ANALISIS KONSUMSI ENERGI, EMISI CO2, DAN STASIUN PENGISIAN BUS LISTRIK (STUDI KASUS BUS TRANS JOGJA JALUR 3A)
ATIKA NURUL HIDAYAH, Dr. Ir. Andang Widi Harto, M.T.
2014 | Skripsi | FISIKA TEKNIKTransportasi merupakan sektor konsumen terbesar jenis energi yang berasal dari minyak bumi dengan jumlah mencapai 277 juta BOE pada tahun 2012. Kebutuhan minyak bumi yang semakin lama semakin meningkat tidak seimbang dengan ketersediaannya yang semakin menipis. Peningkatan kualitas transportasi umum merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan guna mendukung perubahan moda transportasi dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi angkutan umum massal. Sebagai solusinya, penyediaan bus listrik dapat mengatasi permasalahan tersebut karena berpotensi mengurangi emisi serta dapat mengurangi konsumsi energi di Kota Yogyakarta. Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran siklus berkendara bus Trans Jogja jalur 3A untuk mendapatkan parameter-parameter yang selanjutnya digunakan untuk perhitungan konsumsi energi bus listrik. Dari hasil perhitungan konsumsi energi, dihitung nilai emisi CO2 dan ditentukan skenario yang sesuai untuk sistem pengisian baterai bus listrik. Melalui pengambilan data diperoleh grafik siklus berkendara bus Trans Jogja jalur 3A dengan jarak tempuh 39623 meter, waktu tempuh 7844 sekon, kecepatan rata-rata 18,2 km/jam, dan kecepatan maksimum 75,6 km/jam. Dari hasil perhitungan berdasarkan data siklus berkendara diperoleh nilai konsumsi energi bus listrik untuk satu siklus bus Trans Jogja jalur 3A berdasarkan skenario dasar, skenario alternatif 1, dan skenario alternatif 2 berturut-turut sebesar 82,74 kWh, 82,55 kWh dan 77,63 kWh sedangkan konsumsi bus ICE setara 88,45 kWh. Emisi CO2 bus listrik untuk satu siklus bus Trans Jogja jalur 3A berdasarkan skenario dasar, skenario alternatif 1, dan skenario alternatif 2 berturut-turut sebesar 22,59 kgCO2, 21,46 kgCO2, dan 16,85 kgCO2 sedangkan emisi CO2 bus ICE sebesar 23,60 kgCO2. Agar dapat memenuhi 6 siklus dalam satu hari operasi dan tidak mengubah penjadwalan, maka diperlukan pengisian baterai jenis Fast DC Charging 100 kW Kata kunci— bus listrik, bus ICE, siklus berkendara,energi,
Transportation sector is the largest consumer of petroleum which consume 277 million BOE in 2012. Beside that, the increasing of energy needs compared to the availability was unbalance. Improving the quality of public transport is one step that can be done to support the changes of transportation mode from private vehicles into public transits. The provision of electric buses is a solution to overcome these problems because it will reduce the emissions and energy consumption in the city of Yogyakarta. Trans Jogja bus driving cycle is measured using GPSmap 76CSx to obtain parameters that will be used for energy consumption calculation. Energy consumption is determined by dynamic model of electric bus. After that, CO2 emissions calculated and charging system scenario is determined. Data processed into driving cycle graph with 39623 m distance, 7844 s travel time, 18.2 km/h average speed, and 75.6 km/h maximum speed. The calculation result show that the value of energy consumption of electric bus for one cycle of Trans Jogja bus line 3A based on basic scenario, security scenario, and mitigation scenario are 82.74 kWh, 82.55 kWh, and 77.63 kWh. While ICE bus energy consumption is 88.45 kWh. CO2 emission of electric bus based on basic scenario, security scenario, and mitigation scenario are 22.59 kgCO2, 21.46 kgCO2, and 16.85 kgCO2. While CO2 emission for ICE bus is 23.60 kgCO2. In order to fulfill 6 cycles in a day operation it needs Fast DC Charging 100 kW. Keywords— electric bus, ICE bus, driving cycle, energy
Kata Kunci : bus listrik, bus ICE, siklus berkendara,energi