at 8 week after planting and light interception on the leaves at 8 week after planting. Spacing sweet sorghum of 70 cm × 25 cm were giving LER at 1,73 that as good as spacing of 80 cm × 25 cm. Sesame Winas-1 with branching habitus could grow well and produce higher LER (1,71) than sesame SBR-2 (1,41) when intercropped with sweet sorghum.

Kata Kunci : habitus, jarak tanam, sorgum manis, tumpangsari, wijen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.